LOGINMalam itu rumah sunyi lebih cepat dari biasanya. Azka dan Denis sudah tidur setelah aku bacakan dongeng "Putri dan Kesatria Penjaga Pintu" versi improvisasi. Azka minta endingnya diganti: "Mamanya yang buka pintunya sendiri, Om Rey. Karena mamanya kuat." Aku mencium keningnya. "Iya, sayang. Mamah kuat. Karena ada kalian." Jam sembilan malam. Dapur rapi. Cuci piring selesai. Aku menyeduh coklat hangat, bukan kopi. Sudah lama aku tidak minum coklat. Dulu Dafa bilang "minuman anak kecil". Kini aku bebas minum apa saja di rumah sendiri. Uap coklat mengepul, menempel di kacamata bacaku. Aku duduk di sofa, selimut tipis di pangkuan. Buka laptop. Sudah berapa tahun aku tidak nonton YouTube tanpa dikejar deadline atau tangisan bayi? "Masak sayur asam anti gagal", "Lagu pengantar tidur anak", "Mukbang"... jariku berhenti. Pikiran iseng muncul. Iseng yang manusiawi. Selama ini aku chat Rey tiap hari. Punya nomor WA-nya
Undangan kertas berwarna biru muda itu masih kugenggam hingga sudutnya kusut. "Pentas Seni SD Harapan Bangsa. Kehadiran orang tua diharapkan."Azka duduk di meja makan, menyuap roti dengan perlahan. Matanya tidak tertuju pada rotinya. Matanya tertuju padaku."Mah," ucapnya pelan. "Ibu guru menugaskanku membacakan puisi. Judulnya 'Ibuku'."Sendok di tanganku terhenti di udara.Azka ingin tampil? Anak yang seminggu lalu masih bersembunyi di balik kakiku setiap ada orang baru?"Tapi..." lanjutnya, menunduk. "Azka mau tampil, dengan satu syarat.""Syarat apa, sayang?""Om Rey harus datang. Mengantar kita."Dadaku tercekat. Denis yang sejak tadi diam di dapur, tiba-tiba menyela. "Aku setuju, Mah. Azka juga pasti mau diantar sama keluarga lengkap. Sekali saja. Apalagi Azka mau tampil ke panggung."Aku memandang mereka bergantian. Kakak dan adik. Satu meminta pengakuan, satu meminta keadilan kecil.Ma
Satu minggu setelah "lubang kunci" kuning itu, kami kembali jalan. Tapi kali ini bukan ke ruang tamu kami. Kali ini ke tempat Tante Ester."Mah, Tante Ester nggak datang ke rumah kita lagi kayak waktu itu?" tanya Azka di car seat. Map coklat Rey tetap jadi tamengnya. Tapi kali ini dia yang duluan nanya. Bukan aku yang maksa."Enggak, sayang," jawabku sambil nyetir. "Hari ini kita yang datang ke gudang mainannya Tante Ester. Katanya ada pasir. Pasir yang bisa dibentuk-bentuk."Mata Azka langsung melirik ke arahku. Sekilas. Tapi ada. Itu perkembangan. Seminggu lalu dia nggak akan nanya apa-apa.Klinik Tante Ester ternyata ruko 2 lantai warna pastel mint. Di luar ada taman kecil. Ayunan gantung. Papan tulis yang tulisannya "Selamat Datang, Anak Pemberani". Aku gugup. Ini beda. Ini wilayah Tante Ester. Azka bakal merasa "tamu". Bukan "raja di rumahnya sendiri".Begitu pintu kaca dibuka, aroma kayu manis + cat air lang
Bel pintu berbunyi pukul 10.00 tepat. Tiga kali. Sepertinya, yang datang adalah Bu Ester, semalam aku sudah menghubunginya. Katanya, hari ini dia home visit untuk observasi. Aku membuka pintu. Seorang perempuan berdiri di teras. Sekitar 35 tahun. Rambutnya diikat rapi. Tidak pakai jas lab atau pakaian formal. Hanya kemeja linen warna krem dan celana bahan. Di tangannya ada tas jinjing besar. Dari celahnya mengintip ujung boneka beruang, kotak krayon, dan beberapa balok kayu."Selamat pagi, Bu Ririn," katanya. Senyumnya tidak lebar. Hanya cukup untuk bilang "aku tidak berbahaya". "Saya Ester. Panggil saya Tante Ester saja."Aku mengangguk, tenggorokanku kering. "Silakan masuk, Bu... Tante Ester."Azka langsung sembunyi di balik kakiku. Map cokelat Rey dipeluknya erat seperti tameng. Matanya mengintip dari balik pahaku, curiga.Aku panik. "Maaf Tante Ester, Azka dia... dia pemalu sama orang baru."Tante Ester tidak menjawab. Dia t
Tiga hari setelah Bu Sari diborgol, Azka masih tidur dengan lampu menyala. Ia pintar. Sangat pintar. Ia bisa menyelesaikan puzzle 100 keping dalam 20 menit. Ia hafal perkalian sampai 12 tanpa salah. Tapi setiap kali ada suara panci jatuh di dapur, tubuhnya langsung menegang. Bahunya naik ke telinga. Matanya mencari pintu keluar.Aku melihatnya. Setiap hari. Dan setiap hari dadaku seperti ditusuk pisau tumpul. Potensi sebesar itu... terkubur di balik rasa takut. Aku tidak mau anakku tumbuh jadi orang dewasa yang hebat di atas kertas, tapi hancur di dalam.Malam itu, setelah Denis tidur, aku memberanikan diri menelepon Rey."Rey," suaraku pelan. "Maaf mengganggu malam-malam.""Tidak," jawabnya cepat. "Ada apa, Rin? Azka demam?""Bukan. Azka baik-baik saja secara fisik." Aku menarik napas. "Tapi... ia masih takut. Pada suara keras. Pada gelap. Ia anak yang cerdas, Rey. Otaknya tajam. Tapi aku takut rasa takutnya akan mengubur semua
Ruang tunggu Polres tidak memiliki jendela. Hanya empat dinding putih dan jam dinding yang detiknya terdengar lebih keras dari detak jantungku. Pukul 14.17. Sudah dua jam Rey masuk ke dalam. Dua jam sejak pintu besi itu menutup di hadapanku, memisahkanku dari Bu Sari. Dari perempuan yang tujuh tahun mengira ia berkuasa atas tubuh anakku.Denis duduk di sampingku. Tangannya kecil, tapi genggamannya kuat. "Mah tidak usah takut," bisiknya. "Om Rey pasti menang."Aku mengangguk. Tapi tenggorokanku kering. Di dalam sana, sejarah Azka sedang diadili. Dan aku hanya bisa menunggu di luar, seperti tujuh tahun lalu saat aku menunggu di luar panti, tidak tahu apa yang terjadi pada anakku di balik pintu.Pintu besi itu terbuka pukul 16.42.Rey keluar. Kemeja putihnya masih rapi, tapi ada satu kancing di pergelangan tangan yang terbuka. Jas abu-abunya ia bawa di tangan, tidak ia pakai. Mungkin karena bahunya basah oleh gerimis tadi, atau mungkin kare







