Jiwa Yang Tertukar
"Iya, Mas, tidak mengapa. Terima kasih banyak, ya, telah membantu kami."
"Alhamdulillah, kalau sudah sepakat."
Aku berkata lega.
Sementara itu Maryam sudah selesai istinjak. Mas Abraham datang dengan gamis bagian bawahnya ikut basah. Bukan hanya dia, pakain Maryam pun juga basah setengah.
Maklumlah dia baru pertama kali keluar rumah bertepatan dengan anak sulung kami ingin pup.
Ketika Mas Muzakka masuk Masjid hendak Azan Zuhur, Arina masuk ke kamar mandi hendak berwudu, istriku keheranan. Sebab ia masih belum tahu misi kami.