BAKTI SI ANAK LAKI-LAKI YANG TIDAK DIHARGAI
"Maafkan Ibu, Tur. Selama ini Ibu sudah menyakitimu, tidak bisa lagi dihitung dengan angka, berapa kesalahan ibu terhadapmu."
Aku membiarkan wanita yang telah melahirkanku itu menumpahkan tangisnya di pundakku.
"Tur, apa kamu mau memaafkan Ibu?" Wanita yang kini bejilbab itu mengurai pelukan, kemudian memandang mataku denagn lekat.
Lidahku kelu, tak tahu harus berucap apa, aku hanya mengangguk.
"Terimakasih, Nak. Kamu memang berhati besar, sudah mau memaafkan Ibumu yang dzolim ini." Ibu membingkai wajahku dengan kedua tangan keriputnya.
Chapitres populaires