Share

Bab 51

Author: Renita April
last update publish date: 2026-07-19 22:33:17

Karin bisa merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya ketika Damian menghisap dan memainkan buah ranumnya. Gairahnya bangkit, ia ingin bukan sekadar sentuhan saja, tetapi lebih. Kedua kaki Karin bergerak gelisah, di bawah sana telah basah. Bibirnya ingin bergumam, tetapi terhalang oleh rasa malu.

"Apa kamu merasa panas," bisik Damian. Ia menatap mata Karin yang membelalak karena kaget. Tubuh wanita ini sangat sensitif, disentuh sedikit saja sudah terbawa hasrat. "Kamu mau kita melakukan le
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 55

    Perasaan Karin tidak karuan. Matahari sudah kembali ke peraduan, tetapi Teguh belum juga pulang. Apa peduli Karin setelah melihatnya secara terang-terangan berkhianat. Ternyata lebih sakit saat melihat suami menggandeng wanita lain. Karin juga menyadari tindakannya kepada Sinta. Mungkin ini yang dirasakan oleh wanita itu saat melihat suaminya bersama perempuan lain. Ceritanya juga hampir sama. Meski dalam persetujuan, tetap saja sakit hati bila seseorang yang disayang jatuh dalam pelukan orang lain. Karin sangat mengerti, dan ia telah merasakannya. Sekarang jangan lagi terikat pada pria. Hiduplah untuk diri sendiri. Sebab itulah Karin menerima pesanan online yang ditujukan kepadanya. Terlebih pelanggan ini berasal dari lantai empat. Malam ini ia bisa mendapat uang yang banyak dengan menyusui seorang pria. Dengan lembaran kertas bernilai tersebut, Karin bisa membeli apa pun, ia akan melupakan Teguh dan semuanya. Pukul setengah delapan malam, Karin keluar. Ia mengendarai sepeda moto

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 54

    "Kamu memukulku?" Mata Miranda melotot penuh kebencian memandang Karin. "Ya, aku memukulmu," jawab Karin tidak kalah menantangnya. "Beraninya!" Miranda menarik rambut Karin sekuat tenaga dengan teriakan kebencian yang ia tujukan. Karin pun tidak mau kalah, ia membalas. Aksi tarik menarik dan mendorong ini menjadi tontonan pengunjung restoran mall. Teguh mematung, terlalu kaget hingga tubuhnya sulit digerakkan. Tira yang ada di sekitar mereka maju melerai, tetapi terdorong oleh keduanya. Jika tidak ada Ryan yang menyambutnya dari belakang, ia hampir saja jatuh. "Kenapa kamu diam saja, cepat lerai mereka," ucap Ryan, menyadarkan Teguh yang membisu di tempatnya. "Hei, Teguh!" Barulah pria itu sadar. Teguh maju melerai, ia menarik Miranda, lalu mendorong Karin hingga jatuh. Karin menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan, dan di saat itulah ia melihat betapa protektifnya Teguh dalam melindungi selingkuhannya. Teguh memeluk, merapi rambut dan mengusap pipi Miranda dengan penuh k

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 53

    Alasan Karin ingin bekerja di siang hari karena ia bosan sendirian di rumah. Terlebih di malam hari pun ia juga kesepian karena kasih sayang Teguh telah terbagi. Karin juga malas memikirkan soal rumah. Jika lapar, ia tinggal beli saja. Ya, buat apa lagi susah-susah memasak karena suaminya pun tidak akan makan di rumah. Menikmati kesendirian, begitulah pikiran Karin sekarang. Sudah memiliki uang, ia bisa membelanjakannya sesuka hati. Karin ingin tampil lebih cantik, membuat pria bertekuk lutut di bawah kakinya. Ia ingin mengatakan kepada mereka seolah-seolah mencampakkan wanita sepertinya sangatlah merugi. Bangun di pukul delapan pagi, mandi, lalu pergi ke mana pun ia mau. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala permasalahan yang ada. Karin lebih banyak membaca hal-hal positif mengenai wanita yang bisa membuatnya naik glow up. Memperbaiki penampilan, belajar merias wajah, lalu bertutur kata. Karin tiba di pusat perbelanjaan. Ia membeli kosmetik yang cocok untuknya. Beberapa telah ia

