LOGINAlasan Karin ingin bekerja di siang hari karena ia bosan sendirian di rumah. Terlebih di malam hari pun ia juga kesepian karena kasih sayang Teguh telah terbagi. Karin juga malas memikirkan soal rumah. Jika lapar, ia tinggal beli saja. Ya, buat apa lagi susah-susah memasak karena suaminya pun tidak akan makan di rumah. Menikmati kesendirian, begitulah pikiran Karin sekarang. Sudah memiliki uang, ia bisa membelanjakannya sesuka hati. Karin ingin tampil lebih cantik, membuat pria bertekuk lutut di bawah kakinya. Ia ingin mengatakan kepada mereka seolah-seolah mencampakkan wanita sepertinya sangatlah merugi. Bangun di pukul delapan pagi, mandi, lalu pergi ke mana pun ia mau. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala permasalahan yang ada. Karin lebih banyak membaca hal-hal positif mengenai wanita yang bisa membuatnya naik glow up. Memperbaiki penampilan, belajar merias wajah, lalu bertutur kata. Karin tiba di pusat perbelanjaan. Ia membeli kosmetik yang cocok untuknya. Beberapa telah ia
Akhirnya selesai juga. Ini lewat setengah jam dari waktu yang biasanya dikatakan Lena. Rekan Karin yang baru itu bilang jika pelanggan biasanya menghabiskan satu jam untuk menyusu, tetapi Damian melewatkannya hingga 30 menit. Karin meringis melihat buah cherrynya yang gepeng, ia memandang pria itu. Damian merasakan tatapan pendonornya dan mengangkat bahu. "Tips untukmu. Belilah salep untuk mengobatinya." Damian tersenyum canggung. "Harusnya kamu bilang jika aku menyakitimu." "Tidak masalah asal uang tipsnya besar." Karin menerima uang tips senilai 2 juta secara cash. Ia berjalan ke kamar mandi karena pakaiannya masih ada di sana, dan tak lama keluar. Damian masih duduk di sofa. "Sudah selesai?" tanyanya. "Ya, aku boleh keluar?" "Setelah ini, apa kamu akan menyusui orang lain lagi?" tanya Damian. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" Karin malah mengirim balik pertanyaan. "Aku hanya tanya saja." Karin mengedikan bahu. "Jika ada pria yang lebih tampan dan kaya darimu,
Karin bisa merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya ketika Damian menghisap dan memainkan buah ranumnya. Gairahnya bangkit, ia ingin bukan sekadar sentuhan saja, tetapi lebih. Kedua kaki Karin bergerak gelisah, di bawah sana telah basah. Bibirnya ingin bergumam, tetapi terhalang oleh rasa malu. "Apa kamu merasa panas," bisik Damian. Ia menatap mata Karin yang membelalak karena kaget. Tubuh wanita ini sangat sensitif, disentuh sedikit saja sudah terbawa hasrat. "Kamu mau kita melakukan lebih?" Jari Damian menyusuri leher jenjang, lalu turun ke tulang selangka. "Sepertinya kamu butuh sentuhan, Nona."Karin menepis tangan itu, ia beringsut bangun, dan langsung menutup dadanya. "Jika Tuan sudah selesai, kita akhiri saja sampai di sini." Senyuman itu mengartikan sesuatu. Karin tahu pria ini tidak boleh sembarangan diusik. "Siapa bilang sudah selesai? Aku belum puas, dan jangan tutupi benda itu. Aku masih ingin melihatnya."Ternyata bukan hanya Dewa, tetapi pria ini juga mesum. Kari
Para wanita di sini memakai topeng penutup mata sehingga yang terlihat setengah bagian wajah serta bibir yang utuh. Karena pendonor asi berfokus pada bentuk tubuh. Terutama dua buah ranum yang tersembunyi. Damian berdeham, ia memerhatikan satu per satu pendonor. Menimbang yang cocok untuknya. Ia bisa melihat sebagian buah ranum tersebut karena wanita di sini mengenakan pakaian berleher rendah. Namun, yang satu ini menarik perhatian. Dia memakai kemeja berlengan panjang. Meski begitu, dua tonjolannya tetap terlihat jelas. "Aku pilih dia," ucap Damian sembari menunjuk Karin. Mami Mosa tersenyum. "Dia karyawan baru di sini, Karin. Baru malam ini bekerja."Damian mengerti maksud dari Mami Mosa. Itu artinya dia harus membayar dua kali lipat karena istilahnya masih perawan. "Aku tidak keberatan.""Tuan Damian memang baik hati." Mami Mosa mengulurkan tangan yang disambut oleh Karin. "Nah, Tuan Damian sudah memilih. Kamu layani beliau dengan baik.""Baik, Mami." Karin menundukkan kepala so
Karin masih belum bertanya mengenai wanita yang disembunyikan oleh Teguh. Ia ingin membiarkannya dulu, meski tentunya hati terus perih bila bertatapan dengan pria yang menyatakan cinta di depan, tetapi malah selingkuh. Sekarang Karin tahu jika Teguh memiliki dua ponsel. Ia memeriksanya ketika suaminya itu tengah mandi, dan tentu saja Karin kembali menyadap chat tersebut. Ia ingin tahu saja apa Teguh meminjam uang dari rentenir lagi. Karena itu bisa merugikan nantinya. Ponsel kedua digunakan untuk bertukar kabar dengan selingkuhannya itu. Karin bahkan menyimpan nomor selingkuhan Teguh. Ia akan menyimpan ini sebagai bukti yang bisa dijadikan sebagai pengajuan proses cerai. Setahu Karin, ia pernah mendengar proses cerai itu cukup rumit. Seorang istri akan ditanya dengan banyak pertanyaan. Sebab itulah, Karin perlu bukti agar proses tersebut lancar. "Kamu sedang apa?" tanya Teguh. "Main ponsel," jawab Karin seadanya. Teguh menatap meja makan yang kosong. Kemarin sarapan, sekarang mak
"Aku harus pulang," ucap Teguh. "Ini masih awal, Sayang. Baru pukul 10 malam. Kamu bilang pulangnya jam 12 malam nanti. Aku itu masih kangen sama kamu. Anak kita juga.""Kamu dengar sendiri tadi Karin telepon. Kalau dia marah gimana?"Wajah Miranda berubah masam. "Kapan sih kamu bakal pisah sama dia? Aku sudah kasih kamu anak.""Miranda! Kamu tahu kan Karin itu istriku. Bagaimanapun juga kamu bisa tinggal di rumah ini karena dia. Sekarang aku lagi bujuk supaya Karin mau kerja lagi sebagai pendonor asi. Tapi dia bersikeras tidak mau dan bilangnya ingin menikmati gajiku."Miranda berdecak, ia memalingkan wajah karena kesal akan sikap Teguh yang membela Karin dan karena wanita itu juga ingin menikmati hasil keringat kekasih gelapnya. Ia sedang mengandung saat ini. Miranda ingin memonopoli semua penghasilan Teguh untuk anak dan dirinya. "Kamu bilang cinta sama aku, tapi mana buktinya?" tagih Miranda. "Sayang, aku pertahanin Karin karena dia bisa bantu pengeluaran kita. Kamu bisa beli t







