Pelakor Itu Ternyata Bawahanku
Sesampainya di parkiran, aku pamit untuk pulang saja, karena Mas Juna pasti sudah menungguku.
"Maaf ya, Paman. Mungkin lain kali," ujarku tak enak.
"Oke. Tapi janji, ya. Ada banyak hal yang ingin Paman bicarakan sama kamu," sahut paman.
"Iya, Paman. Kalau ada waktu, kapan-kapan Wulan datang ke kantor Paman."
"Paman tunggu. Sekarang pulanglah, suamimu pasti sudah menunggu."
"Iya, Paman, sekali lagi terima kasih banyak." Aku lalu menjabat tangannya dan menciumnya dengan takzim.