LOGINSeperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka.
Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin Nicholas lagi, lo bakal tahu akibatnya yang lebih parah dari ini!" ancam Olivia penuh penekanan, matanya melotot tajam kearah Asya. "Gue nggak ada deketin Nicholas sama sekali!" seruku membela diri. Tuduhan macam apa lagi ini? Hubunganku dengan Nicholas selama ini seperti musuh. Bahkan kami bertengkar setiap hari! PLAK! Sentakan keras di rambut Asya berganti dengan hantaman panas di pipi kiri gadis itu. Tamparan Olivia yang keras menyisakan bekas memerah samar dipipinya. Seketika itu juga, seisi kelas riuh. Beberapa siswa bersorak heboh seolah sedang menonton pertunjukan gratis, beberapa menatap Asya iba, tapi lebih banyak yang memandangnya dengan senyum puas. Olivia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya yang penuh kosmetik tebal itu denganku. "Lalu, siapa cewek yang kemarin pulang sekolah pakai seragam Nicholas? Semua orang di sekolah ini tahu, Asya. Nggak usah sok polos." "Ya karena..." Kalimatku menggantung. Pikiranku langsung terlempar ke kejadian kemarin siang, saat aku jatuh dari lantai dua gudang olahraga dan ditangkap oleh Nicholas. Sialan, insiden kancing baju lepas itu rupanya membuat seluruh sekolah salah paham. "Karena apa? Karena lo sengaja buka baju di depan dia, iya?!" "Nggak! Gue—" "Gue apa? Cewek cupu kayak lo ini nggak ada cocok-cocoknya bersanding sama Nicholas, paham?!" Olivia memotong kalimatku dengan nada merendahkan. Bahkan, dia mencengkeram daguku kuat-kuat, membuatku meringis sebelum akhirnya menghempaskannya dengan kasar. "Gue peringatin lo untuk yang terakhir kalinya. Nicholas itu milik gue. Menjauhlah dari dia dan... jangan pernah ganggu dia lagi!" Tanpa menunggu balasan dari Asya, Olivia berbalik dan melangkah pergi begitu saja diikuti dayang-dayangnya. "Dasar cewek gila," umpatku lirih sambil mengusap pipiku yang masih terasa panas. Aku menatap nanar ke arah noda cokelat yang mengotori seragamku. Lagi pula, buat apa juga gue cari perhatian si Nicholas brengsek itu? Nggak jelas banget. Aku memalingkan wajah, menyadari bisik-bisik beracun mulai memenuhi penjuru kelas. "Belakangan ini si Asya gatel banget ya, ngebet menggoda cowok-cowok." "Kemarin anak basket sekolah musuh, sekarang malah Nicholas yang diincar sampai dilabrak habis-habisan sama Olivia." "Jangan-jangan besok cowok lo yang dideketin sama dia?" "Iww, amit-amit, jangan sampai deh!" Kupingku terasa membara mendengar tuduhan tidak berdasar itu. Mereka semua menghakimiku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menahan kesal dan hinaan itu, aku segera menyambar tasku dan beranjak dari kursi, berniat menuju kamar mandi untuk membersihkan noda di seragamnya. Asya tidak menyadari bahwa di sudut kelas, Lisa, sahabat dekat Olivia, sedang mengamatinya dengan senyum licik. "Gimana? Tulisan di pintunya udah lo ganti, kan?" bisik Lisa pada seorang siswa laki-laki di dekatnya. "Beres!" sahut cowok itu singkat. Lisa tersenyum puas. Setelah ini, 'Olivia pasti bakal seneng banget sama hasil kerja gue dan langsung kasih gue hadish besar,' batinnya bersorak. Dengan langkah yang dibuat seolah-olah peduli, Lisa mempercepat jalannya untuk menyusul Asya yang sudah berjalan sampai di ambang pintu kelas. "Oh my god... Asya, lo nggak apa-apa? Ini nodanya parah banget, harus segera dibersihin sebelum makin lengket ke kain!" seru Lisa heboh, tiba-tiba menyodorkan selembar handuk bersih ke arahku. Aku sempat tertegun, menatap handuk itu lalu beralih ke wajah Lisa dengan kening berkerut. Tumben sekali dia bersikap baik padaku? Apa jangan-jangan dia punya niat lain? "Udah... lo nunggu apa