Penyesalan yang Terlambat
Aku cuma bisa tersenyum pahit, memang sudah waktunya aku melepaskannya.
Setelah menenangkan diri, aku bersiap untuk berangkat kerja, namun ponselku tiba-tiba berbunyi.
Telepon itu dari ayah Yuna. Suara di telepon sangat berisik, dan ibu Yuna terdengar berteriak dengan suara tinggi.
Suara ayah Yuna agak gemetar dan lemah. "Sandy, aku minta tolong padamu. Kami lagi ada di Graha Senja, datanglah sebentar."