Selir Yang Terlupakan
Saat sentuhan pertama menyentuh senar, nada rendah yang dalam dan bergetar seketika memenuhi ruangan—bukan bunyi yang riang gembira seperti yang biasa didengar di jamuan istana, melainkan nada yang membawa kesan dingin, sepi, namun penuh kekuatan yang tak terlihat.
Jari-jariku bergerak melintasi senar dengan gerakan luwes yang lahir dari latihan bertahun-tahun, seolah menari mengikuti irama yang hanya aku yang bisa dengar. Melodi yang kupetik adalah kelanjutan dari puisi yang baru saja kubacakan: tentang musim dingin yang panjang, salju yang menutupi tanah, pohon yang tetap berdiri tegak meski rantingnya hampir patah, dan harapan yang tetap hidup di bawah lapisan es yang tebal.