Mag-log in"Karena kamu ngaku sebagai ahli pijat, aku mau minta tolong sekalian deh," ujar Panda tiba-tiba. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu jati, lalu memegangi bagian pinggang belakangnya dengan sebelah tangan.Teja yang tadinya masih salah tingkah akibat sindiran tajam Panda soal ukuran pas di tangan langsung menegakkan posisi duduknya. Rasa penasarannya sebagai seorang penyembuh seketika mengambil alih fokusnya. "Apa, Nda?" tanya Teja, menatap wajah cantik Panda yang kini memperlihatkan sedikit raut kelelahan.Panda menghela napas panjang. Tatapannya menatap lurus ke arah Teja dengan binar penuh harapan yang sangat tulus. "Pinggangku dan punggungku sering sakit. Apa kamu bisa mijat? Siapa tahu bisa sembuh. Udah hampir setahun ini aku berobat ke mana-mana tapi masih nihil," tutur Panda jujur. Ia kemudian menjabarkan keluhan fisiknya yang selama ini cukup mengganggu aktivitas hariannya, padahal berbagai metode medis modern hingga pengobatan alternatif telah dijalaninya t
"Eh, iya, itu... maksudku itu rambutmu, halus banget. Pas banget di tangan buat dielus," Teja beralasan sekenanya. Wajahnya seketika memerah menahan malu karena tertangkap basah.Panda yang mengamati tatapan mata Teja ke arah dadanya hanya tersenyum sinis. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu melempar tatapan penuh ejekan yang membuat Teja kian salah tingkah. "Otaknya itu lho, disapu dulu gih, biar agak bersihan!" cibir Panda telak.Teja langsung membuang muka mendengarnya. Ia berpura-pura mengamati tanaman hias di sudut teras untuk menyembunyikan rasa canggung yang makin membuncah. Namun, di balik rasa malunya, otak Teja berputar sangat cepat memproses rentetan kejadian aneh yang baru saja terjadi.Sudah dua kali kejadian sejak di toko herbal tadi yang seolah Panda bisa membaca pikirannya. Kejadian pertama saat di kasir toko herbal, dan sekarang kejadian kedua saat pikiran nakalnya terlintas di teras rumah itu. Keduanya terjadi secara instan, tepat di detik yang sama s
"Santai aja. Tanpa biaya pengantaran. Anggap aja ini sebagai bukti perkenalan kita," ucap wanita muda itu sembari melempar senyuman tipis yang sangat menawan. Penawarannya yang begitu ramah dan santai membuat rasa curiga yang sempat bersarang di benak Teja menguap begitu saja, berganti dengan rasa kagum yang semakin bertambah.Teja lalu meminta nota total untuk langsung ia lunasi di tempat. Ia meraih dompet tebal dari saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang kertas nominal besar, lalu menyerahkannya ke atas meja kasir sesuai dengan angka yang tertera di lembaran nota tersebut. Transaksi itu berlangsung cepat dan lancar.Setelah menyelesaikan urusan pembayaran bahan herbalnya, Teja menyimpan nota pelunasan pembayarannya di dalam dompet.Teja sejenak memandang wajah menawan di depannya itu. "Oh iya, nama kamu siapa, Mbak?" tanya Teja penasaran, menatap lurus ke arah sepasang mata bening milik sang penjaga toko.Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya di atas etalase ka
Keesokan harinya, Teja yang pulang kuliah menggunakan motor matiknya sejenak mampir ke toko bahan herbal untuk menambah stok persediaannya. Suasana sore yang cukup sejuk mengiringi langkah kakinya begitu ia memarkirkan kendaraannya di pelataran toko yang beraroma khas rempah-rempah dan dedaunan kering tersebut. Ia melangkah masuk ke dalam bangunan bergaya klasik itu sembari merogoh saku celananya untuk mengambil secarik kertas catatan bahan ramuan yang telah dia siapkan sejak dari kampus.Teja berjalan mendekati area etalase kaca yang menjadi pembatas antara pengunjung dan pengelola toko. Di sana, tampak seorang wanita sedang duduk menunduk, tampaknya sibuk mencatat atau merapikan sesuatu di atas meja kayu yang tinggi tersebut.Tanpa membuang waktu, Teja menyerahkan kertas daftarnya pada sang pemilik toko. "Ini ada semua kan, Mbak?" tanya Teja ramah, menyodorkan lipatan kertas tersebut tepat di atas meja.Suara Teja seketika menghentikan aktivitas wanita di balik meja tersebut. Wa
"Kamu masih muda, Nak. Kekuatanmu memang besar, tapi jam terbangmu masih minim," ujar Toni sembari mengeluarkan buku panduan warisan dari sakunya.Ia kemudian menatap Teja dengan lekat. “Nggak semua yang dikatakan orang lain itu bakal beneran terjadi.“Teja mendengarkan dengan seksama tanpa menyela, membiarkan ayahnya menyelesaikan setiap patah kata yang ingin disampaikan."Tapi nggak apa-apa. Dengan memimpin dua asosiasi begini, kamu bisa menimba pengalaman," lanjut Toni, menyiratkan rasa bangga atas tanggung jawab besar yang kini diemban oleh putranya di usia yang terbilang sangat muda.Teja yang sudah terlalu paham dengan tabiat ayahnya saat mulai memberi nasihat panjang lebar hanya bisa menghela napas pelan. Ia memajukan sedikit duduknya sembari tersenyum tipis. "Jangan muter-muter, Yah. To the point gitu aja!" potong Teja, bermaksud meminta penjelasan yang lebih rinci dan langsung pada pokok permasalahan terkait ancaman dari luar.Toni terkekeh pelan melihat ketidaksabaran anakn
"Kurang satu tahap akhir, Nak," jawab Toni dengan nada suara yang tenang. Ia menatap anaknya, memberikan jeda agar Teja bisa mengondisikan kembali fokus batinnya yang sempat mengendur setelah melakukan pembersihan massal.Teja yang tadinya mengira tugasnya telah selesai kini kembali membenahi posisi duduknya. Ia menatap sang ayah dengan sisa-sisa rasa penasarannya. "Apa itu, Yah?" tanya Teja, siap menerima instruksi penutup malam itu.Toni menunjuk ke arah langit-langit ruang tamu lalu menggerakkan jarinya membentuk sebuah lingkaran besar di udara. "Seperti saat kamu membuat perisai dari serangan makhluk kertas tadi, buatlah perisai energi yang menyelubungi rumah ini," perintah Toni, memberikan arahan mengenai aplikasi teknik pertahanan dalam skala yang jauh lebih luas.Mendengar analogi yang digunakan oleh ayahnya, ingatan Teja langsung melayang pada benteng transparan yang berhasil mementahkan kilatan cahaya ungu di atas plafon lantai dua tadi. "Ohh, semacam segel begitu, Yah?"
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
"Pak Sanjaya, sepertinya aku harus pamit pulang sekarang," ucap Teja sembari melirik ke arah jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul 8.15 malam."Setiap dua hari sekali aku akan datang kembali ke sini untuk mengontrol dan memastikan perkembangan kesehatan organ dalammu," lanjut Teja sem
"Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







