Mabuk Janda
Tidak ingin terlihat baper beneran di depanku.
“Kalau Mbok bersedia, kita nikah saja.” Kalimat itu begitu mudah meluncur dari mulutku. Refleks dari hati.
“Mas, becanda saja. Jadi pesan minumnya?” Sekuat mungkin wanita itu bersikap biasa. Padahal, aku tahu kalau hatinya sedang bergemuruh.
“Latte vanilla saja Mbok dua. Jangan dengerin temen saya ini. Lagi teler dia.”