lagi? Keburu nodanya kering nanti susah hilang," desak Lisa, berusaha meyakinkanku dengan raut wajah yang tampak sangat tulus. Dia tampak begitu tidak sabar untuk memulai pertunjukan yang sudah ia susun rapi. "Ah, oke... makasih ya, Lis," ucapku akhirnya, menerima handuk itu karena kepalaku terlalu penuh untuk curiga. Aku pun segera bergegas pergi. "Sama-sama! Jangan sungkan kalau butuh bantuan gue lagi ya!" teriak Lisa melambai hangat. Namun begitu tubuh asya menghilang di ujung koridor, ekspresi wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Bibirnya mengulas seringai kejam. Ia langsung merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi. "Oke, guys... hari ini bakal ada pertunjukan yang seru banget di sekolah gue. Jangan lupa tap-tap layar dan share live-nya ya!" ucap Lisa dengan nada ceria ke arah kamera ponselnya yang kini sedang melakukan live streaming. ** Langkahku terhenti tepat di depan pintu toilet. Perasaanku mendadak tidak enak, ada sensasi janggal yang tiba-tiba merayap di hatiku. "Kok rasanya... ada yang aneh ya?" gumamku pelan, menatap papan penanda di pintu toilet. Namun, mengingat jam istirahat akan segera habis dan tidak mungkin kembali ke kelas dengan baju sekotor ini, akhirnya Asya mengabaikan firasat buruk itu. Dia mendorong pintu kayu itu dan melangkah masuk. Asya meletakkan tas di atas kursi panjang yang terletak di area toilet. Dengan gerakan cepat, Asya mulai melepas kemeja seragamnya yang kotor, lalu melilitkan handuk pemberian Lisa di sekeliling tubuhnya. Handuk itu cukup minim, hanya menutupi dari dada hingga sebatas pahanya. "Dasar orang-orang aneh. Sekolah elit begini tapi kelakuannya kayak orang kampungan yang hobinya cuma menindas orang lain," gerutuku panjang lebar sambil berdiri di depan wastafel, mulai mengucek noda cokelat di seragamku dengan sabun. BRAK! "Astaga ..." Suara pintu toilet utama yang didorong kasar mengejutkanku. Terdengar gelak tawa nyaring yang sangat kukenal. Itu suara Olivia, dan sepertinya dia membawa rombongan yang cukup banyak untuk menjebakku. "Shit..." umpatku panik. Aku menatap penampilanku sendiri di cermin yang hanya terbalut handuk tipis dengan kemeja basah kuyup. Kalau Olivia dan orang-orang itu melihatku dalam kondisi seperti ini, mereka pasti akan memotretku dan menjadikannya skandal untuk mendepakku dari sekolah. Terdorong oleh rasa panik yang luar biasa, aku menyambar tasku dan berlari kelabakan menuju bilik kamar mandi paling ujung dan langsung memutar kunci pintunya. KLAK. "Huhhh..." bisikku lega, menyandarkan punggung ke pintu bilik sambil memejamkan mata, membiarkan napasku yang memburu berangsur tenang. "Ngapain lo di sini?" Sebuah suara berat penuh keterkejutan memecah keheningan bilik, sedikit teredam dengan suara rintikan air dari pancuran shower yang sedang menyala. mendengar suara itu, tentu saja aku tersentak. Mataku seketika membelalak sesaat setelah menoleh ke arah sumber suara. Di balik uap air yang tipis, berdiri seorang cowok tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, dengan sisa busa sabun yang mengalir di atas otot-otot tubuhnya yang ahhh ... shit ... aku tidak bisa lagi mendeskripsikan apa yang saat ini kulihat. Jantungku semakin berdegub kencang menyadari siapa dia. Nicholas. "Eh... sorry-sorry! Gue nggak sengaja!" jeritku tertahan. Aku buru-buru membalikkan badan membelakanginya, menyembunyikan wajahku yang sedetik kemudian langsung terasa panas karena malu dan salah tingkah karena situasi ini. "Apa lo sengaja masuk ke sini buat ngintip gue, hmmm?" Suara langkah kaki yang mendekat membuat bulu kudukku meremang. Sebelum aku sempat memprotes, sebuah lengan yang kokoh dan basah tiba-tiba