Dekat di Mata, Jauh di Hati
Akibat sebuah kecelakaan mobil, Evelyn koma selama tiga tahun.
Saat terbangun kembali, semua orang berkata bahwa dia telah berubah.
Evelyn yang dulu selalu suka menempel pada Juan, kini bahkan bisa beberapa hari tidak mencarinya sama sekali.
Ketika mengetahui Juan sakit dan dirawat di rumah sakit, dia hanya menyuruh orang merebus sup ayam lalu mengantarkannya.
Dia tidak pernah bertanya saat pria itu pulang larut malam. Bahkan katanya Juan telah memiliki wanita lain di luar sana, dia juga tidak peduli.
Hingga pada hari itu, saat sedang menonton para model pria menari di sebuah bar, sahabatnya mengirimkan sebuah foto.
Di aula perjamuan yang megah dan mewah, Juan menggandeng tangan seorang wanita, menggendong seorang anak, dan berdiri di pintu menyambut para tamu.
Terdapat tulisan di spanduk elektronik di atas kepala mereka.
[Selamat kepada Juan atas kelahiran putranya. Semoga seluruh keluarga berbahagia dan selalu diberkahi kesehatan ….]
Sahabatnya mendekat dengan penasaran, “Katanya kamu sudah tidak peduli pada Juan. Aku tidak percaya. Dia bahkan sudah punya anak dengan wanita pengganti itu. Apa kamu masih bisa tidak peduli?”
Evelyn mengangkat alisnya. Setelah menyelipkan beberapa lembar uang ke dalam celana model pria itu, dia pun bangkit dari sofa.
“Kok bisa tidak peduli? Suamiku dikaruniai seorang putra. Sebagai istri sah, tentu aku harus datang menjenguk.”