LOGINPara wanita di sini memakai topeng penutup mata sehingga yang terlihat setengah bagian wajah serta bibir yang utuh. Karena pendonor asi berfokus pada bentuk tubuh. Terutama dua buah ranum yang tersembunyi. Damian berdeham, ia memerhatikan satu per satu pendonor. Menimbang yang cocok untuknya. Ia bisa melihat sebagian buah ranum tersebut karena wanita di sini mengenakan pakaian berleher rendah. Namun, yang satu ini menarik perhatian. Dia memakai kemeja berlengan panjang. Meski begitu, dua tonjolannya tetap terlihat jelas. "Aku pilih dia," ucap Damian sembari menunjuk Karin. Mami Mosa tersenyum. "Dia karyawan baru di sini, Karin. Baru malam ini bekerja."Damian mengerti maksud dari Mami Mosa. Itu artinya dia harus membayar dua kali lipat karena istilahnya masih perawan. "Aku tidak keberatan.""Tuan Damian memang baik hati." Mami Mosa mengulurkan tangan yang disambut oleh Karin. "Nah, Tuan Damian sudah memilih. Kamu layani beliau dengan baik.""Baik, Mami." Karin menundukkan kepala so
Karin masih belum bertanya mengenai wanita yang disembunyikan oleh Teguh. Ia ingin membiarkannya dulu, meski tentunya hati terus perih bila bertatapan dengan pria yang menyatakan cinta di depan, tetapi malah selingkuh. Sekarang Karin tahu jika Teguh memiliki dua ponsel. Ia memeriksanya ketika suaminya itu tengah mandi, dan tentu saja Karin kembali menyadap chat tersebut. Ia ingin tahu saja apa Teguh meminjam uang dari rentenir lagi. Karena itu bisa merugikan nantinya. Ponsel kedua digunakan untuk bertukar kabar dengan selingkuhannya itu. Karin bahkan menyimpan nomor selingkuhan Teguh. Ia akan menyimpan ini sebagai bukti yang bisa dijadikan sebagai pengajuan proses cerai. Setahu Karin, ia pernah mendengar proses cerai itu cukup rumit. Seorang istri akan ditanya dengan banyak pertanyaan. Sebab itulah, Karin perlu bukti agar proses tersebut lancar. "Kamu sedang apa?" tanya Teguh. "Main ponsel," jawab Karin seadanya. Teguh menatap meja makan yang kosong. Kemarin sarapan, sekarang mak
"Aku harus pulang," ucap Teguh. "Ini masih awal, Sayang. Baru pukul 10 malam. Kamu bilang pulangnya jam 12 malam nanti. Aku itu masih kangen sama kamu. Anak kita juga.""Kamu dengar sendiri tadi Karin telepon. Kalau dia marah gimana?"Wajah Miranda berubah masam. "Kapan sih kamu bakal pisah sama dia? Aku sudah kasih kamu anak.""Miranda! Kamu tahu kan Karin itu istriku. Bagaimanapun juga kamu bisa tinggal di rumah ini karena dia. Sekarang aku lagi bujuk supaya Karin mau kerja lagi sebagai pendonor asi. Tapi dia bersikeras tidak mau dan bilangnya ingin menikmati gajiku."Miranda berdecak, ia memalingkan wajah karena kesal akan sikap Teguh yang membela Karin dan karena wanita itu juga ingin menikmati hasil keringat kekasih gelapnya. Ia sedang mengandung saat ini. Miranda ingin memonopoli semua penghasilan Teguh untuk anak dan dirinya. "Kamu bilang cinta sama aku, tapi mana buktinya?" tagih Miranda. "Sayang, aku pertahanin Karin karena dia bisa bantu pengeluaran kita. Kamu bisa beli t
Teguh tidak memerhatikan ada kendaraan yang berhenti di tepi jalan karena terbatasnya lampu penerangan. Itu sebabnya, ia terus melanjutkan perjalanan hingga berhenti di sebuah rumah baru. Pintu rumah terbuka, seorang wanita memakai piama keluar menyambut Teguh. Ia merentangkan kedua tangan, lalu Teguh datang memeluknya. "Kamu agak malam. Mampir ke rumahmu dulu?" tanya Miranda. "Kerjaan memang banyak. Aku langsung mampir ke sini karena kangen sama kamu." Teguh membawa wanita itu masuk, lalu menutup pintu. "Bayinya sehat?" Ia mengusap perut yang mulai membuncit. "Ya, kamu nginap di sini kan?" "Malam ini aku harus pulang. Kalau keterusan beralasan lembur, dia pasti curiga.""Sayang, aku ini hamil. Butuhnya kamu yang ada di sampingku.""Kamu harus ngerti dong. Aku sudah penuhi semua kebutuhan kamu, termasuk beli rumah."Miranda tersenyum pernuh arti. "Aku suka rumah ini.""Apa pun untuk kamu dan anak kita."Teguh tidak tahu jika Karin berdiri di depan rumahnya. Bukan Tira, tetapi sos
"Kenapa ponselmu memakai sandi? Aku tidak bisa melihat isi di dalamnya," ucap Karin. Buat apa ia berbohong? Niatnya memang ingin mengecek telepon genggam Teguh. "Aku bekerja di tempat ramai orang dan harus berjaga-jaga kan?" Karin mengulurkan ponsel itu. "Kamu mau beritahu aku sandinya atau mau membukanya sendiri?"Teguh mengambil benda pipih tersebut, lalu membuka sandinya. "Nih, sudah kubuka. Memangnya mau lihat apa sih?""Kamu bilang terlibat judi online, kan? Aku akan memeriksanya."Teguh terdiam, ia masih berdiri mematung memperhatikan Karin yang memeriksa isi dalam ponselnya. Karin melirik suaminya yang tidak kunjung memakai baju, ia memandang suaminya dengan penuh tanda tanya, melihat itu Teguh lekas masuk kamar. "Awas saja kamu merahasiakan sesuatu," gumam Karin. Tidak ada yang aneh. Baik foto-foto yang ada di galeri hanya potret pekerjaan, Karin sendiri, dan Teguh. Panggilan telepon yang diterima dan keluar juga diperiksa, tetapi tidak ada yang bisa dibuat curiga. Lalu Ka
Kepala Karin terasa berdenyut memikirkan Teguh. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh suaminya itu? Uang habis karena hutang judi online. Teguh juga tidak kumpul bersama dengan teman lamanya. Apa Karin salah mengira niat Teguh ketika pria itu mampir di agen properti? Langkah Karin gontai menuju kediamannya sendiri. Ia tidak bernapsu untuk makan, padahal niatnya memang ingin membeli makanan. Sakit hati karena dibohongi telah mengalahkan segalanya. Ia masih belum tahu apa yang tengah Teguh lakukan, jejaknya pun tidak ada. Kembali ke rumah, Karin sendiri lagi. Ia menertawai keadaannya sekarang. Apa ini karma karena telah meninggalkan Teguh? Setiap malam, Karin pergi menemui Dewa dan meninggalkan suaminya sendiri. Tapi, pekerjaan itu juga diinginkan oleh Teguh. Karma jenis apa yang sedang ia alami sekarang? Karin terdiam sesaat, ia tidur bersama Dewa tanpa sepengetahuan suaminya sendiri. Ia dulu yang berselingkuh. Karin menangis, ia tidak menginginkan pekerjaan menjadi pendonor asi, tetap