melingkar di pinggangku dari belakang, menarik tubuhku yang hanya terbalut handuk tipis hingga merapat ke dada telanjangnya. Sentuhannya di pinggangku seperti sengatan panas yang aneh, sensasi yang persis sama dengan getaran gila yang kurasakan saat bertukar pesan sexting semalam. "Sengaja apaan sih?! Lepasin nggak!" ketusku panik, mencoba menyiku perutnya namun Nicholas sama sekali tidak bergeming. Hari ini aku benar-benar sial. Pertama dilabrak Olivia, dan sekarang terjebak di bilik mandi bersama cowok yang paling menyebalkan sedunia. Di luar bilik, suara langkah kaki Olivia dan rombongannya terdengar semakin dekat, menggema di atas lantai keramik toilet. Jantungku berpacu gila-gilaan. Jika pintu ini didobrak dan mereka menemukanku berada di dalam satu bilik mandi bersama Nicholas yang bertelanjang bulat, tamat sudah riwayatku. Aku bergidik ngeri membayangkan kehancuran hidupku setelah ini. Nicholas sedikit membungkuk dari belakang. Wajahnya berada tepat di samping telingaku, hingga hembusan napasnya terasa hangat menerpa kulit leher jenjangku, membuat seluruh tubuhku refleks meremang. "Gue bisa bantuin lo buat keluar dari situasi ini dengan aman," bisik Nicholas dengan suara serak yang begitu dalam, tepat di telingaku. Seringai tipisnya terasa menyentuh pipiku yang memanas. "Tapi syaratnya... lo harus nurut sama semua omongan gue sekarang." * * * *Kringgg... Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran berikutnya telah dimulai. Namun, fokusku sudah menguap entah ke mana. Di baris kursi belakangku, Nicholas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Tatapan matanya yang intens terus mengunci punggungku, seolah-olah dia sedang menelanjangiku. Gue penasaran, lo sebenarnya seliar apa, Sya? batin Nicholas, semakin tertarik pada gadis berkacamata tebal di depannya. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Nicholas. Dengan gerakan santai, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi WeChat. Jemarinya dengan cepat mengetikkan sebaris kalimat provokatif pada akun Gabriel. "Aku kangen kamu. Aku ingin menampar pantatmu yang seksi, babe!" Nicholas menekan tombol kirim, lalu melipat tangannya di atas meja, mengamati reaksi Asya dengan binar mata yang berkilat. Bzzzt. Ponsel yang kusembunyikan di bawah laci meja bergetar
"Apaan sih?!" Dengan tangan gemetar dan napas memburu panik, aku secepat kilat menyambar handuk putih yang tergeletak di lantai keramik, lalu melilitkannya kembali ke tubuhku rapat-rapat. Seluruh kulitku terasa panas karena malu. Di hadapanku, Nicholas masih berdiri membeku. Namun, keterkejutan di wajahnya perlahan surut, berganti dengan tatapan mata yang penuh arti. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang menggambarkan kelicikan. 'Hmm, ternyata dia nggak semembosankan seperti yang gue kira,' batin Nicholas. Nicholas melangkah maju. Gerakannya pelan, tenang, namun penuh intimidasi yang membuatku refleks mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, punggungku membentur dinding keramik bilik kamar mandi. Aku terperangkap. Nicholas mengurungku dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada dinding di sisi kanan dan kiri kepalaku. "He-hey... apa yang mau lo lakukan?!" pekikku panik, mati-matian menekan handuk di dadaku agar tidak melorot lagi. Glek. Aku me
"Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' "Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' "Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi
Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin
"Ahhhh! Dasar cowok gila!" Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de
Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Nge







