Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
BERSAMANYA

BERSAMANYA

Merasa sedikit canggung, Huo Mian berdiri untuk pergi. "Mian," panggilnya. Mungkin karena dia terlalu gugup, saat dia berbalik, tangannya gemetar dan secangkir air panas mendidih yang dia pegang meluncur ke tanah. Saat ini adalah awal musim panas dan Huo Mian mengenakan sepatu yang sangat tipis. Jika air mendidih mengenai mereka, itu mungkin akan melepuhkan kakinya.
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 111 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Air mata yang Kutumpahkan

Air mata yang Kutumpahkan

Berusaha mencari kesibukan di tengah rasa salah tingkahnya. Rasya mengulum senyum. Ia memang sengaja mengunakan kalimat yang provokatif demi menetralisir kesedihan yang membayangi kedua mata Keira. Ia tidak ingin Keira semakin terpuruk dan kian meratapi kesedihannya. Menangis, oke. Bersedih, wajar. Namanya juga sedang tertimpa musibah. Kebingungan dan ketakutan tidak akan bisa melewatinya, pasti akan melelahkan jiwa raga. Menangis adalah pembasuh jiwa yang paling dasar. Setelah air mata dan emosi tercurah, biasanya orang akan sedikit lega. Sering berinteraksi dengan berbagai macam sifat manusia, membuatnya sedikit banyak memahami tentang naik turunnya tingkatan emosi seseorang.
1091.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebening Tirta

Sebening Tirta

Mendengarkan setiap kalimat dengan seksama. Hingga sampai pada satu sesi, instingku mulai menyadari ada hal menarik yang tersembunyi di dalam hingar-bingar ini. Permainan yang seru, kepada kalian kuucapkan ‘selamat datang di negeri Neo Metanesia’. Suatu negeri di atas bumi yang mulai resah sebab wabah yang tak tertangani.
9.33.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 109 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

##SEASON 2 **BAB 25: Anak-Anak Arwah Baru** ### **PART 1: “Mereka yang Tumbuh dari Dunia yang Tak Sempat Jadi”** Langit belum benar-benar gelap saat kabut tipis mulai bergulir dari arah timur. Tapi ini bukan kabut biasa—bukan uap air, bukan sisa hujan. Ini adalah **embun dari mimpi-mimpi yang belum selesai.**
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
TEROR SINDEN GHAIB

TEROR SINDEN GHAIB

Justru membuat pikiran melayang ke arah yang tak diinginkan. Embun duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Pandangannya tertuju ke lantai, mengikuti garis-garis air yang merembes dari bawah pintu. Setiap tetes seperti menghitung waktu—menunggu sesuatu terjadi. “Kamu dingin?” Bulan menyodorkan jaket. Embun menggeleng, tapi tetap menerima jaket itu. “Makasih.”
846 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Panglima Kalamantra

Panglima Kalamantra

Telapak tangan gadis itu terbuka untuk merasakan embun dingin yang menyegarkan. “Embun? Perasaan apa ini? Aku tak bisa mengingat apa- apa, tapi embun ini seakan mengungkapkan sesuatu yang lain padaku. Dekat dan mistis.” Di luar, kabut cukup tebal. Dia tak bisa melihat itu semua. Dia bahkan tak membayangkan sejauh dan sepanjang apa pasukan gabungan dari utara itu berjalan dalam iring- iringan. Tangannya terulur kembali ke luar jendela. Setetes embun jatuh ke telapaknya dari dahan- dahan pohon yang mereka lewati.
105.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 155 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
TITISAN

TITISAN

tanya Faisal polos membuat kawannya menoleh. “Mustika adalah suatu benda yang terbentuk oleh alam. Biasanya dibentuk oleh unsur tumbuhan, binatang, tanah, air, api, udara, atau mineral lainnya.” Penjelasan Asep membuat Faisal terbelalak. “Pinter juga kamu ya, Sep,” puji Faisal. Asep mengangkat alis sambil senyum. “Aing tea ... Asep gitu, loh.”
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Suami Warisan

Suami Warisan

Embun menetes, meluncur dari permukaan daun dan jatuh ke tanah yang basah. Langit biru cerah dengan awan seputih kapas berarak. Ini hari yang baru. Narendra tidak mau menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan oleh alam. Dia menoleh ke sebelahnya dan menangguhkan keinginannya untuk buang air kecil ketika menatap wajah Rengganis yang masih larut dalam mimpinya.
10157.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.8K kali sebagai tetesan embun
Tampilkan Ulasan (58)
Baca
+Pustaka
Ketut Martini
suami warisan...dari judulnya aza udh bikin penasaran.. seseorg yg mendapat warisan seorg suami?... setlah baca..waah...dari bab 1 smpe bab skrg udh ke 40 smakin aku jatuh cinta ...tokoh narend yg macho habis..trus rengganis pastinya gemoy banget..klop dech mreka berdua.. thor sera emg paling top.......
Mo Xiang Liu Yun
[...6] Saya baru pernah baca novel Indonesia sebagus ini, ceritanya lain daripada yang lain, bacanya engga mau udahan, selalu penasaran pengen tahu kelanjutannya, susah move on. Untung akhirnya Narendra jadian sama Rengganis jadi engga bikin kecewa. Di bab terakhir seharusnya ada Narendra menikah res
Baca Semua Ulasan
She is Not My Sugar Mommy

She is Not My Sugar Mommy

“Aku melakukannya untuk diriku sendiri, coba pikir! Bagaimana bisa aku hidup selamanya dengan pria dingin seperti Rain, amit-amit.” “Rain tidak seburuk itu,” gerutu Embun membela pria itu. “Lagi pula a-ku.” Bening menjeda kalimat, dia mengembuskan napas sebelum meletakkan mi miliknya. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan kepada Embun. “Apa ini?” Embun bingung, awalnya dia pikir itu semacam alat untuk menditeksi pengguna narkotika, tapi setelah dilihat dengan jelas dia tahu benda itu adalah tespek.
10153.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.0K kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Embun Cinta

Embun Cinta

Apakah ada yang aneh dengan hatiku? Tiba-tiba gerimis pertama telah jatuh pada bumi. Aku buru-buru kembali pulang. Dua tetes mengenai kepalaku, aku berusaha menepisnya dengan kedua tangan di atas kepala. Ketika aku sampai di teras rumah, hujan deras telah terjadi. Dedaunan membunyikan suara khasnya ketika kejatuhan air hujan. Aku duduk di kursi putih depan rumah, menyaksikan burung-burung beterbangan kembali pulang, atau sekadar mencari tempat berteduh. Para pengendara motor menggunakan mantel. Aku menjadi ingat dengan Adi yang pernah aku satu mantel dengannya.
105.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status