Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 48. Sebuah Tantangan

Share

48. Sebuah Tantangan

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-18 11:13:09

Seorang pria berusia sekitar awal 40-an berseragam hitam dengan logo dua teratai emas di dada serta berambut ikal pendek nampak melangkah maju, berdiri tepat di sisi pria gempal yang sebelumnya menggertak Teja.

Melihat kepungan yang semakin rapat dan kedatangan sosok yang tampak berwibawa namun kejam itu, Nana pun semakin mengkerut takut di belakang punggung tegap Teja.

Tak hanya Nana yang ketakutan, semua pengunjung pertunjukan tadi yang baru bubar dan berniat pulang juga langsung menjauh kare
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   117. Pengantar Makanan

    "Menurut kabar terpercaya dari informan rahasia kami, Denny emang berencana buat segera kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini, Ketua," ucap Marlan membuka kembali jalannya diskusi setelah suasana ruangan kembali tenang."Dia sengaja mau balik buat nyerang dan ngehancurin semua perguruan di Indonesia lagi?" tanya Teja sambil menatap serius ke arah para tetua perguruan."Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti apa motif utama di balik kepulangannya. Informasi yang kami terima hanya mengatakan kalau Denny rindu pada tanah air dan cuma ingin pulang kampung ke Indonesia," ucap Lukito menimpali untuk melengkapi informasi yang beredar."Seharusnya, kalian semua di sini nggak perlu merasa bingung apalagi sampai tegang berlebihan kayak begini. Kan sekarang ada aku yang bakal menjaga dan melindungi kalian semua," ucap Teja dengan nada suara yang sangat tenang dan penuh keyakinan."Bukan maksud kami buat tak percaya atau meragukan kapasitas kemampuan luar biasa milikmu, Ja. Tapi masala

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   116. Iklan Hiburan

    Teja mengangguk perlahan melihat kepasrahan itu, lalu ia berjongkok di hadapan mereka berdua untuk melepaskan kuncian pada saraf tubuh mereka yang membeku.TAP!Seketika itu juga, aliran darah dan energi di dalam tubuh Kusna dan Kusni kembali mengalir lancar, membuat mereka kembali bisa menggerakkan seluruh anggota badan seperti semula.Kusni dan Kusna segera bangkit berdiri dengan susah payah sembari memegangi dada mereka yang masih terasa nyeri akibat hantaman telapak tangan Teja sebelumnya.Namun, kelicikan serta rasa dendam di dalam hati kedua saudara kembar tersebut ternyata masih belum usai sampai di situ saja.Melihat posisi Teja yang saat itu masih dalam keadaan berjongkok dan dianggap lengah tanpa pertahanan, keduanya langsung mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan mengirimkan tendangan keras secara bersamaan ke arah wajah dan dada Teja.Teja yang memiliki refleks di atas manusia normal, sekilas hanya tersenyum tipis melihat serangan tak tahu diri tersebut.Dan dalam se

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   115. Mengaku Kalah

    Kusni tertawa lebar mendengar tantangan itu dan tanpa ragu langsung ikut melompat naik ke atas ring, mengambil posisi berdiri tegak di samping Kusna."Urusan internal kayak gini emang harus kita luruskan dulu sampai tuntas sebelum kita semua fokus menghadapi ancaman Denny, karena kalau ngurus anggota asosiasi aja kamu nggak becus, gimana mau mimpin jalannya rapat? Apalagi mau memimpin kami menghadapi Denny?!" ujar Kusni dengan sangat sinis."Sama, aku juga dari tadi mikir gitu tentang kalian berdua. Kalau kapasitas bertarung kalian terlalu rendah, nggak guna juga kalau nantinya diajak bergabung buat menghadapi Denny," balas Teja mengembalikan kata-kata kasar itu dengan telak."Sombong amat kamu, Teja! Belum tahu aja kamu rasanya patah tulang!" sentak Kusna yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun akibat balasan ejekan itu."Udah! Maju aja langsung berdua barengan, nggak usah kebanyakan omong dan berisik kayak banci!" pancing Teja sengaja menyentil harga diri kedua pria paruh baya terseb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   114. Buang-buang Waktu

