LOGINKringgg... Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran berikutnya telah dimulai. Namun, fokusku sudah menguap entah ke mana. Di baris kursi belakangku, Nicholas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Tatapan matanya yang intens terus mengunci punggungku, seolah-olah dia sedang menelanjangiku. Gue penasaran, lo sebenarnya seliar apa, Sya? batin Nicholas, semakin tertarik pada gadis berkacamata tebal di depannya. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Nicholas. Dengan gerakan santai, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi WeChat. Jemarinya dengan cepat mengetikkan sebaris kalimat provokatif pada akun Gabriel. "Aku kangen kamu. Aku ingin menampar pantatmu yang seksi, babe!" Nicholas menekan tombol kirim, lalu melipat tangannya di atas meja, mengamati reaksi Asya dengan binar mata yang berkilat. Bzzzt. Ponsel yang kusembunyikan di bawah laci meja bergetar
"Apaan sih?!" Dengan tangan gemetar dan napas memburu panik, aku secepat kilat menyambar handuk putih yang tergeletak di lantai keramik, lalu melilitkannya kembali ke tubuhku rapat-rapat. Seluruh kulitku terasa panas karena malu. Di hadapanku, Nicholas masih berdiri membeku. Namun, keterkejutan di wajahnya perlahan surut, berganti dengan tatapan mata yang penuh arti. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang menggambarkan kelicikan. 'Hmm, ternyata dia nggak semembosankan seperti yang gue kira,' batin Nicholas. Nicholas melangkah maju. Gerakannya pelan, tenang, namun penuh intimidasi yang membuatku refleks mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, punggungku membentur dinding keramik bilik kamar mandi. Aku terperangkap. Nicholas mengurungku dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada dinding di sisi kanan dan kiri kepalaku. "He-hey... apa yang mau lo lakukan?!" pekikku panik, mati-matian menekan handuk di dadaku agar tidak melorot lagi. Glek. Aku me
"Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' "Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' "Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi
Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin
"Ahhhh! Dasar cowok gila!" Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de
Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Nge







