SUAMI YANG DIHINA KELUARGAKU
“Mulai malam ini, kamu tidur di teras. Aku siapkan tikar dan kopi. Kalau ada suara aneh, atau orang mendekat pagar, langsung bangunkan aku.”
“Siaap, Mas.”
Pagar itu kini berdiri kokoh. Tingginya hampir dua meter, mengelilingi rumah Yitno dari depan hingga ke belakang. Besi-besi hollow berdiri tegak, dicat abu-abu gelap. Di bagian depan, pintu pagar dilengkapi gembok besar dan rantai pengaman. Dari luar, rumah itu tampak seperti benteng kecil yang tertutup rapat—berbeda sekali dari rumah-rumah lain di dusun itu yang terbuka dan ramah pada siapa pun yang melintas.