LOGINTetesan sisa air mandi beberapa menit lalu masih mengalir di lekuk tubuh Nicholas saat cowok itu melangkah keluar dari kamar mandi. Dengan selembar handuk kecil di tangan, ia mengusap rambut hitamnya yang basah secara acak. Nicholas berjalan bertelanjang dada melintasi kamarnya yang sejuk oleh AC, berniat meraih pakaian ganti, sampai sebuah bunyi notifikasi yang khas menghentikan langkahnya.
Ting! Nicholas menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia mengernyit heran saat melihat layar ponselnya menyala, menampilkan ikon aplikasi yang tidak biasa. "Ah... gue lupa akun WeChat Gabriel masih nyangkut di HP ini," gumam Nicholas pada diri sendiri. meskipun beda sekolah dan sering menjadi musuh saat pertandingan basket, mereka berdua tetap bersahabat. bahkan sudah bersahabat sejak lama. Minggu lalu, Gabriel memang meminjam ponselnya untuk masuk ke akun miliknya karena baterai ponsel cowok itu mati total, dan mereka lupa mengeluarkan akun tersebut. Nicholas awalnya berniat mengabaikannya, namun nama ID pengirim pesan yang tertera di layar berhasil menyita perhatiannya. Matchalatte777. Gemas oleh rasa penasaran, Nicholas mengambil ponsel itu dan membuka pesannya. Detik itu juga, napas Nicholas tertahan di tenggorokan. Sepasang matanya melebar sempurna, menatap layar dengan pupil yang membesar. "Oh, God... dia liar banget," bisik Nicholas, suaranya mendadak serak. Di layarnya, terpampang foto siluet tubuh seorang gadis yang hanya mengenakan lingerie renda hitam pekat yang sangat seksi. Nicholas menelan kasar salifanya. Jemarinya bergerak refleks meng-zoom gambar tersebut, mengamati setiap jengkal lekuk tubuh yang proporsional itu hingga pandangannya terkunci pada satu titik. Sebuah tato kecil berbentuk bintang di dada sebelah kanan gadis itu. Tato itu tampak begitu kontras dan sensual di atas kulitnya yang mulus. "Cewek nakal..." Nicholas mendengus rendah, senyum miringnya perlahan terbit. Sambil membawa ponsel itu, ia mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Entah kenapa, sudut hatinya mendadak terasa panas. Ada dorongan egois yang membuat Nicholas enggan mengembalikan akun itu kepada Gabriel sekarang. Ia ingin bermain-main sebentar dengan nakal yang misterius ini. ** Sementara itu, di sisi lain dinding pembatas rumah mereka, aku sedang diserbu oleh kegelisahan yang cukup menyiksa. Aku duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututku erat-erat. Tatapanku sama sekali tidak beralih dari layar ponsel yang menyala. Jantungku bertalu begitu cepat, sampai-sampai rasanya dadaku sakit. "Dia sudah membacanya. Statusnya juga Online. Tapi kenapa nggak dibalas?!" Gumamanku tenggelam dalam keheningan kamar. Detik berikutnya, status online di bawah nama akun Gabriel menghilang begitu saja, menyisakan ruang obrolan yang sepi tanpa balasan sepatah kata pun. Aku menghela nafas pasrah, dengan bahuku yang seketika itu mencelos lesu. "Ah... sepertinya aku memang benar-benar nggak menarik di matanya," bisikku getir, merasakan sengatan kecewa yang teramat dalam. Air mataku rasanya mau menetes lagi. "Ini semua gara-gara Nicholas sialan! Kalau dia nggak ngerusak suratku di lapangan tadi, aku nggak bakal senekat ini!" Aku mendengus kesal, melemparkan ponselku dengan kasar ke atas kasur empuk di sampingku. Aku meraih boneka beruang kesayanganku, memeluknya erat-erat seolah benda mati itu bisa menyerap rasa maluku yang teramat sangat. Gabriel pasti menganggapku cewek murahan. Gabriel pasti tidak menyukaiku. Tapi, syukurlah ini akun anonim, batinku mencoba menghibur diri, menarik napas lega yang dipaksakan. Seenggaknya, dia nggak bakal pernah tahu kalau cewek di foto itu adalah Asya si gadis culun. Ting! Tepat saat aku mulai pasrah dan bersiap untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam, ponselku tiba-tiba berdenting. Sentakan itu mendorongku untuk cepat-cepat mengambil kembali ponselku. Dengan tangan gemetar dan juga penasaran, aku membuka pesan itu. Mataku terbelalak. Jantungku yang tadi sempat melambat, kini berpacu gila-gilaan. "Gabriel membalas pesan ku!" gumamku senang mendapati pesan balasan dari Gabriel muncul di layar ponselku. Bukan hanya kata-kata, tapi dia membalasnya dengan cara yang sama sekali tidak pernah kubayangkan dari seorang Gabriel yang kalem di sekolah. Sebuah kiriman foto. Aku menahan napas saat foto itu terbuka sempurna. Itu adalah foto close-up bagian dada hingga perut seorang cowok yang sedang bertelanjang dada di dalam kamar yang remang. Bahunya tampak begitu kokoh dan lebar, dengan otot-otot perut six-pack yang tersusun rapi dan atletis, benar-benar definisi tubuh seorang atlet basket. Di tambah lagi dengan tato yang berada Di dada sebelah kiri dan pinggangnya, menambah kesan seksi dan maskulin. "Ouhh ... shit. ini benar-benar gila!" gumamku seraya menggigit bibir bawahku, memandangi foto yang baru saja di kirim oleh Gabriel. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku mendadak terasa sangat kering. Jariku dengan gemetar mengezoom foto itu berkali-kali, mengagumi keindahan tubuh cowok yang kusukai di seberang sana. Pipiku rasanya mau meledak karena terlalu panas. “Ada gambar yang lain?” Sebuah pesan teks menyusul masuk di bawah foto tersebut. Kalimat singkat itu langsung menyuntikkan rasa percaya diri yang luar biasa ke dalam kepalaku. Semua rasa insecure dan minder akibat cacian orang-orang di grup kelas mendadak menguap tanpa bekas. Tubuhku yang tadinya kuanggap biasa saja, ternyata bisa membuat seorang Gabriel tertarik. "Oke... kali ini aku pasti bisa bikin dia makin penasaran," bisikku penuh tekad. Keinginanku untuk bisa bersama Gabriel benar-benar telah membakar habis kesadaran ku. Tanpa berfikir panjang, aku segera bangkit dari tempat tidur. Aku melepas kuncir rambutku, membiarkannya terurai liar di bahu. Aku mengambil beberapa jepretan baru di depan cermin dengan pose yang jauh lebih berani, mengekpos lekuk tubuhku dengan lebih gamblang, namun tetap menyembunyikan wajahku di balik bayangan ponsel. Sent. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik, sebuah balasan kembali masuk ke ponselku. Dan kalimat yang tertulis di sana sukses membuat seluruh tubuhku meremang hebat. “Fuck... kamu bikin milikku semakin keras, babe! Tapi itu belum cukup buatku.” Jantungku berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari rongganya. Aku memegang ponsel dengan tangan gemetar, menatap layar yang menunjukkan status online di akun Gabriel. "Lalu... apa yang ingin kamu lihat?" ketikku dengan napas tertahan. Rasanya seperti ada sesuatu yang terbakar di dadaku. Meskipun aku tidak pernah mendengar suara Gabriel secara langsung di saat seperti ini, tapi aku bisa membayangkan nada suara berat dan dalam itu keluar dari bibirnya. Imajinasi liar mulai merasuki pikiranku, aku merasa seolah-olah Gabriel benar-benar ada di sini, di sudut kamarku yang remang-remang. Tak sampai sepuluh detik, sebuah pesan masuk. "Aku ingin mencapai orgasme. Anggap saja aku ada di sana bersamamu..." Tenggorokanku semakin tercekat. Kalimat itu langsung menghancurkan sisa pertahananku. Aku menarik selimut tebal, menyembunyikan diriku dari cahaya lampu kamar. Di balik perlindungan selimut, aku mulai mengikuti setiap instruksi yang dikirimkannya, semua arahan yang kuyakini datang dari Gabriel, cowok yang kusukai setengah mati. "Sekarang genggam tanganmu, dan pelan-pelan masuk ke sana..." Pesan itu disertai dengan sebuah foto. Aku menahan napas saat menatap layar ponsel. Foto itu menunjukkan bagian dada hingga perut