KEMBALINYA SANG RATU
Dari ujung meja, seorang lelaki kulit hitam dari Senegal memperkenalkan dirinya: Mory, pengelana yang menjelajah bumi mencari akar Afrika yang hilang dalam peta globalisasi.
“Saya pernah ke Papua,” ujarnya pada Lintang. “Di sana saya belajar bahwa diam pun bisa menjadi bahasa cinta.”
Lalu seorang gadis muda dari Islandia berkata, “Kami membaca naskah Madrasah Langit secara daring. Kami pikir itu utopia. Tapi melihatmu di sini, kami mulai percaya: ini bukan dongeng.”
Lintang hanya tersenyum. Ia tahu bahwa keyakinan paling sunyi kadang justru paling kuat. Dan malam itu, langit utara seakan menunduk memberi restu.