Raina
“Maaf saja tidak cukup untuk menebus hidupku yang sudah hancur. My hearts breaking and I don't know what to do. I am so desperate.”
Lalu kembali hening. Ck, ternyata menghilangkan suasana canggung itu tidak semudah menjentikan jemari. Kubiarkan kesunyian malam menjadi pemenangnya.
Aku terkesiap saat jemari Raka menyentuh punggung tanganku. Mereguk air liurku susah payah, tubuhku bereaksi saat untuk pertama kalinya kulit kami kembali bersentuhan. Aku memandang jemari Raka sejenak sebelum mengangkat kepala untuk melihat wajahnya. Wajah Raka masih setenang tadi, tapi aku menangkap sorot kepedihan dari bola matanya. “Maafkan aku, Rain.”
Chapitres populaires