seorang cowok. Bahunya tampak begitu kokoh dan lebar, dengan otot perut six-pack yang tersusun rapi, dan garis V-line yang sangat tajam. Ada tato kecil di bahu dan pinggangnya yang menambah kesan maskulin. Aku tidak melihat wajahnya, tapi foto itu sudah cukup untuk membuat napasku tersengal. "Oh, shit..." desisku pelan. Mataku tidak bisa berpaling dari detail otot yang terlihat begitu nyata di layar ponselku. Aku yang masih begitu polos dalam hal ini, mengikuti setiap arahan dengan rasa penasaran yang teramat dalam. Aku memejamkan mata, membiarkan imajinasi tentang Gabriel membimbing setiap gerakanku hingga akhirnya, sebuah gelombang kenikmatan yang asing namun memabukkan menghantamku. Tubuhku gemetar hebat, napasku memburu tak beraturan, dan akhirnya aku mencapai puncaknya di balik selimut itu. Setelah napasku kembali stabil, aku menyambar ponselku. Jemariku yang masih gemetar mengetik balasan dengan senyum yang terus mengembang, penuh dengan rasa puas dan perasaan memiliki yang kurasa semakin dalam. "Aku berhasil... rasanya sangat luar biasa," tulisku. Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk. "Gadis baik. Selamat malam." Aku memeluk ponsel itu erat ke dada, membayangkan Gabriel yang tersenyum manis padaku di balik layar. Aku menatap langit-langit kamar dengan hati yang meledak-ledak. Hubungan rahasia ini berkembang begitu pesat, membuat setiap debaran jantungku kini hanya tertuju pada satu orang. "Akhhh!" pekikku pelan ke dalam bantal, melampiaskan kebahagiaan yang meluap. * * * *Kringgg... Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran berikutnya telah dimulai. Namun, fokusku sudah menguap entah ke mana. Di baris kursi belakangku, Nicholas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan senyum misterius yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Tatapan matanya yang intens terus mengunci punggungku, seolah-olah dia sedang menelanjangiku. Gue penasaran, lo sebenarnya seliar apa, Sya? batin Nicholas, semakin tertarik pada gadis berkacamata tebal di depannya. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Nicholas. Dengan gerakan santai, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi WeChat. Jemarinya dengan cepat mengetikkan sebaris kalimat provokatif pada akun Gabriel. "Aku kangen kamu. Aku ingin menampar pantatmu yang seksi, babe!" Nicholas menekan tombol kirim, lalu melipat tangannya di atas meja, mengamati reaksi Asya dengan binar mata yang berkilat. Bzzzt. Ponsel yang kusembunyikan di bawah laci meja bergetar
"Apaan sih?!" Dengan tangan gemetar dan napas memburu panik, aku secepat kilat menyambar handuk putih yang tergeletak di lantai keramik, lalu melilitkannya kembali ke tubuhku rapat-rapat. Seluruh kulitku terasa panas karena malu. Di hadapanku, Nicholas masih berdiri membeku. Namun, keterkejutan di wajahnya perlahan surut, berganti dengan tatapan mata yang penuh arti. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang menggambarkan kelicikan. 'Hmm, ternyata dia nggak semembosankan seperti yang gue kira,' batin Nicholas. Nicholas melangkah maju. Gerakannya pelan, tenang, namun penuh intimidasi yang membuatku refleks mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya, punggungku membentur dinding keramik bilik kamar mandi. Aku terperangkap. Nicholas mengurungku dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada dinding di sisi kanan dan kiri kepalaku. "He-hey... apa yang mau lo lakukan?!" pekikku panik, mati-matian menekan handuk di dadaku agar tidak melorot lagi. Glek. Aku me