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 52

    Akhirnya selesai juga. Ini lewat setengah jam dari waktu yang biasanya dikatakan Lena. Rekan Karin yang baru itu bilang jika pelanggan biasanya menghabiskan satu jam untuk menyusu, tetapi Damian melewatkannya hingga 30 menit. Karin meringis melihat buah cherrynya yang gepeng, ia memandang pria itu. Damian merasakan tatapan pendonornya dan mengangkat bahu. "Tips untukmu. Belilah salep untuk mengobatinya." Damian tersenyum canggung. "Harusnya kamu bilang jika aku menyakitimu." "Tidak masalah asal uang tipsnya besar." Karin menerima uang tips senilai 2 juta secara cash. Ia berjalan ke kamar mandi karena pakaiannya masih ada di sana, dan tak lama keluar. Damian masih duduk di sofa. "Sudah selesai?" tanyanya. "Ya, aku boleh keluar?" "Setelah ini, apa kamu akan menyusui orang lain lagi?" tanya Damian. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" Karin malah mengirim balik pertanyaan. "Aku hanya tanya saja." Karin mengedikan bahu. "Jika ada pria yang lebih tampan dan kaya darimu,

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 51

    Karin bisa merasakan hawa panas yang menjalar di tubuhnya ketika Damian menghisap dan memainkan buah ranumnya. Gairahnya bangkit, ia ingin bukan sekadar sentuhan saja, tetapi lebih. Kedua kaki Karin bergerak gelisah, di bawah sana telah basah. Bibirnya ingin bergumam, tetapi terhalang oleh rasa malu. "Apa kamu merasa panas," bisik Damian. Ia menatap mata Karin yang membelalak karena kaget. Tubuh wanita ini sangat sensitif, disentuh sedikit saja sudah terbawa hasrat. "Kamu mau kita melakukan lebih?" Jari Damian menyusuri leher jenjang, lalu turun ke tulang selangka. "Sepertinya kamu butuh sentuhan, Nona."Karin menepis tangan itu, ia beringsut bangun, dan langsung menutup dadanya. "Jika Tuan sudah selesai, kita akhiri saja sampai di sini." Senyuman itu mengartikan sesuatu. Karin tahu pria ini tidak boleh sembarangan diusik. "Siapa bilang sudah selesai? Aku belum puas, dan jangan tutupi benda itu. Aku masih ingin melihatnya."Ternyata bukan hanya Dewa, tetapi pria ini juga mesum. Kari

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 50

    Para wanita di sini memakai topeng penutup mata sehingga yang terlihat setengah bagian wajah serta bibir yang utuh. Karena pendonor asi berfokus pada bentuk tubuh. Terutama dua buah ranum yang tersembunyi. Damian berdeham, ia memerhatikan satu per satu pendonor. Menimbang yang cocok untuknya. Ia bisa melihat sebagian buah ranum tersebut karena wanita di sini mengenakan pakaian berleher rendah. Namun, yang satu ini menarik perhatian. Dia memakai kemeja berlengan panjang. Meski begitu, dua tonjolannya tetap terlihat jelas. "Aku pilih dia," ucap Damian sembari menunjuk Karin. Mami Mosa tersenyum. "Dia karyawan baru di sini, Karin. Baru malam ini bekerja."Damian mengerti maksud dari Mami Mosa. Itu artinya dia harus membayar dua kali lipat karena istilahnya masih perawan. "Aku tidak keberatan.""Tuan Damian memang baik hati." Mami Mosa mengulurkan tangan yang disambut oleh Karin. "Nah, Tuan Damian sudah memilih. Kamu layani beliau dengan baik.""Baik, Mami." Karin menundukkan kepala so

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status