Warisan Artefak Kuno
Wajahnya memerah, tapi ia menahan diri dan membalas salam dengan sopan, menangkupkan kedua tangan di depan dada, dan menunduk dengan hormat.
“Ah... Pendeta Yunho.” Suaranya rendah, penuh kesopanan. “Iman Tao yang sederhana ini tidak pantas disebut sebagai praktisi sehebat itu. Ilmu bela diri Pindao hanya gerakan Taiji, sekadar untuk melemaskan otot dan tulang, tidak lebih.”
Angin laut yang dingin bertiup kencang, menghantam wajah mereka berdua, membawa aroma garam yang tajam. Langit pagi masih diselimuti kegelapan, dengan hanya segaris cahaya di ufuk timur.
Chapitres populaires