Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kebahagiaan Kecilku

Kebahagiaan Kecilku

Dia tampak berat melepaskan semua kenangan yang ada di dalam rumah itu, tersirat beratnya tarikan napas yang dia lakukan ketika menatap rumahnya untuk yang terakhir kalinya. “Ayo yah! Nayara udah nunggu!” ajak istrinya, Rahmi. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu suaminya yang menegang. “Ayo!” setujunya. *** Nayara dan keluarganya sampai di rumah lama mereka. Rumah di mana Nayara pernah menghabiskan masa kecilnya hingga umur lima tahun. Tampak sekali rumah yang sudah tua namun tak usang karena sehari sebelumnya, ayah Nayara meminta tolong pada kerabatnya untuk mrmbantu membenahi rumah lamanya dengan upah yang sepadan.
104.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 152 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN

ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN

tegas Ar memberi peringatan. "Siap, Pak Komandan ... Hehehe." Ketika sedang cengengesan, itulah candu baginya dan membuat Ar selalu rindu sosok gadis mungil yang baginya seperti bocah, meskipun usianya sudah dua puluh satu tahun dan telah menikah. "Oh, iya. Selain mangga muda, aku juga membawakan buah-buahan yang lain. Cocok untuk dibikin Petisan," sambung Ar seraya menarik hidung adik kecilnya.
1013.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 364 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Tempat ini cukup jauh dari desanya, tetapi ia merasa perjalanan ini setara dengan ilmu yang akan ia dapatkan. Di sekolah, ia segera menarik perhatian guru dan murid-murid lainnya. Saat pelajaran sastra dimulai, gurunya, seorang pria paruh baya yang dikenal bijaksana, membaca puisi lama tentang kepahlawanan. Guru: "Sastra bukan sekedar untaian kata. Ia adalah cermin jiwa dan perjalanan zaman. Nah, siapa di antara kalian yang dapat menjelaskan makna bait pertama ini?"
1012.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 336 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Gadis Kecil di Pelaminanku

Gadis Kecil di Pelaminanku

GADIS KECIL DI PELAMINANKU 2 Membaca pesan yang tidak lengkap dari ponsel Mas Daffa, membuatku mengingat kembali mimpi yang begitu terasa nyata. Di mana, seorang gadis kecil yang datang ke pelaminanku. ***
9.522.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 527 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Istana Dengan 2 Ratu

Istana Dengan 2 Ratu

kali ini pertanyaanku berhasil, Askara melihat ke arahku namun tidak sepatah kata pun dia ucapkan Ia hanya menatapku tajam seolah memberi isyarat untuk diam Tapi aku berusaha untuk terus berbicara agar sedikitnya dia juga mau berbicara padaku. " dulu waktu aku kecil aku pernah bertemu seseorang lalu aku menulis dia dalam sebuah puisi Aku pikir aku hanya cukup Menulis satu puisi untuknya ternyata tiap malam menjadi kebiasaanku untuk menulis satu puisi untuk dia, kau tahu laki-laki yang aku tulis dalam puisi itu menjelma menjadi pangeran impianku Aku sama sekali tidak mengenal laki-laki itu Aku tidak tahu sifatnya, Aku tidak tahu cara dia bicara, Aku bahkan juga tidak pernah menatap matanya, A
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
KESAKSIAN PUTRI KECILKU

KESAKSIAN PUTRI KECILKU

"Sialan anak itu. Rupanya dia hidup bahagia tanpa aku! Awas saja ya, jangan harap kamu bisa hidup bahagia dengan meninggalkan ibu tirimu ini, Sum!" Tatik terus mengamati rumah Sumi yang kafenya sedang ramai dengan pembeli. Mendadak ada anak kecil yang muncul dari luar pagar rumah Sumi. Selintas ide muncul di pikiran Tatik, dengan segera dia mendekat ke arah anak kecil yang wajahnya mirip dengan Sumi. Tepat saat dia hendak meraih anak kecil yang baru berumur 1,5 tahun itu, terdengar suara dari belakang nya.
1020.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 487 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

"Siapa yang tidak tahu tentang gaya reguler? Nomor satu dalam gaya reguler. Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak punya hak untuk mengikutinya!!" Lu Xiao terus mengabaikannya dan hanya mengambil kuasnya. *"Pasir padang gurun seputih salju, bulan di Gunung Swallow seperti kail.* *Ia memiliki otak emas. Segeralah melangkah di bawah musim gugur yang jernih."* Itu adalah puisi *Ma Shi* karya penyair Li He. Hanya dua baris, namun mengandung rasa kesunyian padang gurun yang mendalam.
107.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 258 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Air Mata si Kupu-Kupu Malam

Air Mata si Kupu-Kupu Malam

Satu kenangan terburuk masa kecilnya pun seketika terlintas di ingatan. Waktu itu Laura masih kecil, berusia lima tahun. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mama kandungnya dipukuli oleh ayah tirinya. "Ampun, Mas, ampun! Aku nggak melakukannya!" Mama Laura duduk tersungkur di lantai, mengangkat kedua tangannya, demi melindungi diri sembari memohon agar tidak dilecuti.
10902 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Ketika Luka Lama Kembali Menyapa

Ketika Luka Lama Kembali Menyapa

Kilasan Masa Lalu Di tengah presentasi, pikirannya melayang ke masa lalu. Saat ia menulis puisi di kamar kecil penuh tangis. Saat Rayden pernah membaca salah satunya, lalu pergi tanpa kata. Saat Amara dulu berdiri sebagai bayangan yang lebih berkilau. Dan kini, ia ada di sini. Bukan lagi bayangan.
101.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi masa kecil
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status