Gairah Liar Perselingkuhan
“Maafkan aku untuk semua yang pernah terjadi. Untuk semua rasa sakit yang aku sebabkan.”
Livia hanya menatapku, matanya berkaca-kaca. Dia tak bisa berkata apa-apa.
Lalu aku menciumnya. Ciuman itu adalah ledakan dari sepuluh tahun kerinduan, sepuluh tahun penyesalan, dan juga sepuluh tahun gairah yang terpendam. Bibir kami bertemu dengan tergesa, lidahku menerobos masuk, bertarung dengan lidahnya dalam tarian yang putus asa dan penuh gairah. Ini adalah ciri khasnya, ciuman yang selalu menyentuh jiwa, tapi kali ini dipenuhi oleh rasa perpisahan yang menyakitkan, sekaligus jembatan menuju pengampunan. Livia mengerang dalam, tubuhnya merapat padaku, tangannya mencengkeram erat rambutku yang basa