Bab 8: Air Mata di Kamar Kami
Nuansa yang aku bangun untuk Ismi ternyata berhasil. Gadis itu seakan paham jika yang aku inginkan pagi ini adalah mengulik habis semua jarak yang masih ada di antara kami berdua, membuka tirai yang memisahkan kami dan menyelami sisa hidup dengan baik setelahnya.
Kami berciuman cukup lama hingga terasa bibir istriku basah. Dia juga terengah, mungkin gagal mengatur napas atau terkejut karena serangan dari suaminya.
SISA CINTA UNTUK ISTRIKU 1
"Mas, pakaian untuk kerja aku gantung, celananya ada di rak paling atas. Pakaian dalam ada di lemari laci, ya. Jangan lupa." Selalu itu-itu saja yang dia ucapkan saat sedang berdua denganku di dalam kamar.
"Hmmh." Aku hanya memberikan jawaban singkat.