Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 99. Ayah yang Memilih Racun

Share

99. Ayah yang Memilih Racun

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-20 09:38:02

Klik.

Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok yang sudah terbiasa melakukan hal-hal mengerikan tanpa keraguan demi bertahan hidup.

​Dari mulut botol, cairan bening itu menetes perlahan, jatuh tepat ke dalam cairan teh hangat milik Fay. Satu tetes.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   212. Kota untuk Masa Depan

    Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar utama mansion.Aaron telah selesai bersiap dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun sebelum melangkah pergi, ia berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Tatapannya tertuju pada Fay.Wanita itu masih terlelap dengan napas teratur. Wajahnya terlihat begitu damai, jejak-jejak keletihan dari kehangatan hubungan intim mereka semalam masih membingkai paras cantiknya.Sudut bibir Aaron terangkat tipis.Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajah Fay dengan gerakan hati-hati.Ia tidak ingin membangunkan mate yang sangat dicintainya.Tatapan dingin yang selama ini ditakuti banyak orang perlahan melunak. Seandainya memungkinkan, ia ingin tetap berada di sisi Fay sepanjang hari. Namun, kenyataan tidak mengizinkannya.Masih banyak hal yang harus ia pastikan berjalan sesuai rencana.Aaron menunduk, mendaratkan kecupan hangat di kening Fay dengan penuh perasaan.​"Tu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   211. Bagian yang Tak Kukenal

    Bu Sarah tidak terkejut. Beliau hanya mengulas senyum tipis, begitu tenang dan teduh, seolah sudah menduga pertanyaan itu cepat atau lambat akan keluar dari bibirku."Kenapa Ibu bisa bekerja di perusahaan Aaron, lalu tiba-tiba menghilang begitu saja?" cecarku lagi, berusaha mengurai benang kusut dalam pikiranku. "Bahkan aku sempat berpikir Ibu sudah keluar karena posisi Ibu sudah digantikan orang lain. Tapi sekarang ... Ibu justru ada di mansion ini."Bu Sarah terkekeh pelan. "Itu karena setelah malam saya meminta Nyonya menemui Tuan Aaron di ruangannya, saya memutuskan berhenti dari perusahaan."Aku mengernyit. "Berhenti?""Benar, Nyonya." Beliau mengangguk. Senyumnya tetap hangat. "Itu keputusan saya sendiri. Tuan Aaron tidak pernah memintanya. Saya merasa tugas saya di perusahaan sudah selesai. Setelah itu, saya memilih kembali mengurus kediaman pribadi Tuan Aaron."Beliau berhenti sesaat, menatapku dengan binar mata yang memancarkan kenangan masa lalu."Sama persis seperti yang sa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   210. Mata yang Tak Pernah Berpaling

    "Anak magang itu...." Bu Sarah berhenti sesaat. Tatapannya bertemu dengan mataku. "Adalah kamu, Fay." Seketika napasku tercekat. Mataku membelalak. "Saat itu saya belum memahami alasannya," sambungnya dengan nada lembut. "Namun insting saya mengatakan bahwa ada seseorang yang akhirnya mampu menarik perhatian dan mengusik naluri Alpha milik beliau sedemikian kuat." Bu Sarah berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Keputusan menghubungimu malam itu memang penuh risiko. Saya bertaruh besar. Tapi saya sungguh tidak pernah membayangkan kalau takdir akan membawa kalian berdua berkembang sejauh ini." Aku masih belum mampu berkata apa-apa. Selama ini aku mengira semua yang terjadi hanyalah rangkaian kebetulan. Ternyata ... sejak malam yang mengubah segalanya itu, ada begitu banyak rahasia yang sengaja disembunyikan dariku. Jantungku berdebar keras. Rasa takut dan cemas mendadak menerkamku. "Ibu sengaja mengirimku ke sana." Suaraku bergetar, menahan gejolak di dalam dada. "Bagaimana kal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   209. Luna's Lust

