Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dua Sisi

Dua Sisi

Lupakan Embun ya, Bang? Embun menatap Anak Dewa dari balik tirai air mata. Tidak mudah untuk mengucapkan kata-kata berpisah di saat sedang cinta- cintanya. Dada rasanya mau meledak dan air mata ingin mengalir sendiri saking sesak dan sedihnya perasaan.
1029.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 953 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota

Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota

Sepuluh benang tipis seperti kapas mengambang keluar dari ujung-ujung jarinya, warnanya lebih putih dari salju, lebih tipis dari helai rambut manusia. Begitu benang-benang itu muncul di udara, suhu di seluruh area itu turun drastis. Bukan pelan-pelan. Tiba-tiba. Seperti seseorang membuka pintu ruang beku di tengah siang terik. Embun beku muncul di permukaan batu-batu di bawah. Napas beberapa anggota Aliansi yang paling dekat mengepul menjadi uap putih.
1051.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai tetesan embun
Tampilkan Ulasan (15)
Baca
+Pustaka
ARYA_RELOAD
aneh cerita lelang nya masa iya si Rian nawar barang 4 00M sampai 1,6 triliun dia sendiri yg naikin wkwkwk normal nya kan harus nya ada lawan yg naikin harga baru Riyan lawan naikin harga, lah ini Riyan sendiri yg naikin harga kan koplak wkwkwkwk
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Baca Semua Ulasan
Dicampakkan Setelah Melahirkan

Dicampakkan Setelah Melahirkan

Hiks, hiks, hiks Embun menangis karena merasa kemalangan selalu menimpa hidupnya. Untuk menghilang jejak sentuhan Danar pada tubuhnya, Embun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia pun membersihkan dirinya malam itu kendati air yang membasuh tubuhnya terasa sangat dingin menusuk kulit.
1036.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 829 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Tebusan Sang Don Kejam

Tebusan Sang Don Kejam

gumamnya pelan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, punggungnya bergetar hebat karena tangisannya. Gwensa mengusap lembut pundak sahabatnya. “Kae, tenanglah, kita akan mencari solusinya bersama. Kau bisa menggunakan tabunganku, meskipun tidak banyak, tetapi lumayan untuk menambah kekurangannya.” Kaera menggelengkan kepalanya. Gwensa sama seperti dirinya, hidup masih serba kekurangan, tentu saja dia tidak ingin membebani sahabatnya.
71 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Lembah Awan Berkabut

Lembah Awan Berkabut

Bab Ekstra: Badai di Dalam Surga – Bagian 2: Retakan di Dinding Surga Hari-hari berikutnya di Lembah Awan Berkabut terasa seperti memegang segelas air yang terlalu penuh, di ambang tumpah. Di permukaan, semuanya tenang. Para pengungsi tinggal di paviliun tamu mereka, menerima makanan dan perawatan dari tim An-Mei. Para murid melanjutkan rutinitas mereka. Namun di bawah permukaan, riak-riak ketidakpercayaan terus menyebar, menciptakan retakan tak kasat mata di dinding lembah
1.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Tumbal Purnama

Tumbal Purnama

tanyanya panik. Bima mengeluarkan kertas tua yang diberikan oleh Pak Surya sebelum mereka pergi. Gambar lingkaran dengan simbol-simbol aneh tergores di sana, bersama sebuah kalimat: "Di tempat akar pertama tertanam, di sana perjanjian ditulis." “Tempat akar pertama...” gumam Bima. “Mungkin pohon tua di ujung hutan ini. Kakek sering menyebutnya sebagai tempat asal keluarga kita.”
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sinar matahari masuk dan menyinari tubuh tak bernyawa itu. Udara dipenuhi oleh bau busuk yang sulit digambarkan, begitu menyengat hingga membuat orang sesak. Kulitku sudah berwarna hijau keabu-abuan yang tampak tidak sehat, membengkak sampai sulit dikenali bentuk aslinya. Jaringan otot di sekitar lukaku telah terurai menjadi cairan nanah yang kental.
8.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 185 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

Mengenang semua itu kembali menimbulkan perasaan sesak dalam dadanya. Pusing menerpa Citra, walaupun ia tak tahu apakah itu karena panas matahari atau hanya kesedihan. Hanya ketika ia tersadar Andine menatapnya lekat-lekatlah yang membuat Citra menyadari pipinya terasa basah. Oh, tidak... Dengan susah payah ia berusaha mencari tahu bagaimana air mata itu muncul tanpa ia sadari, lalu melihat tatapan bermusuhan Andine berubah menjadi kernyit bingung.
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebelum Hujan Membasahi

Sebelum Hujan Membasahi

Chelsi hanya memalingkan wajah, dan kulihat pipinya basah oleh air mata. "Beb!" Dia sama sekali tak mengubris panggilanku. Dia hanya tersedu sedu menahan tangis, tanpa berucap sepatah kata. Aku lanjutkan saja membuka kertas itu. Dan boom, rasa seperti tersayat seribu pedang tumpul, bagai tersambar petir yang menggelegar menyambar. Aku terdiam, gemetar tak karuan. Demikian pula dengan Chelsi, sesekali tatapan matanya kepadaku menambah duka yang tak terencana.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status