Kehidupan Ketiga Sang Villainess
Bagaimana mungkin seorang gadis manusia yang mereka kira hanya penyihir cahaya biasa memiliki kekuatan untuk berbagi rasa sakit dengan seorang Iblis?
"Lihat itu..." Tetua Galon berdiri dari kursinya, matanya penuh kecurigaan. "Sihir itu, yakni ikatan itu terlalu murni. Tidak mungkin seorang manusia biasa bisa melakukannya."
Ibu Agung Elara menyipitkan mata peraknya. Cahaya putih yang memancar dari tubuh Aurelia mulai berubah warna. Bukan lagi putih keperakan layaknya sihir manusia, melainkan emas redup yang hangat, yaitu warna yang sangat familier bagi ras Elf, warna yang menandakan garis keturunan bangsawan tinggi.