ログインTeja tersenyum sinis, merasa tertantang oleh pembangkangan makhluk astral tersebut. 'Oh, nggak mau nih?! Oke. Satu kali lagi aku perintahkan. Pergi dari sini atau aku yang lempar kamu dari sini ke tengah laut?!' ancam Teja, memberikan ultimatum terakhir dengan volume suara yang makin berat dan penuh penekanan.Mendengar ketegasan Teja yang begitu percaya diri dan merasakan tekanan energi Qi yang mendadak membesar di sekeliling ruangan, wajah pucat itu sedikit kaget. Ia tidak menyangka bahwa manusia muda di depannya memiliki nyali dan simpanan kekuatan sebesar itu.Namun, sebelum ia menjawab lagi untuk membela diri atau membalas ancaman tersebut, Teja sudah menggerakkan energi Qi-nya membentuk sebuah tangan besar yang mencengkeram tubuh wanita itu dan membuangnya ke tengah laut menggunakan kehendak batinnya. Proses itu terjadi sangat cepat!Teja hanya perlu membayangkan tangan raksasa tak kasat mata menjerat tubuh sang kuntilanak, lalu melemparkannya sejauh mungkin menembus dinding
'Bener banget. Ini adalah hidupku, kekuatanku. Aku harus bisa menerapkannya dengan ataupun tanpa ayah. Aku nggak boleh pasif!' tekad Teja dalam hati. Keputusan bulat itu seketika melenyapkan keraguan yang sejak tadi menggelayuti benaknya. Ia sadar bahwa bergantung sepenuhnya pada petunjuk sang ayah hanya akan memperlambat perkembangannya dalam menguasai kemampuan baru ini.Teja pun melangkah dan berdiri di tengah ruangan kamarnya. Ia mengambil posisi tegak dengan kedua kaki sedikit merenggang, mencoba menyelaraskan sirkulasi napasnya dengan detak jantung yang mulai berdegup kencang. Suasana kamar yang semula terasa biasa saja, kini mendadak berubah menjadi lebih dingin dan berat.'Coba sekarang aku pengen tahu, ada makhluk apa aja di kamar ini!' bisik Teja dengan suara rendah, menantang dirinya sendiri untuk menembus batas pandangannya.Ia berkonsentrasi dan memusatkan mata batinnya meraba setiap sisi ruangan itu. Teja memejamkan mata fisiknya, membiarkan kepekaan rasa dan energi
"Bukan cuma kayak gitu, Ja. Tapi itu baru sebagian kecil yang kamu ketahui!" bantah Toni dengan cepat, meluruskan pemahaman dangkal anaknya yang tampaknya menganggap remeh urusan sihir yang ia maksudkan.Teja menaikkan sebelah alisnya, merasa rasa ingin tahunya sengaja dipancing lagi oleh sang ayah. "Maksudnya, Yah?" tanya Teja, menuntut penjelasan yang lebih gamblang.Toni menggelengkan kepala, lalu melambaikan tangan di udara. "Nanti saja. Sekarang belum waktunya," ujar Toni, memotong pembicaraan sebelum rasa penasaran Teja berkembang menjadi terlalu liar.Teja mengatupkan bibirnya kembali, sedikit kecewa karena rasa penasarannya harus tertahan. Namun, sebelum anaknya sempat memprotes, Toni kembali membuka suara untuk memberikan fokus utama pada latihan mereka malam itu. "Buat malam ini, Ayah cuma ingin kamu paham dulu sama kekuatanmu di ranah astral. Energi Qi-mu bisa berfungsi untuk mengusir, memaksa, ataupun membatasi ruang gerak mereka," lanjutnya, merincikan.Mendengar isti
Teja langsung berdiri dari posisi duduknya. Langkah kakinya bergerak cepat mundur ke belakang, menjadikan kursi besi yang tadi didudukinya sebagai pembatas antara dirinya dan dua makhluk ganjil yang sedang menuju ke arahnya.Napasnya agak memburu, sementara matanya terus menatap lurus ke satu titik di dekat pohon mangga.melihat reaksi spontan anaknya, Toni justru terkekeh pelan. Ia tetap tenang di posisinya tanpa menggeser duduknya sedikit pun. "Ngapain takut? Katanya nggak takut tadi?!" goda Toni, sengaja memancing keberanian Teja.Wajah Teja memucat, sama sekali tidak menganggap situasi ini sebagai lelucon. Ia menunjuk-nunjuk ke arah depan dengan jari yang sedikit gemetar. "Eh, itu mereka kesini lho, Yah! Satu makhluk halus berupa nenek tua kayak Mak Lampir, dan satu lagi bentuk bocah cowok umur sepuluh tahun. Mereka beneran datang ke kursi kita! Aku nggak bohong!" ulang Teja dengan nada berbisik.Toni menoleh sekilas ke arah yang ditunjuk Teja, lalu kembali menatap anaknya. E
Toni menyandarkan punggung di kursi besi sambil menatap anaknya.“Apa yang ada di dalam saku kanan kemeja ayah?” tanya Toni tiba-tiba.Teja mengernyit. Pertanyaan itu sudah sering muncul dengan variasi berbeda. Dulu ia pernah diminta ayahnya untuk memeriksa apa yang dilakukan Nana dan Septa di rumahnya. Teja menarik napas pelan. Ia menegakkan punggung dan memusatkan perhatian.Tatapannya terkunci pada saku kanan kemeja Toni. Matanya tidak berkedip beberapa detik. Dalam benaknya, ia mencoba membayangkan ruang kecil di balik saku itu.Mata batinnya bergerak perlahan.Bayangan gelap muncul lebih dulu. Lalu samar-samar terlihat bentuk persegi panjang yang tipis. Teja terus memfokuskan pikirannya.“Hm...” gumamnya pelan.Toni tidak menyela.Teja memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi. Bayangan benda itu menjadi lebih jelas.“Berupa lembaran,” ujar Teja perlahan. “Bukan uang.”Toni tetap diam.“Ukurannya lebih kecil dari uang... lebih tipis... kertasnya buram.”Teja mencondongkan
"A-aku," Teja tergagap. Ia langsung menghentikan kunyahannya dan menatap sang ayah dengan wajah yang berubah kaku dan tegang.Pertanyaan tiba-tiba itu benar-benar meruntuhkan ketenangannya dalam sekejap.Toni tertawa sambil mengunyah sisa makanannya. Ia tampak sangat terhibur melihat reaksi putranya yang tampak panik dan kebingungan mencari alasan untuk mengelak. "Ayah adalah pemilik kekuatan itu sebelum kamu, Ja. Ayah bisa melihat rona ceria wajahmu setelah berhubungan!" ungkap Toni dengan nada menggoda sekaligus penuh keyakinan.Mendengar penuturan sang ayah yang tidak bisa dibantah lagi, Teja akhirnya memilih untuk berterus terang. Ia meletakkan sendoknya dan menghela napas pendek. "Buat mengisi kuota enam wanita menuju peningkatan energi Qi ke tahap tiga, Yah. Nana menjadi wanita pertama," aku Teja berterus terang mengenai hal tersebut.Toni mengangguk paham. Tidak ada keraguan atau kemarahan di wajah tuanya, melainkan seulas senyum bijak yang menenangkan hati sang anak. "Aya
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







