RINTIHAN GADIS KORBAN ILMU HITAM
"Tapi apa, Le?!"
"Dia bukan kuntilanak, Pakde! Wanita itu manusia!"
"Wes, Shraf! Sekarang mandi sana! Siap-siap ngimami sholat maghrib!"
Gegas aku pun mandi, dan bersiap ke Langgar terdekat, tempatku mengajar. Di daerah ini, saat senja memudar dan beralih malam, para warga hampir tak ada yang keluar rumah. Aku hanya menjadi imam para lansia saja. Sedang para pemuda dan anak-anak. Sudah jarang ke mesjid setelah adzan maghrib. Desa ini terletak di perbukitan nan dingin. Jelang malam, hawa dingin serasa menelusup pori-pori. Kabut tebal turun, hingga jelang pagi berangsur memudar. Dingin memang hawanya.
Capítulos Populares