MasukKakakku memanggilku sayang dan mentransferku uang. Calon istrinya mengira aku adalah wanita simpanannya. Dia membawa orang-orang ke rumah baru yang kudesain dengan indah. "Masih muda, tapi sudah jadi wanita simpanan. Hari ini, kugantikan orang tuamu mendidikmu!" "Aku akan memposting tindakanmu ini di forum universitas supaya dosen dan teman-temanmu tahu kamu wanita murahan!" Mereka menghancurkan rumah baruku, menarik bajuku. Mereka menggantungkan kartu pelajar di leherku, lalu memotretku. Ketika kakakku datang, matanya memerah. "Beraninya kalian menindas adikku! Kalian sudah bosan hidup ya?"
Lihat lebih banyakIlbi mengambil laptop di kamarnya dan menunjukkan sesuatu pada Malik. Rahangnya mulai mengencang.
“Lihat ini. Kemarin aku dikirimi Pak Hito potongan berita yang perkara perlindungan saksinya diopor padaku. Kasus keracunan ganda."Kejadiannya di suatu desa dekat kecamatan Stabat, kabupaten Langkat. Kasusnya masih ditangani di Polsek setempat. Kejadiannya tiga hari yang lalu,” kata Ilbi sambil membuka layar berupa potongan berita.“Pada kamis malam, 7 September 2023 di suatu perkampungan kecil dengan sebutan Kampung Rampai mengalami suatu tragedi mengerikan dimana dua pria dewasa meninggal keracunan diduga lewat minuman bandrek yang mereka konsumsi."Kejadian tepatnya saat mereka duduk bersama di tenda darurat yang dibuat di atas tanjakan tinggi jalan lalu lintas kampung tersebut."Adapun orang lain yang meminum bandrek dari jenis yang sama tidak mengalami hal yang aneh ataupun gejala keracunan. Sehingga diduga racun berasal dari botol minum yang dibawa satu korban, bernama Saba."Orang kampung menyebut tanjakan tersebut benteng. Tenda atau posko darurat dibangun lantaran banjir sudah menggenangi jalan kampung mereka selama dua hari dan mereka berjaga-jaga atas kemungkinan intensitas air banjir yang semakin tinggi."Korban yang meninggal yaitu Ahmad Saba, 29 tahun dan Adil Pras, 43 tahun. Total ada 15 orang yang berjaga di posko. Adapun hubungan antara kedua korban cukup menarik disimak."Lima tahun lalu Adil Pras bercerai dari Sasmita yang sekarang berusia 41 tahun dan menikah dengan mantan pacar Saba bernama Nurah saat gadis itu belum genap 19 tahun."Adapun Sasmita langsung tukar guling dengan menikahi Saba. Pada waktu kejadian Sasmita bersama ibu-ibu yang lain memasak bubur kacang hijau untuk diberi kepada orang-orang sekitar."Sementara Nurah bertugas memasak bandrek di sebuah dandang. Posko banjir itu sendiri diinisiasi oleh korban Adil Pras yang merupakan agen pengepul sawit...”Malik mengerutkan kening sambil terus membaca artikel dan mencemooh.” Siapa yang menulis berita begini, ‘cukup menarik disimak’ dan ‘tukar guling’ lebih banyak memasukkan opini dan cenderung tidak sopan!”"Biasalah penulis portal. Aku memutuskan tidak terlalu mengikuti kasus ini awalnya. Aku tidak berpikir akan ada yang salah tuduh untuk kita bela. Saat kejadian naas itu, banyak saksi mata dan mereka terkurung di antara banjir."Jika memang ada pembunuhan pelakunya harusnya berada di antara mereka semua yang ada di sana. Tapi jika yang terjadi adalah bunuh diri, bunuh diri ganda, harusnya akan segera terungkap juga.”“Jika memang pembunuhan maka istri-istri korbanlah paling berpeluang masuk dalam daftar calon tersangka,” kata Malik setelah selesai membaca artikel."Latar belakang hidup mereka berempat ganjil. Bisa-bisanya dua korban duduk bersama. Kau mau pulang sekarang?"