Wiro sang Penakluk
Kamar mandi hotel kecil tapi bersih—shower sederhana dengan kepala pancuran bulat, dinding keramik putih yang sudah agak kusam, tapi air panasnya mengalir deras.
Wiro membuka keran lebih dulu, mengatur suhu sampai hangat pas—tidak terlalu panas, cukup untuk membuat uap tipis naik dan membungkus ruangan kecil itu dengan kelembapan lembut. Air mulai mengalir, suaranya gemericik tenang memenuhi kamar mandi yang sempit. Kemuning masuk lebih dulu, berdiri tepat di bawah pancuran. Air langsung membasahi rambutnya yang panjang, mengalir deras dari ubun-ubun ke leher, ke bahu, ke dada—tetesan hangat menyentuh kulit yang masih sensitif, membuatnya menggigil kecil karena sensasi yang menyenangkan.