Istriku Tua
Fani terdiam dan tampak sedang berpikir keras.
"Mas butuh refresing, Dek. Mas bisa stres kalau seperti ini terus, kenapa sih semakin hari hidup kita semakin suram begini? Mas kangen liburan seperti kita masih pacaran dulu. Setiap bulan kamu pasti dinas luar kota dan Mas selalu kamu turut sertakan, Mas kangen masa-masa itu, sayang." Aku menatapnya dengan nelangsa. "Kita liburan ke Pantai Kuta, Bali. Pulau Komodo, Nusa tenggara. Lombok, Jogja, Papua. Ah, hidup kita benar-benar jauh dari kenikmatan."
"Maafkan Adek, Mas." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Fani, aku muak. Dia tak lagi bisa membuatku senang, aku mulai goyah.