“Iya. Nanti akan kuamati lagi berita terkait di rumah,” sambung Malik yang berniat mengakhiri kunjungannya. Ia mulai bangkit dari kursi."Bagaimana? Kau mau bergabung pada lembaga ini? Maaf, aku tak memberi tawaran yang bagus," ujar Ilbi dengan rasa tak enak.Malik mengangguk. "Yah, memang tawaranmu kurang bagus jika memandang dari segi finansial. Tapi jujur saja aku sangat tertarik jika diberi kesempatan untuk berurusan dengan dunia kriminal sungguhan.""Yang benar?"“Yah. Sekarang aku harus pulang. Waktunya mandi,” jawabnya sambil mengendus ketiak. Malik bahkan tidak tahan jika badannya mulai sedikit saja berbau.Ilbi menatap Malik sekali lagi. “Bagaimana? Kau akan ikut membantuku mengawal kasus ini ?”"Yah, sejauh ini sih aku tertarik. Kabari saja kalau kau akan bergerak."***Ilham Birsi nama panjangnya. Dua belas tahun lalu saat mereka kelas 12 SMA, Maliklah yang memanggilnya Ilbi dengan mengambil masing-masing dua huruf dari nama depan dan belakangnya.Mereka di satu klub sekolah yang sama. Klub unik yang mendiskusikan perkara-perkara kriminal.Ilbi sekarang bekerja sebagai pengacara di salah satu biro hukum terkenal di Medan milik Pak Hito Hutasoit. Ia juga menjadi bagian dari Tim Advokat Independen Mandiri (TIAM)yaitu lembaga sosial afiliasi dari firma hukum Pak Hito yang diperuntukkan untuk membela saksi atau korban dalam posisi rentan.Semacam lembaga sosial yang juga cukup sering memberi perlindungan atau perwakilan hukum bagi warga ekonomi bawah. Lembaga itu dibangun Pak Hito demi meningkatkan citra baik firma hukumnya.Lembaga TIAM banyak kehilangan tim lantaran lembaga tersebut lebih bisa disebut lembaga 'amal'. Tidak ada gaji memadai yang diperoleh, melainkan hanya pengalaman dan citra baik yang dibutuhkan calon pengacara.Namun Malik yang sedang cuti tertarik dengan aktivitas yang sahabatnya lakukan di TIAM setelah ditawarinya.Malik sedang berada di rumahnya Medan untuk rehat sejenak dari usaha jasa perdetektifan swasta yang berbasis di Jakarta.Beberapa jenis kasus yang ditanganinya sebelumnya yaitu jasa pencarian jejak seorang yang menjadi target kliennya dan juga cukup sering untuk menyelidiki pasangan yang berselingkuh maupun kawin lagi.Kasus terakhir yang diselesaikannya sebelum memilih mudik adalah berhasil menggagalkan pernikahan anak pengusaha garmen.Diketiknya peristiwa keracunan di Kampung Rampai di laman pencarian G****e setelah pulang dari rumah Ilbi. Berita yang muncul hanya bersumber dari portal daerah.Sama persis isinya seperti yang Malik dan Ilbi baca tadi siang. Ada satu tulisan yang agak berbeda dengan tambahan deskripsi mengenai keluarga korban.Istri-istri yang ditinggalkan yaitu istri Saba yang bernama Sasmita(41) dan istri dari Adil bernama Nurahmania(23). Hubungan mereka berempat menjadi pergunjingan dan bahan gosip di desa mereka tinggal lantaran mirip drama-drama TV.Lima tahun lalu Adil yang masih terikat pernikahan dengan Sasmita jatuh cinta dengan Nurah yang menjalin kasih dengan Saba.Menurut berbagai cerita dari warga kampung sendiri Adil berkawan dengan Imran, ayah Nurah dan tahu bahwa dia banyak menanggung hutang termasuk dengan Adil sendiri. Bahkan mengagunkan satu petak sawah dan rumah mereka tinggal.Naasnya Imran tiba-tiba meninggal karena pembuluh darah di kepalanya pecah dan tidak meninggalkan uang untuk melunasi hutang.Adil kemudian menawarkan diri