Rayuan Maut Para Tetanggaku
suara Alisa terdengar riang namun ada nada terburu-buru yang khas.
"Sudah, Lis. Kenapa pagi-pagi begini telepon? Ada apa di rumah?" tanyaku sambil menghirup udara pagi Jakarta yang masih menyisakan sisa hujan semalam.
"Toko Ibu ramai banget, A! Ada kiriman barang dari Jakarta yang datangnya barengan sama jadwal pasar subuh. Ibu kewalahan tapi dia senang banget, senyum terus dari tadi. Alisa baru selesai bantu bongkar muatan beras. Tadi Ibu pesan, kalau Aa berangkat hari ini, jangan lupa bawa dokumen surat izin usaha yang baru itu, mau dipajang di dekat kasir katanya biar toko kita makin resmi."