Chapter: Bab 81Pada akhirnya, Anya memilih ikut bersama Arum. Di dalam mobil Alphard itu juga sudah ada beberapa anggota keluarga lain yang tampaknya datang terlambat, sehingga mereka bergabung dalam rombongan Arum.Anya menunduk menatap bayinya yang terlelap pulas di dalam gendongannya. Syukurlah, si kecil tetap tenang sepanjang perjalanan. Ia tidak menangis ataupun rewel, membuat Anya bisa sedikit bernapas lega di tengah suasana yang terasa canggung.Perlahan matanya melirik semua orang yang diam membisu. Mereka seakan sudah kelelahan hingga tidak bicara apapun.Matanya beralih melihat perempuan yang menyetir dengan Arum yang duduk di samping. Perempuan itu terlihat tertutup dengan jaket dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.Perjalanan telah berlangsung lebih dari satu jam lebih. Setelah melewati jalan tol menuju Bandung, mobil akhirnya keluar dan melanjutkan perjalanan di jalan raya seperti biasa.Namun, tak lama kemudian suasana mulai berubah. Mobil memasuki kawasan yang diapit hutan
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: Bab 80Tanpa meminta persetujuan Arum, bahkan tanpa menghiraukan tatapan marah dan ketidaksukaannya, sang mertua justru mengajak Anya bergabung bersama keluarga besar mereka.Bukankah seharusnya mereka mengusir perempuan itu? Membiarkannya datang ke acara keluarga saja sudah keterlaluan, apalagi dengan begitu percaya diri membawa bayi itu, seakan sengaja ingin menarik perhatian dan simpati semua orang yang hadir.Rahang Arum mengeras. Ia tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan itu. Dengan wajah yang dipenuhi amarah, ia bangkit dari duduknya, lalu melangkah menjauh sambil mengutak-atik layar ponselnya untuk menghubungi seseorang.“Kamu datang ke sini segera. Rayden membawa perempuan itu ke mansion.”“What? Beneran Tante?” ucap orang diseberang sana.“Makanya kamu datang ke sini.”“Baiklah. Tunggu saja, sebentar lagi aku akan sampai yang ke sana.”Arum menyimpan kembali ponselnya setelah panggilan telpon selesai. Ia kembali ke perkumpulan di mana orang-orang masih mengerumuni Anya, untuk meli
Terakhir Diperbarui: 2026-07-28
Chapter: Bab 79Raut canggung begitu kentara diwajah Anya. Ia tampak tegang dan merasa tak nyaman saat Rayden masih di sini, setelah apa yang terjadi. Laki-laki itu duduk berseberangan dengan dirinya dan begitu memperhatikan dirinya. Bahkan ia tidak bisa menikmati makanannya. “Mas Rayden… kenapa melihatku seperti itu. Mau makan?” tawar Anya yang sebenarnya hanya sekadar basa basi. “Aku tidak lapar. Hanya saja, aku ingin pernikahan kita bisa dipercepat dan—” “Mas…” Anya buru-buru memotong ucapannya. “Sebaiknya jangan bahas itu dulu.” Rayden mengernyit. “Kenapa, Anya? Apa kamu tidak menginginkannya?” Anya menggeleng pelan.“Bukan begitu, Mas. Aku juga menginginkannya. Hanya saja, untuk saat ini lebih baik kita fokus pada anak kita dulu.” Rayden menghembuskan napas panjang. “Justru karna itu aku ingin pernikahan kita dipercepat. Aku tidak mau terus menjaga jarak seperti ini. Kita belum benar-benar sah, dan kamu selalu membatasi setiap kali aku ingin lebih dekat.” Anya terdiam. Bibirnya ber
