Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 237. Keinginan Tersembunyi

Share

237. Keinginan Tersembunyi

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-31 21:06:45

Linda dan Panda bekerja sama dengan sangat apik.

Sinkronisasi gerakan kedua gadis cantik itu terpancar begitu sempurna, membentuk barikade serangan beruntun yang saling melengkapi antara teknik pertempuran jarak dekat khas Teratai Kembar milik Linda dan kelincahan refleks Tiongkok milik Panda.

Serangan keduanya begitu gencar dan kuat. Lintasan pukulan serta sabetan kaki mereka meluncur deras dari dua sudut berbeda secara bersamaan, menyapu celah pertahanan Teja tanpa memberikan sedikit pun rua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   244. Perubahan Besar

    Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   243. Bukti Pijatan

    Teja beranjak merangkak menaiki ranjang dan mengungkungi tubuh polos Linda. Pemuda berambut indah itu bertumpu pada kedua lengannya di sisi kanan dan kiri bahu Linda, membiarkan kehangatan fisiknya menyelimuti paras cantik sang gadis dari jarak yang teramat dekat.Perlahan dan penuh perasaan Teja merunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir tipis Linda. Sentuhan pertama itu terasa begitu halus dan hangat, memicu getaran lembut yang menjalar dari rongga dada hingga ke seluruh tubuh mereka.Keduanya saling memejamkan mata menikmati penyatuan bibir yang hangat. Suasana ruangan berpendingin udara itu seketika hening, hanya menyisakan desir napas serta desahan gairah yang berhembus panas di antara mereka.Teja dengan lembut kini menyedot lidah Linda dan mengulumnya. Pemuda itu memainkan ritme ciumannya secara cermat, memancing balasan perlahan dari Linda yang kian menyerahkan diri sepenuhnya pada kehangatan momen tersebut.Bibir atas dan bawah Linda juga tak luput dari lumatan Teja. His

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   242. Minta Izin

    "Berhasil, Lin. Punyamu jepitnya kenceng banget!" puji Teja sembari menghentikan ayunan jemarinya sejenak di dalam sana. Teja merasakan kontraksi alami dari jaringan otot kewanitaan Linda yang kini mencengkeram begitu rapat dan ketat berkat pijatan serta aliran energi Qi yang telah disalurkannya."Iya, Ja. Ohhh. Berasa banget ketatnya. Uh, lemess," keluh Linda terengah-engah dengan suara yang sangat parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya terkulai pasrah di atas bantal, merasakan sensasi berdenyut yang begitu melambungnya di area sensitif miliknya.Seluruh persendian tubuhnya seolah kehilangan tenaga usai diterjang orgasme beruntun.Teja akan melanjutkan kocokan dua jarinya lagi, namun tangan Linda langsung menahannya. Jemari halus gadis itu melingkar lemah di pergelangan tangan Teja, mencoba menghentikan gerakan lanjutan yang berpotensi membuatnya semakin tidak berdaya."Stop, Ja! Udahan dong pakai jarinya. Pakai punyamu yang asli aja!" seru Linda jujur

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   241. Uji Jepitan

    "Jaaaa!" pekik Linda saat tiba-tiba gel pelicin pijat dituangkan Teja di atas serambi miliknya yang sudah berkedut-kedut dari tadi. Sensorik kulit di area paling sensitif itu tersengat sensasi sejuk yang kontras dengan gelombang panas gairah yang telah membakar tubuhnya sejak awal pijatan.Tangan Teja menyusul melakukan pijatan lembut di bagian labia mayora serta pangkal paha Linda. Jemari pemuda ahli pijat legendaris itu berputar ringan, menata alur saraf di bawah lipatan paha dalam untuk mengurai ketegangan otot sekaligus menyalurkan hawa murni secara perlahan."Yang ini juga aku bikin rapet dan kesat ya, Lin," ucap Teja sembari menatap mata Linda yang sudah sangat sayu dan mulut mangap-mangap seperti ikan koi kekurangan oksigen."Uhh, Jaa. Gila! Aku bisa bobol nih cuma pakai tanganmu!" erang Linda yang sudah demikian memuncak. Suaranya terdengar makin parau, kedua tangannya meremas erat sprei tempat tidur demi menahan gejolak intensif yang menyapu seluruh kesadarannya.Mendengar

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   240. Pijat Enak

    "O-oh, Jaa!" lenguh Linda saat pijatan tangan kekar Teja mendarat di dua bongkahan payudaranya yang cukup besar. Kukit tubuh mulus gadis itu meremang seketika, merasakan sensasi hangat mengalir deras dari telapak tangan Teja yang membelai dan menekan alur selaksa dadanya.Buah kenyal itu bergerak-gerak pejal mengikuti alur gerakan jari Teja yang meremasnya. Setiap usapan dan putaran jemari Teja yang terampil melingkari area sensitif itu membuat struktur otot dada Linda merenggang santai terlumasi cairan gel sejuk secara sempurna."Tahan, Lin. Aku lagi mijat buat ningkatin kekencangannya. Kamu mau sekalian dibikin lebih gede lagi nggak?" tanya Teja tenang. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu tetap berfokus mengendalikan porsi dorongan hawa murninya agar mengalir secara teratur tanpa mencederai pembuluh darah halus sang pasien cantik."Ush-oh. Bisa digedein lagi emangnya, Ja?" sergah Linda dengan napas yang semakin tersengal. Pandangan matanya yang sedikit berkabut menatap wajah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   239. Rengkuhan Hangat

    "Kenapa, Lin?" tanya Teja sembari menghentikan sejenak tekanan jemarinya di atas permukaan kulit mulus sang gadis. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu menatap punggung Linda yang tampak sedikit tegang usai helaan desah pelan tadi."Geli, Ja," cicit Linda dengan suara teredam bantal. Wajahnya yang kian panas berbenam rapat, tak berani memperlihatkan rona merah yang sudah menjalar hingga ke belakang telinganya.Teja pun terus melakukan pijatan di paha mulus Linda dan perlahan kian naik. Tanpa terpengaruh oleh celoteh singkat gadis yang mengidolakannya itu, jemari tangannya bergerak menyusuri setiap lekuk otot paha bagian atas, mengurai simpul-simpul saraf yang tegang akibat dorongan porsi latihan keras di tengah hutan tadi.Tangan Teja mulai merogoh jauh di bawah selimut, memijat gumpalan kenyal dari bokong Linda yang sudah polos sepenuhnya. Sentuhan telapak tangan Teja yang hangat bersalut pelicin gel dingin mengusap alur area pinggul dengan tekanan memutar yang sangat lembut,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status