Wina Gadis Penari
"Terus bagaimana dengan Tegar? Dia sudah nggak mau sama siapa-siapa lagi sekarang. Bahkan sama kamu saja dia suka marah. Kalau kamu di rumah sendirian sama mereka, malah kuwalahan ngurus dia. Belum kalau Rio dan Rena bertengkar atau rewel. Sudahlah, kita di rumah saja. Kalau tujuh harinya Pakdemu, baru kita ke sana sama-sama."
Wina pun mengangguk pelan, ikut duduk sambil menuang teh hangat yang sudah tersedia. Menyesapnya perlahan, menghirup aroma melatinya. Harum melati ... mengingatnya pada seseorang di masa sekolahnya. Evi Maharani, guru tarinya, yang sangat suka dengan bunga warna putih ini.
"Bu, apa aku boleh ikut menari lagi?" tanya Wina dengan hati-hati.
Bab Populer