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: Bab 78Cahaya dari lorong langsung menerpa wajah Kevin saat pintu kamarnya dibuka oleh sang ibu. Namun, laki-laki itu tak bergeming. Ia tetap duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong seakan kehilangan arah."Kevin, kamu baik-baik saja, kan, Nak?" tanya Misra seraya menghampirinya.Wanita paruh baya itu kemudian duduk di samping putranya. Dengan penuh kasih, ia mengusap bahu Kevin.“Bagaimana kalau aku yang tidak bisa memberikan anak?”“Kamu itu bicara apa, Kevin. Maksudnya mandul?” Raut wajah Misra langsung mengeras.Kevin menoleh pada ibunya dengan tatapan rapuhnya.”Aku hanya takut, kalau sebenarnya memang aku yang mandul.”“Kamu jangan bicara seperti itu. Justru mereka saja yang lambat sekali hamil. Ibu yakin, itu anakmu. Hanya Anya saja yang berusaha menyembunyikan semua ini.”“Sudahlah, Bu. Aku tidak ingin menelan harapan mentah.”“Lho, Ibu bicara yang sebenarnya, Vin. Kamu jangan lemah jadi laki-laki. Terus juga, Yulia kenapa semakin hari semakin berani dengan Ibu?”Mendengar nama is
Terakhir Diperbarui: 2026-07-25
Chapter: Bab 77Keduanya akhirnya sampai di unit apartemen mereka. Begitu masuk ke dalam sudah ada Arum yang ternyata sudah datang lebih awal. Wanita paruh baya tengah duduk di sofa dan menikmati jamuan yang diberikan oleh bi Jumi. “Cepat sekali, Ma. Aku kira Mama datangnya nanti,” ucap Rayden sambil berjalan mendekat sang mama. Sementara itu, Anya hanya berdiri terpaku beberapa saat. Tatapannya tertuju pada Arum dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, ia akhirnya melangkah mendekati wanita paruh baya tersebut. Anya tersenyum menyapa Arum. Namun, wanita paruh baya itu hanya melirik sekilas sebelum mengalihkan pandangannya, seakan kehadiran Anya tak berarti. Mendapat sambutan sedingin itu, Anya hanya mengulas senyum tipis lalu memilih melangkah menuju kamar. Ia sadar, di mata Arum, keberadaannya masih belum dianggap. Dan Anya pun mengerti alasan di balik sikap dingin wanita itu terhadapnya. “Anya, mau ke mana?” tegur Rayden saat perem
Terakhir Diperbarui: 2026-07-23
Chapter: Bab 76“Jawab, Anya! Apa kamu mengandung anaknya saat masih menjadi istriku?” Suara Kevin menggelegar, dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menyorot tajam ke arah Anya. Tangannya terulur hendak mencengkram pergelangan tangan Anya. Namun, sebelum sempat menyentuhnya, Rayden dengan sigap menepis tangan Kevin dan berdiri di depan Anya, menghalangi laki-laki itu mendekati perempuan yang kini berada di belakangnya. “Kalau memang itu kenyataannya, lalu kamu mau apa?” tanya Rayden dengan tenang, tetapi sorot matanya tajam. “Apa kamu lupa, Kevin? Sejak awal kamulah yang mengkhianati Anya. Kamu berselingkuh saat masih menjadi suaminya. Jadi, atas dasar apa kamu menuntut kesetiaan darinya?” Napas Kevin memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang kian bergolak. “Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kebaikan,” lanjut Rayden tanpa gentar. “Lucunya, orang yang paling lantang menuntut kesetiaan justru orang yang lebih dulu berkhianat. Bukankah itu terdengar munafik?”
Terakhir Diperbarui: 2026-07-22
Chapter: Bab 81Empat tahun kemudian …Suara tawa dan teriakan anak kecil mengisi sebuah kamar yang memiliki tiga kasur di dalamnya. Dua bocah berusia empat tahunan tampak berlari-larian dalam sana, mereka saling mengejar membuat sang kakak yang tengah fokus mengerjakan PR terlihat sangat terganggu."Jeva, Javier! Jangan teriak-teriak, kakak sedang mengerjakan tugas," tegur Levin lembut.Meskipun begitu, dua bocah kembar itu tak menggubris bahkan semakin menjadi-jadi membuat Levin frustasi dibuatnya. Levin yang kini berusia sepuluh tahun, tampak menggelengkan kepalanya. Dua adik kembarnya bukan hanya lucu tapi juga nakal.Levin membawa buku-buku pelajarannya keluar dari kamar. Ia akan mengerjakan tugasnya di perpustakaan pribadi milik ayahnya. "Kamu mau ke mana, Sayang?" Suara sang mama membuat Levin berbalik badan. Tinggi badan Levin hampir menyamai Naya, dulu terlihat kecil kini dengan cepat tumbuh besar. Levin semakin menyerupai Argio."Levin mau ke perpustakaan, mau ngerjain tugas," balasnya."