"Asya! Gue tahu lo menyelinap masuk ke ruang ganti cowok karena mau mengintip! kebetulan Gue sekarang lagi siaran langsung di medsos buat bantu lo biar cepat viral, nih!" Suara cempreng Olivia menggelegar dari kejauhan, memantul di dinding-dinding keramik toilet. Jantungku seketika mencelos. 'Tidak... tidak, jangan sampai cewek gila itu nemuin gue di sini.' "Gimana tawaran gue, hmmm? Apa sudah lo pertimbangkan?!" bisik Nicholas dengan suara tertahan tepat di atas kepalaku. Sentuhan tangannya di pinggangku perlahan bergerak turun, mengusap pelan tapi pasti ke arah pahaku yang terekspos. 'Oh, shit...' Aku menelan ludah dengan susah payah. Kulitku meremang. Dalam kungkungan intim Nicholas, entah kenapa otakku malah konslet dan justru mengingat kejadian sexting semalam. Garis otot tubuh Gabriel yang... 'ah, sudahlah! Sadar, Asya! Ini bukan waktunya buat berpikiran mesum!' "Asya... gue tahu lo di dalam sini!" seru Olivia lagi dengan nada yang dibuat-buat. Suara debaman pintu bi
Seperti hari-hari biasanya, Olivia dan para pengikutnya tidak pernah absen untuk membuat hidupku seperti neraka. Pagi ini, baru saja aku meletakkan tas dan duduk di kursiku, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari samping dan menumpahkan minuman cokelat pekat tepat di atas baju seragamku. Cairan manis yang lengket itu langsung merembes, mengotori seragam putih yang kukenakan. "Astaga!" pekikku terkejut dan langsung bangkit berdiri, menoleh dengan geram ke arah Olivia yang menatapku dengan raut wajah tertekuk. "Apa-apaan sih lo? Apa maksudnya ini?!" "Lo nanya apa maksudnya?" Wajah Olivia memerahmenahan amarah. Tanpa peringatan, jemarinya bergerak cepat mencengkeram dan menarik rambutku dengan kasar, membuat kepalaku mendongak mendadak. Aku tidak sempat menghindar. "Sakit, bodoh! Lepasin!" tentu saja aku meringis kesakitan. Aku mati-matian menahan tangan Olivia agar dia tidak menarik rambutku lebih keras lagi, "Menggoda Nicholas apanya?!" "Cihhh ... Masih berani lo deketin
"Ahhhh! Dasar cowok gila!" Aku memekik frustrasi begitu berhasil mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Tas sekolah kulemparkan sembarangan ke atas lantai. Napasku masih memburu, setengah karena lelah berlari, setengah lagi karena amarah yang mendidih di dalam dada. "Bisa-bisanya dia bilang otot dada dia lebih besar dari milikku?! Buta ya?!" gerutuku kencang, melangkah lebar-lebar menuju cermin besar di sudut kamar. Aku menatap pantulan diriku yang masih tenggelam di dalam kemeja seragam putih milik Nicholas yang kebesaran. Aroma parfum maskulinnya yang tertinggal di kain ini mendadak membuatku makin kesal. Tanpa berpikir dua kali, aku melepas kemeja itu dan mencampakkannya ke lantai dengan kasar. Aku berjalan cepat menuju lemari, mengaduk-aduk isinya, lalu menarik keluar sebuah gaun tidur satin hitam pendek yang tidak kalah berani dari lingerie semalam. Begitu kain dingin itu melekat di tubuhku, aku mematut diri di depan cermin. Potongan gaun ini mengeksos belahan dadaku de
Pagi ini, semuanya kembali seperti rutinitas biasa yang memuakkan. Dengan kacamata berbingkai tebal dan penampilanku yang mungkin saja terlihat terlalu kampungan dan sederhana di depan mereka, aku harus siap kembali menjadi target empuk sindiran orang-orang di koridor. Tapi anehnya, kata-kata pedas mereka yang biasanya membuatku ingin bersembunyi, kali ini tidak mempan. Pikiranku sedang melayang jauh ke kejadian semalam. Aku berjalan menyusuri koridor dengan langkah lambat, membayangkan kembali foto dada atletis dan garis otot yang dikirimkan oleh Gabriel. Pipiku mendadak terasa panas. 'Haruskah aku memberitahu Gabriel kalau cewek di balik akun anonim yang sexting dengannya semalam itu aku?' batinku bimbang, menggigit bibir bawahku pelan. PLAK! "Aw!" seruku kaget. Sebuah tangan menyambar kasar dari samping, menarik kacamata yang bertengger di hidungku hingga pandanganku sedikit buram. Saat aku menoleh dengan geram, wajah menyebalkan Nicholas sudah menyambutku. "Nge