LOGIN“Halo Calvin, kamu uda di mana?” Calvin mengangkat telponnya sembari menunggu Anna di teras rumahnya.“Liv, aku dari tadi telpon kamu nggak diangkat.”“Sorry, aku tadi di jalan.” Olivia setengah berbohong, ya dia memang di jalan. Tapi alasan sebenarnya karena dia mengira itu telpon dari Ivan dan dia enggan menerimanya.“Aku nggak bisa ke sana, aku ada urusan mendadak.”Olivia terkejut, “Urusan apa?” Karena Olivia telah mengabari Calvin dari seminggu lalu, dan kemarin pun sudah kembali mengingatkan pria itu dan Calvin telah menyetujuinya.“Aku harus temani Anna ke..” Otak Calvin sedang berputar cepat memikirkan alasan yang sebenarnya sejak tadi sudah dia persiapkan, namun melihat penampilan Anna tadi pagi tanpa bra membuat otaknya tiba-tiba membeku.“Oke, aku mengerti.” Ucap Olivia memutus ucapan Calvin.“Liv, kamu marah?”Kembali Olivia terkejut, jujur dia sedikit kesal, namun dia tau bahwa keadaan sudah berbeda, Calvin sudah memiliki Anna, dan Olivia tidak mungkin terus-menerus membe
Calvin mencoba menghubungi Olivia, sejuta alasan sudah muncul di kepalanya, namun Olivia tidak juga mengangkat telpon darinya. Calvin pun menghela nafas berat, ke mana semua wanita cantik ini? Hingga pagi ini pun Anna tidak juga membalas pesannya. Tidak Olivia, tidak Anna, keduanya tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.Biasanya weekend adalah jadwalnya bermain basket, merenggangkan otot-ototnya yang selama lima hari menegang di kantor. Namun kali ini ada misi yang harus segera diselesaikan. Setelah berpakaian casual rapi kaos polo dan juga celana kain pendek, Calvin menyetir kendaraannya menuju rumah Anna.“Pagi Om, saya Calvin. Teman Anna.” Sapa Calvin ketika melihat ayah Anna, Adrian, sedang duduk santai di teras depan sambil membaca koran, ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.Pria paruh baya yang berkacamata itu segera melipat korannya dan memperbaiki posisi duduknya, “Pagi.” jawab Adrian sambil wajahnya menelisik Calvin dari atas ke bawah. Adrian sudah ser
“Vin, besok main basket yuk.” Calvin membaca pesan di handphonenya yang baru saja masuk dari Ivan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya dan juga menyalurkan hasratnya.“Besok aku harus ke sekolah Dariel.” Jawab Calvin sambil mengeringkan rambut di kepalanya.“Kenapa?” balas Ivan.“Ada acara family day di sekolah Dariel dan aku sudah berjanji untuk menemani Olivia.”“Kak Ivan aja yang temani, biar ada alasan ketemu Olivia.” Steffany membalas pesan di grup whatsapp itu.“Kamu memang adik terbaik dan tercantik yang aku punya.”“Baru sadar, Kak?” Jawab Steffany cepat.“Tapi aku harus bilang gimana sama Olivia?” balas Calvin.“Ya bilang aja tiba-tiba ada kerjaan atau apa gitu.” Balas Steffany.“Kerjaan gimana, kan Oliv tau kalau weekend kantor libur.” Sanggah Calvin.“Ya alasan yang lain kek, mau kencan atau apa gitu. Besok pagi baru kamu kabari Olivia kalau kamu tidak bisa hadir, terus Kak Ivan langsung datang aja ke sekolah Dariel. Kan Oliv nggak mungk
Calvin melahap strawberry dari mulut Anna, bahkan ketika strawberry itu sudah berpindah ke dalam mulutnya, Calvin tetap melumat bibir gadis itu seakan tidak merelakan sari-sari strawberry tertinggal di mulut gadis itu.Kelu, itu yang dirasakan Anna ketika pria itu kembali menyentuh bibirnya, bibir yang diam-diam tiap malam selalu dirindukannya. Dan kini dia merasakannya kembali, tetap hangat dan membuat sekujur tubuhnya membeku.Ciuman yang awalnya begitu lembut perlahan berubah menjadi sedikit terburu-buru. Rupanya Anna sudah mulai paham langkah apa yang harus dilakukannya berikutnya. Gadis itu secara otomatis membuka mulutnya, membiarkan lidah Calvin menjelajah di setiap sudut mulutnya. Suara kecupan mulai terdengar dan diilanjutkan suara derit roda kursi yang menandakan kedua insan tersebut semakin merapatkan tubuhnya.Sebelah tangan kiri Calvin mulai merangkul pinggang Anna, sementara tangan kanannya beralih ke rambut Anna melepaskan gulungan rambut yang tertata rapi. Dalam sekeja
