Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu
Saat pengisian pilihan perguruan tinggi, semua orang mengerubungi adik kembarku sambil sibuk memberikan saran.
Kakakku menunjuk kode universitas di urutan paling atas.
“Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkatku. Nanti Abang yang jagain kamu.”
Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya.
“Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.”
Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju.
“Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.”
Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi.
“Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.”
“Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala.
Sahabat masa kecilku pun mulai mengomel seperti biasa.
“Tinggal setengah jam lagi batas pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.”
Sedikit demi sedikit, genggamanku pada buku panduan pendaftaran itu semakin mengencang.