KARMA
Setelah sukses kuletakan alat itu dengan hati-hati, aku pun menyusul Mas Lingga keluar.
"Ehem." Aku berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka. "Kamu sednag apa Mas di dalam apartemen sama Asta? Tadi aku sudah bertanya tapi kamu tidak jawab," ucapku menautkan alis. Mas Lingga melirik Asta sambil menelan air liur. "Client aku Asta. Dia akan jadi model di perusahaan," ujarnya. Aku hanya tersenyum simpul. Namun jika Mas Lingga bisa berpikir normal, jelas senyumku bermakna merendahkan. "Kau sakiti aku, Mas! Kau hianati cintaku, kau sia-siakan pengorbananku. Aku akan membalas dengan menghancurkan reputasimu dan keluarga sombongmu. Keluarga yang selalu memandang rendah kesalahan orang lain, seaka
Chapitres populaires