Share

Chapter 12 =Makan Malam Ribut=

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-23 22:28:04

"Kita tetap bisa akur bahkan dari jauh, Bagastya," ujar Ridhika dengan suara rendah. Masih mencoba menekan rasa kesalnya.

Namun, alih-alih menangkap maksudnya bahwa dia tidak nyaman pria itu berdiam terlalu dekat, Bagastya malah tertawa kecil. Seolah menganggap apa yang dikatakannya barusan itu adalah sebuah lelucon.

"Bagaimana bisa menunjukkan keakuran kalau kita berjauhan, hah?" Bagastya menarik sandaran kursi dari tangan Ridhika. Langsung duduk tanpa peduli apa-apa lagi. "Bodoh," gumamnya sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 21 =Pertemuan Tidak Terduga=

    "Jadi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Ridhika sekali lagi.Dia duduk di atas kursi yang diambilkan Bagastya dari kafetaria, mengamati bagaimana pria itu memotong-motong sayuran dengan cekatan. Nah, sebenarnya dia mau saja membantu. Namun, masalahnya dia tidak pandai menggunakan pisau. Di rumah, Ibu biasa menjauhkan semua benda tajam dari jangkauannya."Karena tidak ada kegiatan," jawab Bagastya santai.Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Kau tidak ada kelas?""Ada. Tapi, aku tidak harus ikut semua. Itulah esensi antagonis, untuk melanggar aturan."Jawaban Bagastya yang diucapkannya dengan penuh percaya diri tersebut membuat Ridhika gagal menahan senyum. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintas di benaknya. Sesuatu yang cukup menarik untuk ditanyakan, mumpung mereka berdua sedang akur."Aku lihat ada kembang api dinyalakan dari sini beberapa malam yang lalu. Kau salah satu yang terlibat, ya?""Bukan cuma terlibat." Bagastya menoleh kr arah Ridhika dengan ekspresi bangga. "Aku Ketuanya."Ridhi

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 20 =Kafetaria Umum=

    "Hai, Nona Protagonis," sapa Bagastya sambil berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang ternoda debu setelah jatuh. "Bisa berdiri sendiri, kan?"Ridhika memutar bola matanya, jengah dengan lagak Bagastya yang tengil itu. Dia ikut berdiri, lalu seperti halnya apa yang pria itu lakukan, menepuk pakaiannya dari debu. "Jadi, benar ya kalau kau alergi?"Sontak Ridhika memegang wajahnya begitu mendengar kalimat Bagastya tersebut. Ketika menyadari bahwa syalnya sudah tidak berada di tempat yang benar, dia buru-buru merapikan kain tebal itu agar kembali menutupi setengah wajahnya."Kau menutupi wajah karena takut menakuti orang atau takut dianggap jelek?" Lanjut Bagastya dengan sebelah alis terangkat.Kini, Ridhika mendelik menatap pria itu. Apa-apaan sih pertanyaannya?! "Apa? Itu dua hal yang berbeda, kau tahu?" Bagastya membalas delikan yang diterimanya dengan polos.Ridhika menghela napas kasar, "Sedang apa kau di sini?" Tanyanya balik, sepenuhnya tidak mengindahkan semua perkataan Bagastya

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 19 =Kecurigaan=

    Ridhika membiarkan Widuri mengoleskan salep yang dikirimkan oleh Nenek Dokter kepada mereka segera setelah sisa bubur yang diperiksa positif mengandung Tvakvisa.Kini, seluruh tubuhnya terasa lengket karena bahan salep tersebut. Namun, setidaknya sensasi panasnya sudah berkurang banyak.Si Nenek juga mengirimkan ramuan untuk meringankan perih di tenggorokannya. Jadi, sekarang dia sudah bisa bicara, meski dengan suara pelan."Ini adalah alasan mengapa kita harus sukses di dunia cerita nanti, Ridhi," ujar Widuri. "Supaya mampu membayar pelayanan kesehatan eksklusif seperti ini."Ridhika mengangguk setuju. Dia juga kagum dengan seberapa cepat Nenek Dokter melaksanakan pemeriksaan dan menyiapkan obat untuknya. Semua sudah siap digunakan di malam hari.Sementara itu, di desa dulu, dia dan Ibunya harus menunggu seminggu hanya untuk mendapatkan obat demam. Sungguh, perbedaan yang besar sekali."Kamu tahu? Aku kaget keluargamu tidak kaya raya. Nenek buyutmu kan padahal salah satu antagonis pa

