Kisah Cinta sang Kurir
Aku pikir dia agak konyol dan imut-imut, jadi dengan sabar aku jelaskan, "Melatonin bukan obat tidur. Kalau kamu mengeluarkan suara yang begitu keras, tentu saja aku akan bangun."
Wajah Citra memerah hingga leher dan telinganya, dan ekspresi malunya membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Mau tak mau aku mengingat kejadian tadi malam, dan hanya bisa menghela napas. Kak Citra, yang tampak seperti kelinci putih kecil, begitu bersemangat dan tidak terkendali di atas ranjang.
Aku tidak tega membiarkannya disakiti oleh sampah seperti Candra lagi. Jadi, aku mengeluarkan ponselku, mengeluarkan tangkapan layar riwayat obrolan dari malam aku mengantarkan barang, dan bertanya.