Tiga Mayat Satu Takdir
Labirin itu terasa hidup, bergetar pelan seolah memiliki napas sendiri, siap menyesatkan siapa saja yang tak memiliki pengalaman atau kemampuan untuk menemukan jalan keluar.
Kael melangkah di depan, matanya biru menyipit mencoba menembus bayang-bayang yang tebal. “Lorong ini terlalu banyak,” katanya pelan, suaranya rendah namun teguh. “Kalau kami salah pilih, mungkin tak pernah keluar.” Sarah mengangguk di sisinya, Mata Sihir-nya menyala samar, energi ungu berkilau di pupilnya saat memindai dinding-dinding berliku. “Aku rasa ini bukan labirin biasa—ada sesuatu yang mengacaunya,” ujarnya, nadanya tenang namun penuh kewaspadaan.
Bab Populer