Terakhir Diperbarui: 2024-05-19
Chapter: Bab 80 Saat semua tengah tertidur nyenyak, Naya terlihat gelisah dan tidak karuan berbaring di kasur. Beberapa kali ia berpindah-pindah posisi dari telentang, miring ke kanan dan ke kiri, namun tidak membuat rasa sakit di perutnya mereda.Argio yang berbaring di samping Naya, tampak terusik tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati Naya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya."Kamu kenapa, Sayang?" "Perutku sakit, Mas. Perih."Argio segera bangun dari kasur lalu menyentuh perut Naya."Sebelumnya kamu makan apa? Tidak mungkin kamu akan melahirkan, usia kandunganmu belum sembilan bulan."Naya yang merintih kesakitan langsung terdiam. Ia mengingat-ingat sebelumnya makanan yang dikonsumsi dari pagi sampai malam."Sepertinya gara-gara makan mangga mentah. Soalnya sebelum tidur aku minta Merry mengupasnya mangga lagi."Argio geleng-geleng kepala mendengar jawaban Naya."Kan aku sudah bilang, jangan makan mangga kebanyakan, Sayang. Sekarang lihatlah sakit perut' kan.""Mas, marah?" M
Terakhir Diperbarui: 2024-05-19
Chapter: Bab 79"Adek jangan nakal diperut Mama, kasihan Mama." Omelan lucu keluar dari bibir mungil Levin. Tangan mungilnya menepuk-nepuk perut Naya lembut. Meskipun kondisi Naya saat ini lemah, namun ia tidak bisa menahan tawanya mendengar omelan putranya. Dan tidak lama Argio masuk ke dalam kamar dengan membawa teh jahe hangat. "Minum dulu, Sayang. Kata Bunda ini bagus untuk perempuan hamil yang mual-mual."Dengan penuh perhatian Argio membantu Naya meminum teh jahe tersebut. Pria itu benar-benar menaruh seluruh perhatiannya pada Naya. Dengan dibantu oleh Argio, Naya meminum teh jahe yang diberikan. "Terima kasih.""Sama-sama, Sayang.""Itu apa, Yah?" Levin menatap penasaran pada air yang baru saja diminum oleh sang bunda."Ini teh jahe supaya Mama tidak mual-mual lagi, Nak. Levin mau coba?" tawar Argio.Dengan cepat Levin menggeleng. Melihat warna minuman itu saja sudah membuat bocah itu tidak berminat. "Hari ini aku ada urusan mendadak, Sayang. Mungkin sore baru pulang. Tidak apa-apa' kan j
Terakhir Diperbarui: 2024-05-12
Chapter: Bab 78Pada akhirnya, Argio mengalah dan memutuskan untuk menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya. Meskipun ia merasa kebingungan sendiri karena tidak pernah menyentuh peralatan dapur, apalagi memasak nasi goreng sebelumnya.Argio membuka aplikasi YouTube di ponselnya dan mencari konten yang menunjukkan cara memasak nasi goreng. Sementara Naya duduk dengan tenang di kursi dapur, sambil memakan biskuit kesukaannya, menunggu nasi goreng yang akan dibuat oleh Argio.Awalnya Argio tampak bingung, namun dengan pelan-pelan ia membuat nasi goreng itu dan sekitar 30 menitan nasi goreng yang Argio buat sudah jadi. Aroma wangi dari masakan Argio, membuat Naya bangkit dari tempat duduknya."Sudah jadi?" Naya menatap nasi goreng yang tak karuan tampilannya, tetapi sangat menggoda baginya.Argio mengangguk ragu. Ia memindahkan nasi goreng itu ke dalam piring."Kalau nasi gorengnya tidak enak, tidak usah di makan ya?"Naya mengangguk mengiakan ucapan suaminya. Mata Naya berbinar-binar menatap nasi gore
Terakhir Diperbarui: 2024-05-05
Chapter: Bab 77Setelah mengetahui bahwa Naya tengah mengandung. Tanpa berpikir panjang, Argio segera pergi dengan mobilnya entah ke mana. Beberapa jam kemudian, Argio kembali ke mansion dengan membawa begitu banyak belanjaan, termasuk rujak yang ia beli di pinggir jalan.Argio tahu betul bahwa wanita hamil seringkali memiliki selera makan yang berbeda, dan banyak yang menyukai makanan yang asam-asam. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memanjakan Naya dengan makanan yang ia sukai, seperti rujak. Argio berharap dengan memberikan perhatian seperti ini, bisa membuat kehamilan kedua Naya menjadi lebih istimewa dan berbeda dari yang pertama.Anggap saja hal yang ia lakukan sekarang sebagai penebus atas kesalahan yang ia lakukan saat Naya hamil pertama dulu."Sayang, aku bawakan sesuatu untukmu!" seru Argio masuk ke dalam kamar dengan membawa piring berisi rujak.Naya duduk bersandar di bahu ranjang dengan wajah yang tampak pucat. Wanita itu merasa tubuhnya masih terasa lemah."Masih pusing?" Argio melet
Terakhir Diperbarui: 2024-05-01
Chapter: Bab 76Argio keluar dari mobil dengan terburu-buru, saat mendapatkan kabar Naya pingsan. Ia segera pulang ke mansion tanpa memperdulikan pekerjaannya yang belum selesai. Wajah pria itu terlihat sangat panik bercampur khawatir."Bagaimana bisa dia pingsan?" bentak Argio yang tampak marah pada para pelayan."Saya tidak tahu Tuan, tiba-tiba Nona Naya sudah tergeletak di lantai. Awalnya Nona Naya mengeluh tidak enak badan," jawab Merry, sedangkan pelayan lain tertunduk ketakutan.Argio mendengus dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan panik, ia melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa menuju kamar, dan dengan kasar membuka pintu kamar. Langsung ia menghampiri Naya yang belum sadarkan diri di atas kasur.Saat melihat Naya yang lemah dan tidak sadarkan diri, Argio merasa hatinya teriris melihat wajah pucat Naya. Argio duduk di samping Naya dan memegang tangannya dengan lembut."Sayang, bangun," ucap Argio lembut. Ia mencium tangan Naya berkali-kali.Takut, itulah yang Argio rasakan saat
Terakhir Diperbarui: 2024-04-30