    "Anda—" Suaraku tertahan di tenggorokan, gemetar oleh keterkejutan yang luar biasa. "Halo, Fay," sapanya tenang. Suara itu.... Nada bicara yang teratur dan ramah itu sangat identik dengan sosok yang selama ini kukenal. Wanita paruh baya bermata teduh yang berdiri anggun di hadapanku saat ini tidak lain adalah Bu Sarah. Sekretaris senior yang pernah mendesakku menuju ruang pimpinan, orang yang sama yang secara tidak langsung melempar duniaku ke dalam pusaran kegilaan bersama seorang Alpha. Aku hanya mampu menatapnya tanpa berkedip. "Bu ... Bu Sarah?" Beliau tersenyum kecil. "Senang melihatmu baik-baik saja, Fay." "B-bagaimana Ibu bisa ada di sini?" tanyaku terbata-bata. "Apa yang sedang terjadi? Bukankah Ibu bekerja di perusahaan Aaron?" Beliau tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih sejenak kepada para pelayan yang masih berdiri rapi di belakangnya, tetap berdiri membisu, menunduk penuh hormat tidak hanya kepadaku, tetapi juga kepada wanita itu. Aku kembali menat

  • Anak Rahasia Sang Alpha   208. Sisa Kehangatan Malam

    ​"Aaron—"​Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku, suara tawa pelan yang berat dan seksi tiba-tiba lolos dari bibirnya.Wajah tegas yang beberapa saat lalu dipenuhi luka dan rasa penyesalan, kini berubah sepenuhnya. Aaron terlihat begitu geli, matanya menyipit jenaka, tampak sangat terhibur melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajahku.​"Kenapa, hm?" bisiknya dengan nada rendah yang bergetar karena menahan tawa.​Ia sengaja memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Napas hangatnya berembus di bibirku, membuat jantungku yang semula berdegup karena malu, kini berpacu karena sensasi yang berbeda.​"Kamu pikir aku nggak merasakannya sejak tadi, Sayang?" godanya, seraya mengusapkan ibu jarinya ke pipiku yang makin memanas. "Setiap kali aku bergerak, ada tangan kecil yang sibuk menarik, meremas, dan mencengkeram kain ini seolah nyawanya sedang dipertaruhkan.""Kamu sengaja, ya!" pekikku tertahan, memukul dadanya pelan dengan satu tangan y

  • Anak Rahasia Sang Alpha   207. Rahasia di Balik Selimut

    Napas kami yang semula memburu perlahan-lahan mulai teratur, menyisakan detak jantung yang berdegup seirama di keheningan kamar.Sisa-sisa gairah yang baru saja kami lalui masih terasa pekat di udara. Aaron dengan penuh kelembutan mengecup keningku lama, menyalurkan rasa terima kasih dan pemujaan yang tak habis-habisnya, sebelum ia membersihkan tubuh kami dengan penuh kehati-hatian.Kami tidak langsung berbaring setelah keintiman yang baru saja usai, melainkan memilih untuk tetap duduk berdampingan dengan kepala yang bersandar rileks pada sandaran ranjang mewah kamar ini.Sebuah selimut sutra ditarik tinggi, membungkus tubuh polos kami dengan hangat hingga batas dadaku. Meski dalam posisi duduk bersandar, aku tetap bisa merasakan lengan kokoh Aaron melingkar posesif di pinggangku, mendekapku erat seolah tidak ingin membiarkan ada jarak sedikit pun di antara kami.​"Aaron," panggilku pelan.​"Ya, Sayang? Ada yang sakit?" bisiknya seraya menoleh.Satu tangannya yang bebas bergerak naik,

  • Anak Rahasia Sang Alpha   52. Sembuh Tanpa Bekas

    Aku menelan ludah, merasa perutku semakin berat di bawah telapak tanganku sendiri.Wajah Aaron tetap tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terluka parah. Ada keyakinan di sana, sesuatu yang tidak dibuat-buat dan sangat kontras dengan ketegangan di dalam ruangan ini. Dia tampa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   46. Rantai Takdir

    Aku kembali terdiam. Sejujurnya, kepalaku masih dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab, tapi aura Aaron yang begitu dominan membuat lidahku kelu. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menahan kesabaran yang hampir habis."Seenggaknya satu hal sudah jelas sekarang," katanya.​"Apa?"​"Kamu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   45. Antara Takut dan Cemburu

    “Aku ... nggak suka—""Nggak suka apa?" potongnya. Nada suaranya tetap terkendali, seolah ia tahu aku tidak akan bisa lari dari pertanyaan itu kali ini.Aku meneguk ludah kasar, sembari tatapanku beberapa kali melihat bibirnya yang semakin dekat denganku. Jantungku kembali berdegup liar. Aku berusa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status