Rayuan Maut Para Tetanggaku
Kami masuk, dan perjalanan menuju salon memakan waktu sekitar lima belas menit.
Sepanjang jalan, Mbak Dini sesekali melirikku, tersenyum kecil, tapi aku berusaha fokus ke jendela, melihat lampu-lampu kota yang berlalu.
Sampai di salon, aku langsung terpukau. Bangunannya megah, tiga lantai dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya lampu neon berwarna pink dan biru.
Tulisan “Dini’s Beauty Lounge” menyala besar di atas pintu masuk. Dua penjaga keamanan berdiri di depan, mengenakan seragam hitam, mengangguk hormat saat Mbak Dini lewat.