Bisa-bisanya otak bulusku menghayal untuk mengencaninya.
Biji mataku kemudian bergeser sedikit untuk menatap ke dua sosok gagah yang berbalutkan tuxedo hitam nan elegan. Mereka membuatku terkagum-kagum sendiri.
Aku tidak menyangka, kalau sosok yang tampak lebih muda dan berambut klimis dengan sisiran yang sangat rapi itu adalah Brian. Brian Alvaro. Anak IPS yang sudah duduk di kelas dua belas di sebuah SMA bonafit.
Takut kalau perempuan itu berbuat nekat atau mengurung diri berhari-hari yang menyebabkan dirinya depresi.
Dengan sekali tarikan napas. Akhirnya Vitaloka mengangguk mengiakan ajakan Ika. Ika menuntun Vitaloka menuruni anak tangga. Dada Vitaloka bergemuruh hebat melihat betapa banyaknya tamu yang berkumpul.
Vitaloka menyelipkan anak rambut ke beakang telinga. Merasa risi ketika di tangga terakhir, tatapan para tamu kini tertuju padanya.