membersihkan hutang-hutangnya dengan syarat Nurah bersedia menjadi istri sirinya.Adil bahkan berhasil membujuk Saba memutuskan hubungan. Saba juga yang akhirnya meyakinkan Nurah menerima pinangannya untuk menyelamatkan aset keluarga serta keluar dari jeratan hutang.Singkat cerita mereka menikah dengan halangan Sasmita yang tak berpengaruh.Almarhum Adil memiliki ruko dua lantai yang berseberangan langsung dengan usaha pengepulan sawitnya. Ruko itu menjalankan usaha jual beli pupuk serta halaman cukup lebar di belakang, yang kini menjadi milik Sasmita berkat perceraiannya enam bulan setelah Adil memperistri Nurah .Kedua usaha tersebut terletak berseberangan dengan dipisah jalan untuk umum selebar tiga meter.Adil memilih memperkerjakan Saba yang sudah merelakan Nurah menjadi istrinya. Bahkan ia bebas memilih pekerjaannya meski yang ringan sekalipun dengan bayaran lumayan.Pada waktu yang singkat, Saba ditempatkan menemani Sasmita berjualan di ruko lantaran lelaki itu tidak terlalu bisa bekerja dengan tenaga sementara tidak mungkin menempatkannya di bagian pembukuan.Lalu entah bagaimana mulanya Sasmita ketahuan berselingkuh dengan Saba yang dua belas tahun lebih muda darinya. Adil marah dan menceraikan Sasmita.Namun perceraian tersebut seperti sudah diprediksi oleh pasangan Sasmita dan Saba. Sasmita memperoleh harta gono gini berupa ruko beserta usaha pupuk atas namanya berikut halaman belakang rumah.Sasmita pun menikah dengan Saba dan tetap mendiami ruko dan bahkan membuat satu kolam ikan di halaman belakangnya.Langkah kakiku sontak terhenti. Namun, tangan besar yang hangat itu segera menarikku keluar.Setelah kembali ke mobil, kakakku berucap dengan lembut, "Reese, jangan pedulikan omongan Evelyn. Apa pun hasilnya, itu bukan salahmu."Aku mengangguk dan tersenyum.Evelyn mengajukan permohonan bebas bersyarat dengan alasan hamil. Namun, kerabatnya masih ditahan di kantor polisi.Dua hari kemudian, polisi tiba-tiba menelepon dan mengatakan kakak sepupu Evelyn ingin bertemu kami."Aku ingin membuat kesepakatan dengan kalian." Kami baru tidak bertemu beberapa hari, tetapi wanita penyiar itu sudah kehilangan banyak berat badan."Atas dasar apa kamu ingin membuat kesepakatan dengan kami?" Kakakku bahkan malas meliriknya."Aku punya informasi yang bisa membantu kalian mengatasi masalah sekarang. Permintaanku nggak banyak. Aku cuma ingin kalian nggak meminta kompensasi dariku," jelas wanita penyiar itu dengan cemas.Sebelum kakakku berbicara, aku menyahut, "Coba katakan dulu. Kalau informasimu berni
Aku percaya pada kakakku.Hingga suatu hari, ketika aku dan kakakku sedang makan, ponselnya tiba-tiba berdering."Apa?" Alis kakakku berkerut. Wajahnya menjadi sangat suram."Bawa dia ke rumah sakit. Aku mau hasil yang pasti." Setelah mengakhiri panggilan, kakakku hanya diam.Aku bisa menebak bahwa hal ini berkaitan dengan Evelyn. "Kak?""Evelyn hamil," ujarnya dengan suara yang sangat dingin.Aku sontak termangu. Kabar ini sungguh mengejutkan. Sejujurnya, aku tidak punya cara untuk memaafkan Evelyn. Dia bukan hanya melecehkanku, tetapi juga menghancurkan barang peninggalan orang tuaku.Namun, Evelyn hamil anak kakakku. Itu artinya, anak itu adalah keponakanku. Aku bisa melihat kakakku sangat dilema. "Kak, anak itu nggak bersalah." Meskipun merasa enggan, aku tetap bertindak rasional."Anak itu nggak boleh dilahirkan." Beberapa saat kemudian, kakakku berucap dengan dingin, "Kalau ada anak di antara kami, aku nggak bakal bisa terlepas dari Evelyn untuk selamanya."Ini pertama kalinya ak