Anna membuka bungkus sate dan lontong dan memindahkannya ke dalam piring yang baru saja disiapkan oleh Pak Ilham, sang office boy kantor Calvin.“Pak Ilham, ini untuk bapak.” Ucap Anna memberikan dua bungkus sate padang lengkap dengan lontongnya.“Nggak usah Mbak. Buat Mbak Gianna dan Pak Calvin aja. Saya sebentar lagi mau balik.” Tolak Pak Ilham secara halus.“Engga Pak, ini saya beli memang khusus buat bapak dan keluarga bapak. Saya dan Pak Calvin udah ada kok.”“Diterima saja Pak, rejeki jangan ditolak, apalagi yang ngasi cewek cantik.” Celetuk Calvin yang sedang mengaktifkan komputernya.“Terima kasih, Mbak.” Ucap Pak Ilham tersenyum.“Sama-sama, Pak.”Pak Ilham mengangguk, “Pak Calvin, untuk strawberry-nya sudah saya simpan di kulkas pantry. Mau bapak bawa pulang?”“Oke baik Pak, nanti saya bawa pulang. Pak Ilham kalau mau balik silahkan, nanti saya yang kunci pintu.”“Baik Pak, saya pamit dulu. Mbak, pamit dulu. Sekali lagi terima kasih makanannya.”“Sama-sama. Hati-hati, Pak I
“Anna, kamu jadian sama Calvin?” tangan Anna tiba-tiba ditarik oleh Victor ketika dia keluar dari ruang ganti dan bersiap pulang. Belakangan ini dirinya dan Calvin memang sering jalan bareng, alasannya karena mereka harus memerankan sebagai pasangan baru di depan Ivan dan Olivia. Nampaknya Olivia mulai membuka hati kembali pada Ivan.Anna berusaha melepaskan genggaman tangan Victor, “Aku rasa itu bukan urusan kamu.”“Jadi kamu putusin pertunangan kita karena pasienmu itu? Aku nggak nyangka, ternyata kamu licik banget. Seolah-olah kamu jadi korban, ternyata kamu juga melakukan hal yang sama.”Anna tersenyum, “Hal yang sama? Bukankah seharusnya kamu bersyukur dengan aku memutuskan pertunangan kita, kamu sekarang bebas dan bisa meresmikan hubunganmu dengan Sherly? Kenapa kamu malah marah?”“Aku tidak ada hubungan dengan Sherly! Kami tidak berpacaran.”“Itu bukan urusanku.”“Anna...”“Maaf, aku harus pulang.”Anna melangkah cepat meninggalkan Victor yang mengepalkan tangannya menahan amar
“Mama kamu jodohin kamu lagi sama Randy?” Tanya Calvin pada Olivia ketika sedang menyetir mobil.Olivia menghela nafas panjang, “Iya.” Jawabnya singkat.“Dan?”“Setelah selesai kuliah, mereka mengatur pernikahan kami.”Seketika Calvin langsung menginjak rem mobilnya. “Liv?”Olivia memandang keluar
“Pak Calvin?” Anna terkejut melihat kehadiran pria itu di hadapannya.“Silahkan, Pak.” Ucap Feny dengan senyum manisnya.Anna mengernyitkan dahinya, kenapa pria ini ada di sini? Seharusnya hari ini bukanlah jadwal pemeriksaan rutinnya. Dan kenapa harus menghampiri mejanya sedangkan masih banyak mej
Suasana hari yang buruk membawa Anna ke sebuah cafe langganannya. Sebenarnya dia sudah cukup lama tidak mengunjungi cafe yang juga memiliki bakery ini sejak dia berpacaran dengan Victor. Alasannya karena Victor melarangnya untuk memakan makanan manis terlalu sering karena alasan kesehatan dan juga
“Hei, jangan ngomong seperti itu Kak. Kak Victor itu tampan, pintar, baik, dokter hebat. Kak Victor itu cowok sempurna menurutku. Jangan hanya karena satu penolakan membuat Kak Victor memandang rendah diri sendiri. Setiap orang itu berharga, hanya kadang tidak semua orang bisa menghargainya. Itu ar