    "Jadi, sekarang, apa mau kalian berdua?" tanya Teja dengan nada yang sangat tenang namun terdengar dingin pada dua saudara kembar tersebut."Kami berdua dengan tegas menolak keputusan pelantikanmu sebagai ketua asosiasi yang baru!" balas Kusni dengan suara lantang yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.Kusna ikut menganggukkan kepalanya dengan cepat untuk menunjukkan kesolidan barisan mereka dalam menentang kepemimpinan anak muda tersebut."Jika Linda yang merupakan murid paling cerdas di kota ini saja levelnya masih berada di tingkat dasar tahap puncak, lalu apa yang bisa kami semua harapkan dari anak ingusan kayak kamu yang tingkatan bela dirinya ada di bawah Linda?!" ejek Kusna dengan senyuman merendahkan yang sangat menyebalkan.Teja tidak langsung membalas makian tersebut, melainkan ia justru mempertajam sorot tatapan matanya, mengerahkan kemampuan mata batin energi Qi-nya untuk menerawang langsung ke dalam tubuh dua pria angkuh yang berdiri di seberangnya.“Hmm, kalian berdua

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   113. Si Kembar

    Sekitar jam 3 sore, Teja dan Nana akhirnya tiba di area Perguruan Silat Teratai Kembar dengan mengendarai Pajero Sport putih milik Teja.Teja kemudian melangkah tenang memasuki ruang pertemuan utama perguruan tersebut didampingi oleh Nana di sampingnya.Di dalam ruangan sana, barisan kursi sudah tertata rapi berjajar menyerupai tata ruang perkuliahan kampus dengan sebuah meja besar yang diletakkan di ujung paling depan."Selamat datang, Ketua," sapa Sanjaya, Herman, Lukito, Marlan, Wiryo, dan Linda.Ada dua orang pria paruh baya lagi yang wajahnya belum pernah dikenal oleh Teja sebelumnya."Selamat siang menjelang sore semuanya, silakan duduk kembali," balas Teja sembari melemparkan senyuman ramah kepada seluruh hadirin yang ada di ruangan.Teja pun langsung melangkah menuju barisan paling depan dan mengambil posisi duduk di kursi utama yang memang khusus disediakan untuk pemimpin tertinggi asosiasi.Melihat kedatangan sahabatnya, Linda segera bergerak menarik tangan Nana dengan antus

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   112. Kabar Buruk

    Sekitar satu jam kemudian, Teja sudah kembali melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya setelah menempuh perjalanan membelah keheningan malam kota.Sang ayah tercinta rupanya juga sudah tertidur lelap, mengingat jam dinding di ruang tengah kini telah menunjukkan pukul satu dini hari.Teja tidak ingin langsung tidur dengan kondisi tubuh yang lengket oleh peluh. Ia segera berganti pakaian dengan kaos katun tipis dan celana pendek longgar, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta menyegarkan sisa-sisa penatnya.Usai membasuh tubuhnya dengan air dingin yang segar, ia kemudian kembali ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang empuknya untuk segera beristirahat.'Sari bisa jadi wanita keempat dari target peningkatan energi Qi-ku ke tingkat dua yang totalnya butuh enam wanita. Tapi itupun baru bisa dimulai minggu depan setelah masa pinaltiku habis,' gumam Teja seraya menatap langit-langit kamar yang di cat putih bersih.'Eh iya, kalau seminggu ke depan aku nggak gitu

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   69. Sayang?

    "Beres, Bos, tapi nanti mampir traktir aku makan bakso ya, soalnya aku lagi nyidam banget nih pengen makan yang berkuah pedas," jawab Nana dengan nada riang sembari mengedipkan sebelah matanya yang bulat belok.Mendengar kata 'nyidam' yang keluar secara spontan dari mulut gadis di sampingnya, seket

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status