Evelyn yang dikelilingi oleh sekelompok orang itu tampak pucat pasi. Dia tidak bisa melontarkan sepatah kata pun.Ketika melihat Evelyn tidak merespons, orang-orang mulai panik dan mendorongnya. Tangan yang pernah mendorong dan menekanku itu kini menyentuh Evelyn. Karena terdesak, mereka tidak memperhatikan tenaga mereka lagi dan Evelyn terhuyung."Cukup! Kalian sendiri yang mau ikut saat aku bilang mau memukul pelakor. Kalian juga yang ingin menyanjung Henry!" seru Evelyn yang panik."Kalian takut Henry selingkuh dan mencampakkanku, lalu kalian nggak bisa mengambil keuntungan dariku lagi. Makanya, kalian berbondong-bondong membantuku, 'kan? Sudah terlambat untuk melempar tanggung jawab sekarang. Kita harus menanggungnya bersama!""Lagi pula, waktu aku meminta pendapat kalian, kalian yang memberiku ide untuk menelanjanginya dan membawanya ke jalanan, 'kan?"Ucapan Evelyn ini sontak menggusarkan semua orang. Situasi menjadi di luar kendali."Apa katamu? Maksudmu, kami salah karena memba
"Henry, maafkan aku. Aku nggak tahu dia adikmu. Kulihat kamu mentransfernya uang, bahkan memanggilnya sayang. Kukira dia wanita simpananmu, makanya aku ...."Ketika melihat para kerabatnya akan dibawa pergi oleh polisi, Evelyn pun panik. Dia tidak sempat memedulikan cederanya lagi dan berlari ke hadapan kami."Hanya karena spekulasimu yang nggak berdasar itu, kamu rasa kamu berhak menyakiti adikku? Jelaskan saja semuanya pada polisi."Kakakku memapahku pergi. Evelyn ingin mengejar, tetapi polisi menahannya. Orang-orang di sekitar pun memotret Evelyn tanpa memedulikan larangan polisi.Kakakku membelikanku pakaian baru, lalu membawaku ke rumah sakit. Ketika melihat lebam dan bengkak pada tubuhku, dia sungguh naik pitam."Kak, aku baik-baik saja kok."Kakakku memelukku dan berucap dengan rasa bersalah, "Maafkan aku, Reese.""Mereka menghancurkan rumah barumu dan lukisanmu. Barang peninggalan Ibu juga hancur." Aku tidak bisa menahan air mataku."Jangan nangis. Aku sudah suruh orang memperb
Untungnya, Henry tinggi dan tegap. Jasnya sudah cukup untuk menutupi seluruh tubuhku. Aku seketika merasa sangat aman."Reese, apa ada yang sakit?"Aku tidak meladeninya karena dia terlambat menolongku. Ketika Evelyn memaksaku berlutut, aku diam-diam menekan tombol kontak darurat. Di dunia ini, aku
"Evelyn, biar kuperingatkan sekali lagi. Aku adalah adik kandung Henry. Yang kamu pegang adalah barang peninggalan orang tua kami." Suaraku bergetar, mataku merah. Yang ada di benakku adalah penampilan Ibu saat sakit dan menyeka piala itu dengan tangan bergetar."Pertanyaanku cuma satu, mau berlutut
Tubuhku seketika mati rasa melihat lukisan yang hancur itu. Setelah lukisan itu hancur, Evelyn menemukan piano seharga 16 miliar. Aku hanya menatap dengan dingin karena bisa menebak apa yang akan terjadi.Evelyn menghampiri piano itu sambil menatap lekat-lekat. Kemudian, dia menyapukan tangannya ke
Wanita penyiar itu mengambil kartu pelajarku, lalu berkata dengan raut wajah bangga, "Wanita ini licik sekali. Bukannya mengaku, malah ingin menipu kita dia adik Henry."Wanita itu meletakkan kartu pelajarku di depan kamera. "Namanya Reese. Marga mereka saja jelas berbeda. Masih mau menipu kita. Dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.