MENANTU TANPA RESTU
"Nad, jangan pernah mikir gitu. Kamu nggak salah. Kamu berhak bahagia dengan jalanmu. Dan aku ada di belakangmu, apa pun yang orang bilang."
Nadin menatap suaminya, air mata hangat menetes. "Aku cuma takut, Ram. Takut Ibu nggak pernah bisa melihat aku apa adanya. Aku takut kehilangan restunya."
Rama menggeleng, matanya penuh tekad. "Kalau restu artinya kamu harus disakiti terus, aku lebih pilih kita berjuang dengan doa. Aku yakin, kalau kita tulus, Allah sendiri yang akan lembutkan hati Ibu suatu hari nanti."
Chapitres populaires