LOGINCHAPTER 118
Nama mereka masih terpampang pada panel digital di depan studio.SUMMER RYU — YUTA THORNESummer membaca pasangan itu sekali lagi, lalu mengangkat wajah. Di sisi profesor, Yuta juga sedang melihat ke arahnya. Laki-laki itu memberikan anggukan kecil dengan senyum yang sama ramahnya seperti tadi.“Beruntung sekali,” bisik seorang mahasiswi dari meja belakang. “Yuta Thorne hampir tidak pernah mendampingi mahasiswa baru.”“Bukankah dia yang meraih penghargaanCHAPTER 122Ruangan kembali hening setelah suara tembakan menghilang. Asisten Kai masih berdiri di tempat yang sama dengan tangan terulur, tidak berani mengambil tablet yang telah hancur di lantai.Kai meletakkan pistolnya di atas meja. “Lanjutkan.”Asistennya menatapnya dengan hati-hati. “Laporan yang mana, Tuan?”“Dylan Seo.”Asisten itu menurunkan tangannya, lalu mengambil tablet lain dari dalam tas. Ia membuka salinan laporan yang telah dikirim dari London dan berusaha mengabaikan pecahan kaca di dekat kakinya.“Dylan Seo masih tercatat sebagai pewaris tunggal Seo Group. Namun sebagian besar kekayaan pribadinya tidak berasal dari keluarga.”Kai mengangkat wajah. “Jelaskan.”“Dia membangun perusahaan teknologi dan keamanan siber sejak masih sangat muda. Seo Group tidak memiliki saham di dalamnya. Dylan memegang saham pengendali, sedangkan sisanya dimiliki beberapa investor yang dipilihnya sendiri.”“Investasinya?”“Dia memiliki saham d
CHAPTER 121Yuta tidak mengalihkan pandangan dari Summer. Pertanyaan Jeffrey membuat ruang penilaian hening, sementara gadis itu masih menatap lukisan di hadapannya.Beberapa hari lalu, Summer bahkan kesulitan membuat goresan pertama. Kini ia harus memutuskan apakah dirinya siap memperlihatkan karya tersebut kepada lebih banyak orang.“Iya,” jawab Summer akhirnya. “Saya bersedia.”Jeffrey mengangguk puas. “Asisten saya akan menghubungimu untuk membicarakan persiapannya.”Ketegangan di wajah Summer mulai berkurang. Yuta ikut tersenyum, bukan hanya karena lukisan tersebut berhasil menarik perhatian Jeffrey, tetapi karena gadis itu akhirnya berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.Penilaian kemudian dilanjutkan. Jeffrey mengunjungi karya mahasiswa lain, sedangkan Summer tetap berada di dekat lukisannya untuk menjawab beberapa pertanyaan dari profesor. Mahasiswa yang semula hanya mengetahui Summer sebagai kekasih Dylan Seo kini mulai membicarakan ke
CHAPTER 120Pintu Studio Dua terbuka di tengah kesibukan para mahasiswa.“Summer.”Beberapa kepala menoleh bersamaan. Dylan berdiri di ambang pintu dengan Axl di belakangnya. Seorang mahasiswi yang duduk paling dekat dengan pintu segera merapikan posisi duduknya.“Sore, Senior Dylan.”Dylan membalas sapaan tersebut dengan anggukan singkat. Tatapan dingin dan wajahnya yang sulit didekati membuat mahasiswi itu tidak berani mengatakan apa pun lagi.Bisik-bisik mulai terdengar dari meja di belakangnya.“Aku masih nggak nyangka Senior Dylan punya pacar.”“Lupakan pacarnya sebentar. Gila, dari dekat dia jauh lebih ganteng.” Temannya masih memperhatikan Dylan. “Sayang wajahnya jutek banget.”Dylan tidak memedulikan pembicaraan mereka. Pandangannya menyusuri studio sampai menemukan Summer di depan kanvas.Summer mengangkat wajah dan tersenyum melihatnya. Sikap Dylan pun berubah. Tatapan dinginnya melembut dan sudut bibirnya sedikit terangkat saat
CHAPTER 119Tiga puluh menit menjelang agenda hari ketiga orientasi, Summer tiba di gedung seni. Pintu Studio Dua masih terkunci, sedangkan koridor belum seramai biasanya. Daripada menunggu di depan ruangan, ia memilih berjalan menuju galeri di ujung sayap gedung.Cahaya pagi memenuhi ruangan melalui langit-langit kaca. Di antara berbagai karya yang dipajang, pandangan Summer jatuh pada lukisan perempuan di tengah hujan yang dilihatnya pada hari pertama orientasi.Sebuah label kecil kini telah terpasang di bawah bingkai. Ia mendekat dan membaca nama pelukis yang tercetak pada bagian paling bawah.YUTA THORNESummer membaca nama itu sekali lagi untuk memastikan tidak keliru.“Sepertinya kamu benar-benar menyukai lukisan itu.”Summer menoleh. Yuta berdiri di dekat pintu samping sambil membawa tablet. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku, sama seperti kemarin. Pandangannya berpindah dari Yuta menuju label karya. “Kamu yang meluk
CHAPTER 118Nama mereka masih terpampang pada panel digital di depan studio.SUMMER RYU — YUTA THORNESummer membaca pasangan itu sekali lagi, lalu mengangkat wajah. Di sisi profesor, Yuta juga sedang melihat ke arahnya. Laki-laki itu memberikan anggukan kecil dengan senyum yang sama ramahnya seperti tadi.“Beruntung sekali,” bisik seorang mahasiswi dari meja belakang. “Yuta Thorne hampir tidak pernah mendampingi mahasiswa baru.”“Bukankah dia yang meraih penghargaan utama dalam pameran nasional tahun lalu?”“Benar. Katanya profesor sengaja memilihnya untuk Studio Dua.”Percakapan mereka terhenti begitu tampilan panel berganti. Daftar pasangan menghilang dan digantikan satu kata yang memenuhi layar. Tema yang sama muncul pada tablet di setiap meja.IDENTITAS“Ini adalah tema proyek pertama kalian,” jelas sang profesor. “Kalian bebas menggunakan media apa pun untuk menggambarkan siapa diri kalian tanpa menampilkan wajah sendiri. Karya tersebut
CHAPTER 117“Summer Ryu,” jawab temannya.Nama itu membuatnya menoleh kepada temannya. “Lo kenal dia?”“Gue salah satu koordinator orientasi Fakultas Seni hari ini. Nama dan wajah semua mahasiswa baru ada di daftar gue.” Temannya kembali melihat Summer yang kini berdiri di depan lukisan lain. “Lagi pula, namanya sudah lama dibicarakan di gedung seni.”Kening laki-laki itu berkerut. “Apa maksudnya?”“Dia berasal dari RCA High. Waktu masih tahun pertama, lukisannya mendapat nilai tertinggi di gala amal tahunan.” Temannya membenarkan tumpukan label di tangannya. “Karyanya dibeli dengan harga yang membuat satu sekolah heboh. Bahkan beberapa kurator mulai mencari tahu siapa pelukisnya.”Tatapannya kembali tertuju kepada Summer. Sulit membayangkan gadis yang terlihat begitu tenang itu pernah menjadi pusat perhatian dunia seni RCA. “Setelah itu?” tanyanya.“Setelah itu namanya menghilang. Dia nggak pernah lagi mengirim karya ke gala atau pameran mana pun.”
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin







