Beranda / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 26. Bangsawan yang Setara

Share

26. Bangsawan yang Setara

Penulis: malapalas
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 07:58:04

"A-Aaron?" Aku tergagap-gagap dengan bunyi jantungku yang kini berdegup sangat kencang.

Ia tidak bergerak. Ia tetap duduk di sana, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Warna emas di matanya meredup, namun intensitasnya tetap sanggup menguliti setiap inci keberanian yang baru saja kukumpulkan.​

"Kamu bangun," ucapnya pelan. Suaranya yang tenang justru membuatku semakin waspada, seolah ketenangan itu menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya daripada apa pun.​

"K-kenapa kamu masih di sini?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Sang Alpha   218. Terdesak

    ​Pria bermantel hitam itu sadar bahwa lari bukanlah lagi sebuah pilihan. Dalam sepersekian detik, jemarinya bergerak liar, menembus saku mantelnya dan melayangkan sebuah pukulan fatal berlapis sihir penembus ke arah dada Aaron.​Namun, Aaron hanya menyeringai kejam.​BAM!​Tanpa berkedip, sang Alpha tidak sedikit pun menghindar. Dengan kecepatan yang melampaui batas wajar makhluk supernatural biasa, Aaron menyambut serangan itu dengan terkaman mautnya sendiri.​Pertarungan sengit pecah seketika di tengah hutan pinus.​Setiap benturan fisik di antara keduanya menciptakan dentuman hebat yang menggetarkan udara di sekeliling mereka.Gerakan mereka secepat kilat, hanya menyisakan guratan bayangan hitam dan kilatan perak keemasan yang saling menabrak dari satu pohon ke pohon lainnya. Batang-batang pinus tua tumbang dan hancur luluh lantak akibat hantaman liar pertarungan itu.​Di sekeliling area pertempuran, para prajurit werewolf berdiri membatu dengan ketegangan memuncak. Di mata telanja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   217. Umpan yang Sempurna

    Setelah memutuskan ikatan batin, Aldrick kembali membuka matanya. Ia harus mengulur waktu agar pria ini tidak melarikan diri sebelum Aaron tiba. ​"Kamu begitu yakin Aaron akan jatuh?" tanya Aldrick kembali memancing percakapan, mencoba mengalihkan perhatian lawannya. "Kamu bicara seolah-olah kamu mengerti segalanya tentang Alpha kami." ​Pria bermantel hitam itu melangkah mundur satu langkah, jemarinya bergerak halus di dalam saku mantelnya. "Cinta membuatnya lemah, Aldrick. Seorang Alpha yang bertindak berdasarkan perasaan pada seorang wanita ... sangat mudah diprediksi." ​"Atau mungkin," sahut Aldrick dengan nada mengejek, sengaja melangkah maju setengah langkah untuk mengunci ruang gerak pria itu, "kamu hanya terlalu takut untuk berhadapan langsung dengannya tanpa ramuan pelindungmu ini?" ​Pria itu menyipitkan mata, menyadari permainan kata Aldrick. "Kamu terlalu banyak bicara hari ini, Beta. Dan dari cara matamu menatapku ... kamu sedang menunggu seseorang, bukan?" ​Di sekeli

  • Anak Rahasia Sang Alpha   216. Membuka Bayangan

    ​Hembusan angin dingin menyelusup di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, membawa aroma tanah basah dan embun pagi yang pekat.Di sekeliling area rumah Nenek Fay, atmosfer terasa begitu mencekam. Pola penjagaan telah diperketat, puluhan prajurit werewolf pilihan berdiri sigap dengan posisi saling melengkapi, mata dan telinga mereka siaga menangkap ancaman sekecil apa pun.​Namun, di tengah kepungan yang tak tertembus itu, Aldrick melangkah masuk ke dalam area hutan dengan tenang.​Tangan kanannya merogoh saku mantel. Jarinya menggenggam sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening dengan kilau keemasan yang samar. Tanpa ragu, Aldrick membuka tutup botol itu dan menenggak isinya sampai habis.​Cairan itu terasa dingin menusuk tenggorokan, lalu seketika membakar seluruh saraf indranya. Penglihatan Aldrick membias sejenak, pupil matanya membesar dan berkilat keemasan saat ramuan khusus itu bekerja menetralisir manipulasi penglihatan di sekitarnya.​Saat matanya kembal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   215. Untuk Kaum Kita

    Keheningan masih menyelimuti benteng bawah tanah. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani memecahkan suasana. Semua mata tertuju pada Aaron yang masih berada di sisi jasad pria itu. Beberapa saat kemudian, Aaron berdiri perlahan. Ia mengalihkan pandangannya kepada Adrian. "Adrian." "Ya, Alpha." "Pastikan dia dimakamkan dengan layak." Adrian tampak ragu sejenak. "Dia baru saja berusaha membunuh Anda, Alpha." Aaron kembali memandang jasad pria itu. "Dia memang datang sebagai penyerang, tapi dia pergi sebagai bagian dari kaum kita." Tatapannya tetap tenang. "Cari makam keluarganya. Jika masih dapat ditemukan, makamkan dia di samping mereka." Adrian menundukkan kepala dalam. "Dimengerti, Alpha." Ratusan anggota klan masih berdiri di tempat masing-masing. Para pekerja proyek, para insinyur, hingga para prajurit yang sedari tadi menyaksikan semuanya hanya bisa menundukkan kepala. Tidak lagi karena aturan, melainkan karena rasa hormat. "Perang telah merenggut terlalu bany

  • Anak Rahasia Sang Alpha   214. Luka yang Terlambat Disembuhkan

    Jleb!Dalam sepersekian detik, tubuh Aaron bergerak lebih cepat daripada siapa pun yang sempat menangkapnya dengan mata.Tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu tepat sebelum ujung senjata menyentuh tubuhnya.Satu putaran.Satu hentakan.Belati yang semula mengarah ke Aaron berbalik menghunjam perut pemiliknya sendiri."Ugh...!"Mata pria itu membelalak. Tubuhnya menegang sesaat sebelum darah segar menyembur dari mulutnya.Bruk!Tubuhnya roboh menghantam lantai beton.Keheningan menyelimuti lorong bawah tanah.Seluruh pekerja, anggota klan, hingga para insinyur yang sedari tadi menundukkan kepala karena memberi hormat kepada sang Alpha sontak mengangkat wajah mereka.Wajah-wajah yang semula dipenuhi rasa hormat kini berubah menjadi keterkejutan."Alpha!"Adrian spontan melangkah maju bersama beberapa prajurit. Namun, sebelum mereka sempat mendekat, suara Aaron menghentikan semuanya."Jangan."Hanya satu kata.Suara itu terdengar amat tenang, datar, dan tanpa nada panik sedi

  • Anak Rahasia Sang Alpha   213. Benteng Harapan

    Dari luar, bangunan logistik itu tampak tak berbeda dari fasilitas penyimpanan material pada umumnya.Kontainer-kontainer besar tersusun rapi di halaman. Forklift hilir mudik mengangkut baja dan semen, sementara beberapa pekerja sibuk memeriksa daftar material yang baru tiba.Tidak ada yang mencolok, setidaknya bagi mata manusia.Aaron melangkah masuk tanpa berhenti. Adrian mengikuti di belakangnya hingga mereka tiba di sebuah pintu baja besar yang dijaga oleh beberapa anggota keamanan pilihan.Begitu melihat Aaron, mereka serempak menundukkan kepala."Salam, Alpha."Aaron mengangguk pelan.Pintu baja perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah lift industri berukuran besar.Keduanya masuk ke dalam. Pintu kembali tertutup rapat, lalu lift itu turun perlahan, melewati beberapa lantai di bawah permukaan tanah.Semakin dalam mereka bergerak, suara alat berat di atas perlahan menghilang.Ding!Pintu lift terbuka.Koridor berdinding beton membentang panjang di hadapan mereka. Lampu-lampu kerja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   45. Antara Takut dan Cemburu

    “Aku ... nggak suka—""Nggak suka apa?" potongnya. Nada suaranya tetap terkendali, seolah ia tahu aku tidak akan bisa lari dari pertanyaan itu kali ini.Aku meneguk ludah kasar, sembari tatapanku beberapa kali melihat bibirnya yang semakin dekat denganku. Jantungku kembali berdegup liar. Aku berusa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   44. Tidak Ada Jalan Keluar

    Aku tahu dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban itu. Mempertimbangkan bagaimana keadaannya sekarang dengan luka di perutnya yang masih berada dalam tekanan tubuhku, aku tidak punya pilihan selain mengatakannya sekarang.Dan terpaksa aku harus mengaku.Aku berusaha mencari kosakata yang

  • Anak Rahasia Sang Alpha   41. Bayangan di Balik Takhta

    Kabut tipis menggantung di udara malam, menyelimuti bangunan batu tua yang berdiri jauh dari pusat wilayah klan. Tempat itu tidak tercatat di peta mana pun. Tidak ada penjaga yang terlihat, tidak ada simbol yang menandakan kekuasaan, namun aura yang menyelimutinya cukup untuk membuat siapa pun berl

  • Anak Rahasia Sang Alpha   40. Kebenaran yang Meradang

    Keheningan di dalam kamar ini terasa jauh lebih berat daripada teriakan kesakitan Aaron tadi. Aku masih terpaku di sisi ranjang, jemariku masih gemetar saat menyentuh seprai yang ternoda darah. Kata-kata nenek tentang musuh yang mengincar sesuatu di dalam diriku terus berputar di kepala, menciptaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status