Kafan Hitam
Ramdani Abdulgambar sendirian di malam harirenungan sepertiga malammengayuh sepedaujung jalan
Maka benarlah bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang senantiasa mengingat, mencondongkan hati pada-Nya.
Kiai mulai membuka mata. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah pocong-pocong yang tengah mengelilinginya dengan ekspresi marah. Dengan tenang, Kiai mulai berdiri. Tangan kanannya menggenggam erat serban yang tersampir di bahu, dan dengan gerakan cepat memukul kerumunan pocong itu dengan serban.
“Allahu Akbar!” pekik Kiai dengan tubuh memutar. Atas izin Allah, pocong-pocong itu kembali terpental, kemudian menghilang seperti debu tertiup angin.
Beliebte Kapitel