مشاركة

Bab 44

مؤلف: Toyusa
last update تاريخ النشر: 2026-07-29 17:00:32
Di tengah kesibukan area perkebunan, Brata berada di lapangan dan tak sengaja bertemu dengan Danu– tangan kanan kepercayaan Haryo.

​Danu menatap Brata dengan sorot mata penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikannya. Sebagai orang kepercayaan Haryo, ia selalu mengawasi gerak-gerik sang tuan muda.

​"Tuan Muda," sapa Danu sopan, meski nada bicaranya menyimpan rasa ingin tahu. "Tadi pagi, sepertinya saya melihat Tuan Muda bersama seorang wanita... Kalau boleh tahu, siapa dia?"

​Brata langsu
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 47

    ​"Ratna, bagaimana keadaanmu? Dokter Hans sebentar lagi tiba," ucap Brata lembut.​Brata melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan membawa mangkuk kecil berisi air hangat dan handuk bersih yang baru saja ia ambil dari Bi Sumi. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan menyeka pelan sisa debu serta keringat di dahi istrinya dengan penuh kehati-hatian.Dalam hitungan detik, Ratna sudah memasang wajah yang sama sekali berbeda. Tak ada lagi tatapan tajam atau senyum sinis yang sempat membuat Mira gemetar. Di hadapan Brata, ia kembali menjadi sosok istri yang tampak lemah, rapuh, dan seakan hanya menemukan rasa aman saat berada di sisi suaminya.​"Aku tidak apa-apa, Mas... Asalkan kamu ada di sini… di sampingku," bisik Ratna manja, sengaja menyandarkan kepalanya yang lemas ke dada Brata. Tangannya yang sempat melukai pergelangan tangannya sendiri kini terulur memeluk pinggang suaminya erat-erat. "Jangan tinggalkan aku

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 46

    "Maafkan aku, Mas..." bisik Ratna begitu lirih, nyaris tertelan angin siang. Suaranya serak, patah-patah, seolah setiap kata menguras sisa tenaga yang masih ia miliki.Dengan gerakan kaku, Brata mengambil alih tubuh istrinya dari rengkuhan Danu. Begitu berada dalam pelukan suaminya, Ratna tidak memberontak sedikit pun. Ia justru menenggelamkan wajahnya yang kotor dan basah oleh air mata ke dada Brata.Wanita itu menangis tanpa suara. Tak ada lagi jeritan histeris atau rentetan tuduhan menyakitkan seperti biasanya. Yang tersisa hanya isakan tertahan yang membuat bahu kurusnya bergetar hebat. Jemarinya yang lecet dan berdarah mencengkeram kemeja Brata erat-erat, seolah hanya itu yang masih mampu menopang dirinya."Maafkan aku..." ulang Ratna dengan suara yang semakin lemah.Brata menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sakit dan tercekat. "Ratna..."​"Kewarasanku... rasanya sempat hilang, Mas,"

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 45

    ​"Apa maksudmu, Bi?! Bagaimana bisa dia kabur?!" bentak Brata dengan suara panik yang tak lagi bisa ia sembunyikan. ​"Saya... saya tidak tahu, Ndoro! Tadi saya mau mengantar makan siang ke kamarnya, tapi pintunya tidak terkunci dari luar. Begitu saya masuk, perawat itu sudah tergeletak di lantai dengan kepala bocor, dan tempat tidur Nyonya Ratna sudah kosong!" tangis Bi Sumi histeris dari seberang telepon. ​Brata langsung memutus sambungan. Napasnya memburu cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar kunci mobilnya di atas meja. ​Mira, yang berdiri di dekatnya, segera memasang ekspresi paling cemas yang bisa ia perlihatkan. Ia mendekat, menyentuh lengan Brata dengan jemari yang dibikin bergetar. ​"Ndoro... ada apa? Nyonya Ratna... kenapa?" tanya Mira cemas. ​"Dia kabur," ucap Brata dengan suara berat, rahangnya mengeras penuh kepanikan. "Perawatnya diserang. Kita harus kembali ke rumah sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Brata menarik tangan Mira keluar dari ruang kerja

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 44

    Di tengah kesibukan area perkebunan, Brata berada di lapangan dan tak sengaja bertemu dengan Danu– tangan kanan kepercayaan Haryo. ​Danu menatap Brata dengan sorot mata penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikannya. Sebagai orang kepercayaan Haryo, ia selalu mengawasi gerak-gerik sang tuan muda. ​"Tuan Muda," sapa Danu sopan, meski nada bicaranya menyimpan rasa ingin tahu. "Tadi pagi, sepertinya saya melihat Tuan Muda bersama seorang wanita... Kalau boleh tahu, siapa dia?" ​Brata langsung menatap tajam ke arah Danu. Rahangnya mengeras, raut wajahnya berubah dingin dalam sekejap. ​"Urus saja pekerjaanmu di lapangan, Danu. Jangan urusi hal-hal lain yang bukan urusanmu," desis Brata tajam, tanpa memberikan ruang bagi Danu untuk memperpanjang percakapan, lalu melangkah pergi begitu saja. ​Danu terpaku di tempatnya. Reaksi Brata yang berlebihan justru memperkuat kecurigaan di benaknya. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dan berbahaya bagi posisi Ratna, Danu tidak tinggal diam.

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 43

    Sinar matahari mulai menembus celah jendela rumah besar itu, membawa serta sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan. Namun, suasana di dalam rumah masih diselimuti ketegangan yang belum benar-benar reda sejak semalam. ​Di dapur, Mira baru saja selesai mandi. Alih-alih mengeringkan rambutnya dengan handuk, gadis itu sengaja membiarkannya basah kuyup. Tetesan air dari ujung rambut hitamnya meluncur bebas, membasahi daster katun tipis bermotif bunga pudar yang ia kenakan. ​Kain daster murahan itu seketika menempel ketat, menjiplak dengan sangat sempurna setiap lekuk tubuhnya yang sintal. Dari balik kain basah itu, siluet lekukan pinggang dan kepenuhan dadanya terekspos tanpa ampun, menciptakan pemandangan yang begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. ​Dengan langkah pelan dan raut wajah polos yang telah ia persiapkan, Mira membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat. Tujuannya pagi ini sangat jelas, ia ingin melihat secara langsung keadaan Ratna yang kini terkurung di

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 42

    "Kamu buta, Bi?!" bentak Brata dengan suara menggelegar, sengaja menaikkan nada suaranya untuk menutupi sisa-sisa napas yang masih memburu. ​Pria itu mengangkat lengan kirinya yang terbalut erat oleh robekan kain bermotif daster Mira, menyembunyikan getaran gairah yang belum sepenuhnya padam di balik topeng kemurkaan. "Darahku terus mengalir! Kalau Mira tidak merobek bajunya untuk mengikat lukaku, aku bisa kehabisan darah sebelum kamu datang membawa kotak itu!" ​Bi Sumi tersentak, langkahnya terhenti. Pandangan wanita tua itu turun ke arah lengan majikannya, lalu beralih pada ujung daster Mira yang memang terkoyak kasar tak beraturan di bagian bawah. ​Logika dari pemandangan itu menampar keraguannya. Walau insting tajamnya masih mencium aroma ketegangan yang tidak biasa di udara, Bi Sumi tak berani membantah. ​"M-maaf, Ndoro... Saya panik melihat banyak ceceran darah," cicit Bi Sumi. Ia buru-buru menunduk dan mendekat, tangannya yang keriput dengan cekatan membuka kotak P3K.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status