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 18 =Tvakvisa=

    Buram. Itulah yang dilihat oleh Ridhika selama beberapa menit setelah dia sadarkan diri. Tenggorokannya pun terasa perih, jadi alih-alih memberitahukan bahwa dia sudah bangun pada Widuri yang sedang bicara dengan seseorang, satu-satunya hal yang sanggup dilakukannya hanya memandang kosong ke arah dinding.Lalu, sedikit demi sedikit matanya sudah bisa menangkap silau dari jendela yang terbuka, diikuti oleh siluet benda-benda di sekitar kamar, serta sosok beberapa orang tidak dikenal yang mengelilinginya. Mereka semua tampak cemas dan dia tentu tahu alasannya. "Keadaanku pasti sangat buruk." Dalam hati, Ridhika mengakui.Dia tidak mati rasa. Sehingga, bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah di tubuhnya. Kalau tidak, menilik matahari yang sudah setinggi itu, dia pasti sudah akan dipaksa masuk kelas bagaimana pun caranya sekarang."Ridhika yang malang," sesal Widuri, mendudukkan diri di tepi tempat tidur sambil mengusap rambutnya lembut. "Aku akan absen untuk menjaga dia hari

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 17 =Insiden Mengerikan=

    "Ayolah, Ridhi. Buat riasanmu dengan benar," keluh Widuri."Aku sedang mencoba. Tidak semudah itu, ya." Ridhika menghapus eyeliner-nya untuk yang kesekian kali sambil menggerutu. "Sial.""Makanya, kan sudah kubilang, kamu harus bangun lebih pagi.""Setiap hari, aku bangun jam 5 pagi, Widuri.""Cobalah bangun jam 4!""Lebih baik aku tidak usah pakai riasan saja kalau sampai begitu."Ridhika bisa merasakan Widuri sedang mendelik ke arahnya, tetapi dia hanya tersenyum simpul. Berusaha mempertahankan energi positif, agar tidak habis kesabaran mengulang-ulang riasannya. Masih gelap di luar jendela, namun seperti biasa, Griya Nayika sudah penuh dengan kehidupan. Suara troli sarapan bolak-balik di sepanjang lorong adalah yang paling nyaring. Ridhika bisa mencium aroma bubur sayur hangat bahkan meskipun porsi makanan mereka belum tiba dan itu berhasil membuat suasana hatinya sedikit lebih baik."Troli sarapan!" Seruan terdengar disusul oleh ketukan pada pintu kamar mereka.Dari sudut matanya

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 16 =Siapa Saja Yang Sudah Tahu?=

    Sudah untuk kesekian kalinya Ridhika membolak-balikkan halaman contoh laporan yang diberikan oleh Ibu Binar. Akan tetapi, berapa kali pun dia membacanya, Ridhika masih belum paham mengapa hal-hal seperti kebaikan hati harus dilaporkan. Kemudian, dia ingat bahwa dia berada di Akademi yang mencetak peran, bukan manusia. Tentu mereka memerlukan bukti untuk melihat keberhasilan siswa dan siswinya. Hanya saja ... tetap canggung. "Sulit, ya?" Widuri duduk berselonjor di sampingnya seraya ikut memperhatikan laporan tersebut."Membuat laporannya, tidak. Mencari orang yang bisa diberikan kebaikan, iya.""Hm, begitu. Lagipula, kenapa sih kamu harus absen di tengah jam belajar?""Kalau bisa, aku juga tidak mau begitu. Tapi, Adhyaksa memanggil. Jadi, mau bagaimana lagi?"Ridhika mengetukkan jarinya pada halaman laporan yang mencantumkan keterangan dari orang yang dibantu mengenai kebaikan yang diterimanya. Tiba-tiba tubuhnya merinding. Entahlah! Dia tidak tahu banyak tentang hal ini, namun buka

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status