Poor Fatma
Hmm, Bapak menangis mengingat istrinya telah berpulang ke pangkuan Ilahi, sedangkan aku baru menikmati malam kesatu kelahiranku.
“Ibumu cantik, sama seperti dirimu, Fatma. Kelak, walau bapak tak bisa berbuat banyak untukmu, jadilah wanita baik-baik.” Begitulah setiap hari Bapak menasihati.
Bapak bukan pria kaya yang siap setiap saat meladeni kemauan putrinya. Aku harus menerima apa adanya bapakku sebagai seorang tukang angkut sampah. Tak ada namanya baju-baju ala princess di perayaan ulang tahunku. Mana pula ada uang lebih untuk membeli mainan kesukaan atau makanan yang membikin liur menetes? Bahkan, aku harus puas makan bangku sekolah sampai kelas enam.
Bab Populer